Pendampingan Psikososial Penyintas Bencana Harus Berkelanjutan, Debi Barus: Keluarga Jadi Kunci
Nofri Fuka September 03, 2026 04:47 PM

TRIUNFLORES.COM, MAUMERE - Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir. Penyintas membutuhkan pendampingan psikososial secara berkelanjutan karena proses pemulihan setiap orang berbeda, baik secara psikologis, sosial, maupun dalam menghadapi kehilangan yang dialami.

Hal tersebut disampaikan Debi Angelina Br. Barus, S.Psi., M.Psi., dosen Program Studi Psikologi Universitas Nusa Nipa Maumere, dalam program Eksklusif Flores Bicara TRIBUNFLORES.COM, Selasa (1/9/2026) sore.

Debi baru kembali dari Manggarai setelah terlibat dalam pendampingan psikososial bagi penyintas bencana gempa Flores. Dalam kegiatan tersebut, Universitas Nusa Nipa bekerja sama dengan World Vision International (WVI) dan sejumlah pihak lainnya.

Tim yang diterjunkan terdiri dari tiga dosen dan 11 mahasiswa. Pendampingan dilakukan di sejumlah titik pengungsian, antara lain di wilayah Ruteng dan wilayah lainnya di Manggarai, dengan fokus utama pada anak-anak, namun tetap memperhatikan kebutuhan remaja dan orang dewasa.

 

Baca juga: Enam Ibu Hamil dan Satu Pasien Dievakuasi dari RSUD Ruteng Pascagempa Flores

 

 

Menurut Debi, langkah awal dalam pendampingan adalah melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan psikologis penyintas.

Asesmen tersebut bukan untuk memberikan diagnosis klinis seperti trauma atau PTSD, melainkan untuk mengetahui kebutuhan psikologis yang paling mendesak.

“Yang kita lakukan assessment itu dengan menggunakan tools screening kebutuhan psikologis. Jadi kita ingin lihat kebutuhan psikologis apa yang mendesak,” jelasnya.

Dari pendampingan yang dilakukan, kebutuhan yang banyak ditemukan adalah rasa takut dan kecemasan. Pada anak-anak, salah satu hal yang cukup menonjol adalah ketakutan ketika berpisah atau ditinggalkan oleh orang tua maupun pengasuh.

Debi menegaskan, rasa takut, cemas, dan tidak aman setelah bencana merupakan respons yang wajar.

Karena itu, masyarakat tidak boleh terburu-buru memberikan label bahwa seseorang mengalami trauma atau PTSD hanya karena terlihat takut atau cemas setelah gempa.

“Ketika kita mengalami musibah, kita punya rasa takut, rasa cemas, rasa tidak aman, itu normal,” katanya.

PFA Bukan untuk Mendiagnosis

Dalam pendampingan psikososial dikenal istilah Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. PFA bertujuan memberikan dukungan awal kepada penyintas, terutama untuk membantu menghadirkan kembali rasa aman.

Debi menjelaskan, PFA dapat dilakukan oleh masyarakat umum yang telah memahami prinsip dasarnya. PFA bukan tindakan untuk mendiagnosis gangguan psikologis. Ia memperkenalkan prinsip 3L, yakni Look, Listen, Link.

Look berarti melihat dan mengamati kondisi penyintas. Listen berarti mendengarkan keluhan serta pengalaman mereka. Sementara Link berarti menghubungkan penyintas dengan bantuan atau tenaga profesional apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“PFA itu bukan untuk mendiagnosis, tapi memberikan pertolongan,” tegasnya.

Apabila seseorang menunjukkan kondisi yang sangat berat, tidak mampu mengendalikan emosi, atau mengalami gejala yang membutuhkan penanganan khusus, maka penyintas perlu dirujuk kepada tenaga profesional seperti psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan.

Sementara itu, Psychosocial Support (PSS) memiliki cakupan yang lebih luas dan berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya dilakukan pada saat tanggap darurat, tetapi diteruskan selama proses pemulihan penyintas.

Anak Membutuhkan Rasa Aman dan Ruang untuk Didengar

Dalam pendampingan terhadap anak-anak, metode yang digunakan dapat disesuaikan dengan dunia anak. Aktivitas seperti bermain, bernyanyi, menggambar, maupun kegiatan menyenangkan lainnya dapat membantu mengalihkan perhatian anak dari situasi bencana dan menciptakan kembali rasa aman.

Namun, Debi mengingatkan agar aktivitas tersebut tidak serta-merta disebut sebagai “trauma healing”.

Menurutnya, istilah trauma healing sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan karena trauma merupakan kondisi yang membutuhkan asesmen dan penanganan profesional.

“Tidak semua orang yang takut setelah bencana mengalami trauma,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting, anak-anak membutuhkan ruang untuk didengarkan. Dari pengalaman pendampingannya di sejumlah wilayah terdampak bencana, Debi menemukan bahwa persoalan anak sering kali tidak hanya berkaitan dengan bencana.

Ada persoalan keluarga yang sudah terjadi sebelum bencana, seperti anak yang tidak diasuh langsung oleh orang tua karena orang tua merantau, perceraian, maupun kondisi keluarga lainnya.

Karena itu, menurutnya, persoalan psikososial penyintas sering kali bersifat berlapis.

“Bukan trauma sebenarnya. Tapi dia luka,” katanya.

Ketahanan Keluarga Harus Diperkuat

Debi menilai keluarga menjadi salah satu elemen paling penting dalam keberlanjutan pemulihan penyintas.

