Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aksi yang digelar oleh mahasiswa dari berbagai kampus di DIY yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil berakhir ricuh.
Massa aksi terlibat bentrok dengan kelompok masyarakat saat menggelar aksi di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam kemarin.
Tercatat, ada lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY yang dilaporkan terluka dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. mengatakan penanganan aksi-aksi mahasiswa cenderung ganjil.
Tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di berbagai termasuk dalam peristiwa-peristiwa politik sebelumnya.
“Cenderung agak ganjil ya, cenderung agak istilahnya menghadap-hadapkan mahasiswa dengan kelompok masyarakat yang lain. Jadi pola ini menggambarkan kepolisian kita tidak profesional dalam mencoba untuk memfasilitasi istilahnya unjuk rasa atau penyampaian kebebasan berekspresi,” katanya, Rabu (2/9/2026) malam.
Masduki menilai polisi seharusnya melihat aksi-aksi mahasiswa sebagai bagian dari penyampaian aspirasi, yang menjadi hak warga negara dalam kerangka kebebasan berekspresi.
Sementara itu, polisi bertugas memfasilitasi serta memberikan ruang agar penyampaian aspirasi tersebut direspons oleh pihak-pihak terkait.
Polisi juga berkewajiban mencegah adanya konflik horizontal.
Baca juga: Sejumlah Mahasiswa Massa Aksi di Jalan Jenderal Sudirman Jogja Dilaporkan Butuh Bantuan Medis
Namun sebaliknya, ketika aksi mahasiswa dilakukan di lokasi-lokasi strategis, polisi cenderung memosisikan berlawanan atau diframing mengganggu aktivitas lalu lintas.
Pun pihak kepolisian selalu menekankan pada pembatasan waktu aksi tersebut.
Dari pandangannya, alasan tersebut bersifat prosedural, nonkaritatif, namun berbasis situasional.
“Nah yang paling khas, yang paling brutal dari pendekatan pengelolaan aksi masyarakat oleh kepolisian adalah melibatkan organisasi-organisasi masyarakat yang terorganisir, yang sebetulnya mereka itu diberi ruang semata-mata untuk mencoba ikut menghalau untuk menjadi tandingan,” terangnya.
“Bukannya mereka (ormas) dikelola untuk ikut mendukung, mengamankan, dan men-support suara kritis mahasiswa, tapi mereka menjadi massa alternatif atau organik yang justru dikesankan atau diposisikan berlawanan.Jadi ini kan satu trik yang agak ganjil dan tentu dalam batas tertentu, polisi justru bagian dari atau apa yang dilakukan kepolisian ini dapat memicu konflik horizontal,” sambungnya.
Hal itu menegaskan kepolisian tidak hanya tidak profesional, namun juga tidak mampu mengelola aspirasi publik, khususnya mahasiswa.
Polisi dipandang ikut 'bermain' dengan melibatkan sejumlah ormas.
Ia pun mendorong adanya evaluasi kinerja kepolisian agar penyampaian aspirasi tidak lagi menimbulkan korban.
“Mahasiswa itu suaranya independen, harus didukung, ketika ada korban begini, wajar jika publik menyalahkan kepolisian kita. Meskipun tentu kita harapkan korban di-support kampus. Yang lebih penting pertanggungjawaban kepolisian dalam mengamankan aksi selama ini,” pungkasnya.
Dari enam mahasiswa yang terluka, lima di antaranya merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sementara satu mahasiswa lainnya merupakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si mengatakan dua mahasiswa mengalami trauma dan sesak napas, satu mahasiswa mengalami luka robek di dahi, satu mahasiswa mengalami robek di bibir, dan satu mahasiswa mengalami luka memar pelipis, perut, dan kepala belakang.
“Jadi kalau kita lihat lukanya lebam, memar, ada yang sesak nafas karena trauma, ada yang robek di mulut, ada yang dijahit di sini (pelipis) yang paling agak parah. Sampai sekitar setengah satu kemarin Alhamdulillah mereka sudah bisa keluar dari Rumah Sakit Panti Rapih,” katanya dalam keterangan pers di UGM, Rabu (2/9/2026).
“Ada enam mahasiswa yang terluka, lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY. Kalau keterangan dari mahasiswa ada yang kena anteman (hantaman). Dan kalau kita lihat memang beberapa mungkin ada yang kena pukul, ya mungkin ada yang kena tendang, dan juga kena siku dan sebagainya,” sambungnya.
Baca juga: Buntut 5 Mahasiswa UGM Terluka Saat Aksi di Simpang Gramedia
Ia menerangkan awalnya aksi berlangsung damai dan kondusif.
Massa aksi mulai berdatangan sekitar pukul 16.30. Namun sekitar pukul 19.00, ia melihat adanya bentuk-bentuk provokasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu.
Situasi sempat memanas dan massa aksi sempat dipukul mundur.
Namun tak lama kemudian situasi kembali kondusif dan aksi kembali dilanjutkan.
Sayangnya, sekitar pukul 22.00 terjadi konflik kembali dan mahasiswa dipukul mundur disertai aksi kekerasan.
“Sekitar jam 22.00 teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi. Yang ini karena adik-adik (mahasiswa) tidak anarkis, tidak ribut dan sebagainya, tapi kemudian dipukul mundur dengan tindakan-tindakan yang anarkis,” terangnya.
Pihak UGM pun berkomitmen untuk melindungi mahasiswa termasuk mempertimbangkan jalur hukum.
Saat ini, para mahasiswa yang terluka tengah mengumpulkan data-data yang diperlukan.
“Kemarin teman-teman mahasiswa sudah kita minta untuk mengumpulkan data-data. Ya nanti biar teman-teman mahasiswa yang akan bergerak ya. Sehingga nanti mereka menggunakan data-data dari sisi bukti-bukti dan sebagainya. Ya nanti kita bantu untuk mengawal teman-teman mahasiswa itu,” katanya. (*)