Keraton Solo Memanas Lagi, Akses Menuje ke Pelataran Ditutup Pagar Seng
Hari Susmayanti September 03, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SOLO - Kerenggangan di internal Keraton Kasunanan Surakarta Jawa Tengah tampaknya belum bisa mereda.

Perpecahan di Keraton Kasunanan Surakarta kembali terjadi setelah PB XIII wafat pada 2 November 2025.

Dua putra PB XIII, KGPAA Gusti Purboyo dan KGPH Hangabehi, sama-sama mengklaim sebagai Pakubuwono XIV.

Sejak saat itu, kedua belah pihak belum bisa mencari titik semua.

Bahkan perselisihan dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta Jawa Tengah kembali memanas setelah pemasangan pagar seng pada Rabu (2/9/2026).

Pagar seng itu dipasang oleh Kubu Pakubuwono XIV Hangabehi untuk  menutup akses dari Talangpaten menuju Pelataran.

Pemasangan seng ini merupakan aksi balasan terhadap KGPAA Gusti Purboyo karena sebelumnya menggembok sejumlah pintu lingkungan Keraton.

Dikutip dari Tribun Solo, Pengageng Pasiten PB XIV Purbaya, GKR Dewi Ratih Widyasari, mengaku mengetahui adanya penutupan akses setelah mendapat laporan pada Rabu sore.

Sebelumnya, pihaknya tidak pernah mendapatkan informasi soal penutupan menggunakan pagar seng ini.

“Saya kurang tahu pastinya yang diseng mana aja. Tapi yang kita tahu dari Pakubuwanan, akses kita semua diseng. Tiba-tiba sore saya dapat laporan. Nggak ada omongan apa-apa dari pihak sana,” ungkapnya.

Menurut GKR Ratih, pemasangan pagar seng membuat sejumlah akses yang biasa digunakan kubu PB XIV Purbaya menjadi tertutup.

Beberapa di antaranya yakni akses menuju Pelataran, Wiworokenyo, Pakubuwanan, hingga Talangpaten.

 “Akses tertutup kita tidak bisa ke Pelataran, kita dari Pakubuwanan ditutup, dari Wiworokenyo ditutup, Talangpaten juga ditutup sore ini. Ya kita tidak bisa mengakses Pelataran,” jelasnya.

Menurut GKR Ratih, penutupan sejumlah akses ini mengganggu akses menuju ke Pelataran.

Padahal, Pelataraan adalah salah satu lokasi penting untuk berbagai prosesi adat Keraton.

Terkait dengan pemasangan pagar seng ini, GKR Ratih mengaku sempat bertemu dengan Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng.

Dalam pertemuan tersebut, GKR Ratih menyebut Gusti Moeng menyampaikan bahwa pemasangan pagar seng merupakan respons atas aksi gembok-gembokan yang dilakukan sebelumnya.

“Seng pertama-tama tadi dari Langen Katong tadi. Lalu mereka lari ke sini. Saya tanya tadi sempat ketemu Gusti Moeng ‘Kenapa musti diseng-seng. Lah kowe nggembok-nggemboki yo aku nggembok-nggemboki balik’,” ungkapnya menirukan perkataan Gusti Moeng.

Selain aktivitas harian, GKR Ratih mengkhawatirkan penutupan akses tersebut berdampak pada pelaksanaan prosesi adat.

Ia menjelaskan Pelataran menjadi lokasi berbagai kegiatan adat, termasuk caos dahar yang berlangsung setiap Kamis. Dalam waktu dekat, Keraton juga memiliki agenda besar pada Oktober 2026.

“Semua prosesi adat di situ. Kita caos dahar setiap Kamis muter di Keraton kita nggak bisa caos dahar di sana. Belum ada acara besar. Nanti bulan Oktober Tingalan Jumenengan Sinuhun. Kita nggak bisa akses ke sana kalah tidak membuka akses itu,” ungkapnya.

Baca juga: Mengenal Ruang Melamun, Markas Rahasia Para Pencari Arsip Tua di Jogja

Kubu Purbaya Pilih Jalur Hukum

Meski mengaku memiliki legalitas untuk membuka kembali akses tersebut, GKR Ratih menegaskan pihaknya tidak ingin mengambil langkah secara paksa.

Ia mengatakan kubunya memilih menghindari benturan fisik dan menyerahkan persoalan tersebut melalui proses hukum.

“Kita tadi sudah koordinasi dengan Pak Kapolres. Kita paksa buka lagi bisa. Karena yang punya legalitas kita. Tapi kita tidak ingin ada benturan. Kita lihat aja laporannya. Kita proses hukum aja. Kita nggak mau fisik atau apa pun. Karena mereka memakai massa memakai kekerasan. Kita memakainya secara hukum. Kita serahkan ke negara prosesnya seperti apa. Iya (lapor ke Polresta Solo),” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, memberikan penjelasan berbeda mengenai pemasangan pagar seng tersebut.

Menurutnya, pemasangan pagar merupakan bagian dari rencana revitalisasi Keraton yang akan dimulai pada Kamis (3/9/2026).

KPH Eddy mengatakan revitalisasi akan dimulai di sejumlah titik, termasuk Pendhapa Parangkarso dan Keraton Kulon. Area penyimpanan gamelan juga masuk dalam rencana revitalisasi.

“Tempat penyimpanan gamelan itu juga masuk revitalisasi. Kita sudah mulai besok pagi. Sama Pakubuwanan juga segera kita mulai. Sebentar lagi mulai juga Keraton Kulon. Di depan ada semacam pengumuman tentang revitalisasi. Yang menuju ke akses itu Pakubuwanan seluruhnya kita tutup agar tidak ada gangguan terhadap revitalisasi. Yang hari ini 2 titik Parangkarso segera Keraton Kulon. Ya sampai selesai. Mudah-mudahan lebih cepat,” jelasnya.

Terkait akses menuju Pelataran, KPH Eddy menyebut pihak PB XIV Purbaya masih dapat melewati jalur lain melalui bagian depan Keraton.

“Pelataran kalau perlu bisa lewat depan. Monggolah kita ini tidak berjalan sendiri. Keraton bersama Kementerian Kebudayaan. Kalau menempuh itu monggo saja,” jelasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.