Siapa Menikmati Pertumbuhan Ekonomi Nasional?
Dewi Agustina September 03, 2026 06:32 AM

 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Muhammad Syarkawi Rauf
Dosen FEB Unhas/ Ketua KPPU RI 2015-2018)

 

EKONOM senior, Iwan Jaya Azis, professor ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) dan pengajar di Cornell University, Amerika Serikat (AS) banyak merujuk pada “bowl model” (model mangkuk) untuk menjelaskan interaksi antara pulau Jawa sebagai pusat perekonomian nasional (centre) dengan daerah-daerah di luar Jawa sebagai daerah pinggiran (periphery).

Hubungan centre (core) – periphery di Indonesia dalam beberapa dekade telah melahirkan ketimpangan distribusi sumber daya, aliran modal, dan tingginya polarisasi ekonomi yang berpusat di pulau Jawa. 

Secara teoritis, dalam ilmu ekonomi regional (regional science), wilayah tidak dipandang datar, melainkan memiliki "gravitasi" ekonomi yang membentuk cekungan seperti mangkuk.

Dasar mangkuk dipandang sebagai centre atau core, yaitu titik terendah yang menjadi pusat gravitasi.

Dalam kasus Indonesia, diwakili oleh kawasan metropolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) atau dalam konteks lebih luas, Pulau Jawa.

Dalam posisi sebagai pusat gravitasi, semua daya tarik ekonomi secara alamiah mengalir dan terpusat di Jabodetabek, dalam konteks lebih luas Pulau Jawa. 

Sementara, pinggiran mangkuk yang digambarkan sebagai daerah pinggiran (periphery) diwakili oleh daerah di luar Jawa. 

Selama ini, model interaksi antara pusat dengan daerah menghasilkan ketimpangan dengan backwash effect (efek polarisasi), yaitu seluruh faktor produksi bernilai tinggi, seperti modal, tenaga kerja terampil, dan bahan baku meluncur ke dasar mangkuk sebagai pusat ekonomi. 

Wilayah pusat (centre) memiliki infrastruktur yang lengkap, aglomerasi ekonomi yang efisien, sekaligus sebagai pasar yang besar. 

Tidak terjadi spread effect (efek menetes ke bawah). Idealnya, wilayah pusat ekonomi yang maju akan memberikan spread effect, yaitu meneteskan kemakmuran kembali ke daerah pinggiran (mengalir naik ke pinggir mangkuk). 

Namun, faktanya dalam hubungan pusat dengan daerah di Indonesia, spread effect sangat lemah akibat hambatan logistik dan biaya transaksi inter-regional (antar wilayah) yang tinggi.

Akibatnya, wilayah pusat justru terus menerus menyedot potensi ekonomi dari daerah pinggiran.

Tidak bisa dihindari, kontribusi Pulau Jawa, sebagai pusat perekonomian nasional (dasar mangkuk) terhadap Gross Domestic Product (GDP) pada kuartal kedua 2026 sangat dominan, yaitu sekitar 58,86 persen. 

Tiga propinsi dengan kontribusi terbesar adalah:

  • DKI Jakarta sekitar 16,49 persen
  • Jawa Barat (Jabar) 13,49 persen
  • Jawa Timur (Jatim) 14,94 persen
  • Jawa Tengah (Jateng) 8,91 persen
  • Banten 4,07 persen terhadap GDP secara nasional

Sementara kontribusi daerah-daerah di luar Jawa hanya 0,10 – 4,80 persen terhadap kue ekonomi nasional.

Kontribusi terendah adalah propinsi Papua Pegunungan hanya 0,10 persen dan tertinggi adalah Sumatra Utara (Sumut) 4,80 persen. 

Hanya ada lima propinsi di luar Jawa yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian nasional relatif besar, yaitu:

  • Sumut 4,80 persen
  • Riau 4,29 persen
  • Sumatra Selatan (Sumsel) 2,93 persen
  • Sulawesi Selatan (Sulsel) 3,06 persen
  • Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar 4,24 persen

Kontribusi daerah lainnya hanya sekitar 0,10 persen, terendah (propinsi Papua Pegunungan) hingga tertinggi sekitar 2,22 persen (Propinsi Lampung) terhadap GDP secara nasional. 

Dari 22 propinsi yang terdapat di Kawasan Timur Indonesia (KTI), hanya enam daerah yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian nasional lebih besar dari satu persen.

Selebihnya, 16 daerah propinsi memberikan kontribusi kurang dari satu persen. 

Akibatnya, sumbangan daerah-daerah di luar Pulau Jawa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga sangat kecil, yaitu sekitar 1,97 persen. 

Lebih dari separuh disumbangkan oleh daerah-daerah di Pulau Jawa sebesar 3,32 persen dari 5,29 persen pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2026.

Hanya ada dua daerah propinsi di KTI yang memiliki sumbangan relatif besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu:

  • Kaltim sekitar 0,14 persen
  • Sulsel sebesar 0,17 persen

Daerah lainnya memberikan sumbangan sangat kecil, yaitu kurang dari 0,08 persen (Propinsi Sulawesi Tengah). 

Secara keseluruhan, sumbangan daerah-daerah di KTI terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2026 hanya sekitar 0,95 persen. Dan Pulau Sumatra memberikan sumbangsih sekitar 1,02 persen. 

Singkatnya, akibat model interaksi antara Jawa dengan luar Jawa seperti “bowl model”, sekitar 60 persen dari kue ekonomi nasional dinikmati oleh Pulau Jawa sebagai pusat perekonomian nasional.

Dan daerah-daerah pinggiran di luar Jawa menikmati sekitar 40 persen dari kue ekonomi nasional. 

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mengoreksi model interaksi antara pusat perekonomian nasional (Pulau Jawa) dengan daerah (luar Jawa)?

Langkah pertama, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa. 

Pusat pertumbuhan ekonomi Pulau Sulawesi dapat dipusatkan di Sulsel, Pulau Kalimantan di Kaltim, Bali – Nusa Tenggara di Bali, Maluku – Papua di Papua dan Pulau Sumatera di Sumut.

Langkah kedua, memikirkan ulang model pelaksanaan desentralisasi atau otonomi daerah yang saat ini berbasis di kabupaten/kota dengan skala ekonomi sangat kecil, menjadi otonomi daerah berbasis propinsi dengan skala ekonomi lebih besar. 

Akhirnya, kita perlu mengambil hikmah dari kunjungan bersejarah Deng Xiaoping tahun 1978 ke Singapura yang melahirkan ide membangun “a thousend Singapore” di China dengan spesifikasi industri yang berbeda antar daerah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.