TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ereveld Kalibanteng, Jalan Siliwangi, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, diisi langkah sejumlah peserta yang menyusuri kawasan makam kehormatan, Rabu (2/9/2026).
Sesekali mereka berhenti, mendengarkan penjelasan, lalu memperhatikan nisan.
Kegiatan bertajuk "Untold Stories of World War II: History Has No Voice, But Stories Remain" itu digelar Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting/OGS) bersama Klub Merby.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengikuti penjelasan dalam bahasa Inggris bersama Eveline de Vink, Direktur Netherlands War Graves Foundation di Indonesia atau OGS.
Baca juga: Kebakaran Rumah di Argorejo Semarang, Diduga Korsleting Stop Kontak Dekat Kasur
Baca juga: Widodo C Putro Lega PSIS Sudah Jajal Stadion Jatidiri Semarang, Gelar Internal Game
Kelompok lainnya mengikuti tur dalam bahasa Indonesia bersama Siti Juwindasari, Lead in Communication, Public Relations, & Event Management OGS.
Langkah peserta membawa mereka melewati deretan makam yang tertata rapi. Di beberapa titik, mereka berhenti untuk melihat tanda makam yang kemudian berlanjut pada penjelasan tanda makam tersebut dan kisah orang-orang yang namanya terukir pada nisan.
Di antaranya nisan bertuliskan E H Baronesse van HOEVELL. Peserta diajak mengenal sosok yang tidak asing dalam sejarah Semarang pada masa Hindia Belanda. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam penyelenggaraan Tentoonstelling, sebuah pameran besar yang menghadirkan berbagai kegiatan dan peserta dari sejumlah daerah maupun negara.
Yang menarik, sosok tersebut menjadi perempuan pertama yang terlibat sebagai panitia sekaligus menggagas paviliun khusus perempuan untuk membahas persoalan dan pemberdayaan perempuan pada masa itu.
"'Ada yang tahu siapa beliau?'"
"Beliau adalah perempuan pertama yang menjadi panitia Tentoonstelling tersebut dan beliau pertama kali mengadakan paviliun khusus untuk perempuan membahas atau berdiskusi terkait hal-hal yang berhubungan dengan perempuan dan pemberdayaan perempuan," kata Siti Juwindasari di hadapan para peserta.
Tur tersebut membuat peserta tidak hanya melihat makam sebagai deretan batu nisan. Mereka diajak mengenali siapa yang dimakamkan, periode perang yang melatarbelakanginya, serta bagaimana konflik berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Penjelasan Ereveld Kalibanteng juga tertera di papan informasi. Ereveld Kalibanteng merupakan salah satu dari tujuh makam kehormatan Belanda di Indonesia. Lebih dari 3.000 korban perang, baik warga Belanda maupun Indonesia dari kalangan militer dan sipil, dimakamkan di tempat tersebut.
Mereka merupakan korban Perang Dunia II pada 1939–1945 serta Revolusi Nasional Indonesia 1945–1949. Ereveld Kalibanteng diresmikan pada 22 April 1949 dan hingga kini dikelola OGS.
Di antara deretan makam tersebut terdapat tanda yang menunjukkan karakter khusus Ereveld Kalibanteng sebagai makam kehormatan perempuan dan anak-anak. Sejumlah salib berbentuk menyerupai bunga dan nisan berukuran lebih kecil menjadi salah satu penandanya.
Peserta kemudian diarahkan ke sejumlah monumen. Ada Monumen Perempuan yang menggambarkan perjuangan perempuan pada masa perang. Di kawasan yang sama juga terdapat Makam Simbolis Perempuan Tak Dikenal serta Monumen Anak Laki-laki di Kamp Interniran.
Setelah menyusuri kawasan makam, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi. Eveline de Vink memaparkan sejarah Perang Dunia II dan berbagai peristiwa yang melatarbelakanginya.
Sesi terakhir mempertemukan Eveline dengan Inge Dümpel (84), yang membagikan pengalaman masa kecilnya kepada peserta. Cerita Inge menjadi gambaran mengenai kehidupan masyarakat yang harus menjalani masa kanak-kanak di tengah situasi perang.
Satu di antara peserta, Morgan mengatakan, tur di Ereveld Kalibanteng memberinya kesempatan melihat sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, kawasan makam tersebut tidak hanya memperlihatkan jejak sejarah dari sisi militer, tetapi juga kisah warga sipil Belanda yang turut mengalami dampak perang.
"Kami melihat dari perspektif sejarah yang berbeda, dari sisi orang-orang Belanda di Indonesia bahwa banyak juga warga sipil Belanda yang mengalami kejadian traumatik. Jadi bahwa perang itu di semua sisi juga meninggalkan korban-korban gitu," ujarnya.
Manajer Klub Merby, Krisna Piastika mengatakan kegiatan itu dilaksanakan agar peserta mendapatkan pengalaman belajar sejarah yang berbeda.
Para peserta diajak berkeliling mengenal Ereveld, kawasan pemakaman kehormatan yang menjadi tempat peristirahatan para korban Perang Dunia II. Di lokasi ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa sejarah, tetapi juga diajak memahami kisah-kisah kemanusiaan yang tersimpan di balik setiap nama yang terukir pada nisan.
Menurut Krisna, keberadaan makam dan monumen di Ereveld Kalibanteng membantu peserta melihat dampak perang dari sisi kehidupan masyarakat.
"Namun, di Ereveld Kalibanteng, kita bisa melihat bagaimana perang memengaruhi kehidupan masyarakat biasa," jelasnya.
Dampak tersebut antara lain kehilangan anggota keluarga, kelaparan, berpindah tempat tinggal, terputusnya pendidikan, serta rasa takut yang dialami masyarakat selama perang.
"Sejarah perang bukan hanya tentang strategi militer, kemenangan, atau kekalahan, tetapi juga tentang manusia dan nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali menjadi korban dari sebuah konflik," katanya. (idy)