Mahasiswa Nonmuslim Temukan Ruang Kebersamaan di UINSU 
Eti Wahyuni September 02, 2026 10:53 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sumatera Utara (UINSU) 2026 yang dilaksanakan Senin (1/9) tidak hanya menjadi momentum penyambutan mahasiswa baru ke lingkungan kampus.

Di balik rangkaian acara seremonial, terselip cerita tentang keberagaman dan bagaimana mahasiswa dari latar belakang berbeda menemukan ruang kebersamaan.

Selain mahasiswa dan mahasiswi muslim yang memenuhi tempat acara berlangsung, terlihat juga beberapa mahasiswa nonmuslim yang ditandai dengan seragam mereka yang berbeda.

Pada pembukaan PBAK UINSU 2026, rangkaian kegiatan diawali dengan agenda seremonial yang melibatkan pimpinan universitas, panitia, mentor, serta mahasiswa baru.

Peserta kemudian mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkenalkan kehidupan akademik dan kemahasiswaan di lingkungan UINSU.

Baca juga: 4.359 Mahasiswa Baru UINSU Ikuti PBAK 2026, Berikut Pesan Rektor Profesor Nurhayati

Debby Prasetya Ginting, Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, mengungkap bagaimana perasaanya ketika mengikuti PBAK hari pertama di UINSU.

Mahasiswi baru ini berasal dari Kuala, Langkat, lulus masuk UINSU melalui jalur SNBT. Ia merupakan mahasiswa nonmuslim yang mengikuti PBAK UINSU 2026 bersama ratusan mahasiswa lainnya.

Meski berada di lingkungan perguruan tinggi Islam, ia mengaku tidak merasa terasing ketika berbaur dengan mahasiswa muslim selama kegiatan berlangsung.

Suasana PBAK yang dipenuhi mahasiswa dari berbagai daerah membuatnya perlahan merasa menjadi bagian dari lingkungan kampus. Interaksi dalam kelompok, kegiatan bersama, hingga suasana keakraban selama PBAK menjadi pengalaman tersendiri baginya.

“Awalnya mungkin ada rasa canggung karena saya berbeda keyakinan. Tapi setelah ikut kegiatan, saya juga berinteraksi dengan teman-teman, kakak-kakak panitia, ternyata mereka menerima saya dengan baik dan para peserta juga ramah,” ujar Debby.

Menurutnya, perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk membangun pertemanan. Melalui PBAK, ia mendapat kesempatan untuk mengenal lebih banyak karakter dan latar belakang mahasiswa yang berbeda.

Sebagai minoritas, Debby juga mengaku hampir tidak ada tantangan secara spesifik baginya dalam berbaur dengan mahasiswa dan mahasiswi yang mayoritas muslim.

“Kebetulan waktu di sekolah menengah atas dulu saya juga minoritas, jadi berada di sini dengan berbeda keyakinan juga bukan hal yang terlalu sulit bagi saya. Ditambah lagi beberapa dari mereka dengan ramah mengajak saya ngobrol duluan untuk sekadar berkenalan, jadi saya merasa nyaman saja berada di tengah-tengah mereka,” tutur Debby.

Hal ini menjadi bukti bahwa keragaman beragama bukanlah hal yang menghambat para mahasiswa untuk berbaur.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu sisi lain dari pelaksanaan PBAK yang biasanya identik dengan kegiatan pengenalan akademik, penyampaian materi, serta berbagai agenda seremonial kampus.

Rektor UINSU, Prof Dr Nurhayati, MAg, menyatakan ketika berdialog dengan mahasiswa nonmuslim bahwa keberagaman dijunjung tinggi di kampus UINSU.

Menurutnya, mahasiswa tidak salah memilih UINSU. Dengan latar belakang apa pun, mahasiswa UINSU dapat mengembangkan bakat dan potensi yang mereka punya dan akan didukung penuh oleh kampus.

Cerita mahasiswa nonmuslim tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah agenda PBAK yang berlangsung secara seremonial, terdapat pengalaman personal yang tidak kalah penting.

Bagaimana seorang mahasiswa menemukan rasa diterima di lingkungan baru, meski datang dengan latar belakang yang berbeda.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.