Berharap Hujan Turun, Warga Gelar Ritual dan Nikahkan Dua Anak Perempuan yang Berumur 6 dan 10 Tahun
Randy P.F Hutagaol September 02, 2026 10:53 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Di tengah kekeringan yang melanda daerah mereka, viral warga menggelar ritual tak biasa.

Mereka menikahkan dua anak perempuan secara simbolis.

Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk kepercayaan masyarakat setempat untuk memohon turunnya hujan.

Mereka juga memohon agar musim kering yang melanda wilayah mereka segera berlalu.

Dilansir dari The Times of India, Rabu (2/9/2026) upacara berlangsung di Desa Kotipalli, wilayah Sidlaghatta taluk, sekitar 65 kilometer dari Bengaluru, Karnataka, India.

Dalam ritual itu, seorang anak perempuan berusia 10 tahun didandani dan diperlakukan sebagai pengantin pria.

Sedangkan anak perempuan berusia enam tahun berperan sebagai pengantin wanita.

Keduanya mengikuti sejumlah rangkaian ritual yang menyerupai prosesi pernikahan tradisional.

Seorang purohit atau pemuka agama memimpin upacara tersebut.

Termasuk ritual tradisional dengan memperlihatkan bintang Arundhati kepada kedua anak yang dianggap sebagai pasangan pengantin.

Sejumlah perempuan di desa juga turut ambil bagian dengan menyanyikan lagu-lagu tradisional yang biasanya dinyanyikan dalam berbagai tahapan pernikahan.

Suasana ritual pun dibuat menyerupai pesta pernikahan pada umumnya.

Setelah prosesi selesai, warga melakukan aarti dan memberikan berkat kepada kedua anak tersebut.

Beberapa warga bahkan memberikan hadiah berupa uang tunai kepada keduanya.

Menurut warga setempat, ritual semacam ini bukan kali pertama dilakukan di wilayah tersebut.

Tradisi itu dipercaya telah dilakukan ketika desa menghadapi kekeringan pada masa-masa sebelumnya.

Warga meyakini ritual tersebut dapat membantu mendatangkan hujan.

Mereka bahkan mengklaim hujan turun setelah ritual serupa digelar pada musim kemarau sebelumnya.

Seorang warga bernama Pillamma, 60, mengatakan dirinya pernah menyaksikan ritual serupa ketika wilayah tersebut mengalami musim kering.

“Penduduk desa biasa melakukan berbagai ritual, termasuk pernikahan simbolis yang melibatkan anak-anak, dengan harapan membawa hujan,” ujarnya.

Warga lainnya, Pushpa, mengatakan rangkaian ritual kali ini berlangsung selama lima hari.

Selama periode tersebut, masyarakat melakukan Gowri pooja setiap hari sebagai bagian dari tradisi keagamaan mereka.

Rangkaian ritual kemudian dilanjutkan dengan membawa patung tanah liat yang disebut ‘maleraya’.

Patung tersebut diyakini merepresentasikan Varuna, dewa hujan dalam kepercayaan Hindu.

Patung itu kemudian dibawa dalam sebuah prosesi sebelum akhirnya direndam sebagai bagian dari ritual untuk memohon turunnya hujan.

Praktik tradisional untuk memohon hujan seperti ini diketahui masih ditemukan di sejumlah wilayah pedesaan Karnataka ketika kekeringan berlangsung cukup lama.

Beberapa tahun sebelumnya, ritual serupa dilaporkan dilakukan di Hirekattigenahalli, wilayah Chintamani taluk, serta Mogalakuppe di Chikkaballapura taluk.

Saat itu, masyarakat dilaporkan menggelar pernikahan simbolis yang melibatkan dua anak laki-laki.

Selain pernikahan simbolis antar anak, sejumlah masyarakat pedesaan di Karnataka juga masih menjalankan tradisi lain untuk memohon hujan.

Di beberapa daerah, warga bahkan pernah menggelar pernikahan simbolis antara keledai maupun katak sebagai bagian dari ritual ketika musim kemarau berkepanjangan melanda wilayah mereka.

(cr19/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.