Relawan dan tenaga profesional memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya. Karena itu, setelah pendampingan awal selesai, keluarga harus mampu menjadi sumber dukungan emosional bagi anggotanya.

“Yang memberikan dukungan secara emosional siapa? Keluarga,” ujarnya.

Menurut Debi, ketahanan keluarga perlu diperkuat jauh sebelum bencana terjadi. Setiap anggota keluarga perlu memahami peran, fungsi, dan tanggung jawab masing-masing sehingga keluarga memiliki fondasi yang kuat ketika menghadapi situasi krisis.

Ketahanan keluarga juga dapat diperkuat melalui edukasi kebencanaan, termasuk bagaimana orang tua mendampingi anak ketika terjadi bencana dan bagaimana keluarga mengelola ketakutan maupun kecemasan.

Upaya tersebut, kata Debi, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga psikologi. Gereja, sekolah, tokoh adat, masyarakat, dan berbagai lembaga lainnya perlu mengambil peran.

Guru dan Masyarakat Bisa Dibekali PFA

Penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu cara agar pendampingan tidak berhenti ketika relawan meninggalkan lokasi bencana.

Debi menceritakan bahwa WVI juga mengundang guru-guru untuk mendapatkan pelatihan PFA. Dalam salah satu kegiatan, sekitar 17 guru mengikuti pelatihan selama satu hari.

Setelah mendapatkan pemahaman mengenai PFA, para guru kemudian dapat membantu memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak di lingkungan sekolah maupun posko pengungsian.

Menurut Debi, pola tersebut penting karena penyintas membutuhkan dukungan dari orang-orang yang berada dekat dengan mereka setiap hari.

Dengan demikian, ketika relawan sudah kembali ke daerah asal, masih ada keluarga, guru, komunitas, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang dapat melanjutkan dukungan.

Pemulihan Tidak Bisa Dibatasi Satu atau Dua Bulan

Debi menekankan bahwa proses recovery pascabencana tidak dapat ditentukan dengan batas waktu yang seragam.

Setiap penyintas memiliki pengalaman, kehilangan, kondisi keluarga, dan kemampuan beradaptasi yang berbeda.

Ia mencontohkan seorang ibu yang rumahnya hancur akibat gempa. Rumah tersebut baru dipersiapkan untuk menyambut kelahiran bayinya, bahkan sang ibu baru mengeluarkan biaya cukup besar untuk memperbaiki rumah. Dalam bencana tersebut, ia bahkan harus bertahan di bawah reruntuhan demi melindungi bayinya.

Pengalaman seperti itu, menurut Debi, menunjukkan bahwa beban psikologis penyintas tidak hanya berkaitan dengan rasa takut terhadap gempa, tetapi juga kehilangan rumah, kehilangan harta benda, kekhawatiran terhadap masa depan, hingga pengalaman hidup yang mengancam keselamatan.

Karena itu, pendampingan tidak dapat berhenti setelah satu atau dua bulan.

“Proses recovery itu panjang,” tegasnya.

Pemerintah dan Semua Elemen Harus Berkolaborasi

Debi mendorong pemerintah untuk membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan sekaligus melakukan pemetaan kebutuhan penyintas.

Tidak semua penyintas membutuhkan bentuk intervensi yang sama. Ada yang cukup mendapatkan dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan, sementara sebagian lainnya membutuhkan pendampingan profesional.

Karena itu, program pemulihan perlu dirancang berdasarkan tingkat kebutuhan masing-masing penyintas.

Kolaborasi juga harus melibatkan pemerintah, gereja, lembaga kemanusiaan, akademisi, sekolah, tokoh adat, keluarga, serta masyarakat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” katanya.

Menurut Debi, lembaga pendidikan juga dapat berperan melalui program pengabdian masyarakat berkelanjutan, bukan hanya turun ketika bencana terjadi.

Selain pendampingan psikologis, program pemberdayaan masyarakat juga diperlukan agar penyintas perlahan dapat kembali mandiri.

Flores Perlu Memperkuat Kesiapsiagaan

Sebagai wilayah yang memiliki berbagai potensi bencana, Flores dinilai membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih kuat, termasuk dari sisi psikologis masyarakat.

Pemerintah perlu memberikan edukasi mengenai risiko bencana, membangun fasilitas yang sesuai dengan karakteristik wilayah, serta mempersiapkan masyarakat menghadapi kemungkinan terburuk.

Kesiapsiagaan juga perlu dimulai dari keluarga.

Menurut Debi, masyarakat perlu memiliki pemahaman bahwa keselamatan bukan hanya persoalan ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana rumah dibangun dan bagaimana masyarakat memahami kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

Pesan untuk Penyintas: Jangan Berhenti Bangkit

Bagi penyintas yang masih berada di tenda pengungsian dan menghadapi ketakutan maupun kehilangan, Debi mengakui bahwa proses untuk kembali bangkit bukanlah sesuatu yang mudah.

Namun, ia mengajak penyintas untuk perlahan membangun kembali kekuatan diri dan melihat bahwa kehidupan masih memiliki kesempatan untuk dilanjutkan.

“Kalau kita hari ini masih bisa hidup, berarti ada cara Tuhan yang lain,” tuturnya.

Ia juga mengajak penyintas untuk tidak hanya berfokus pada kehilangan, tetapi mulai melakukan hal-hal yang dapat membantu diri sendiri dan orang lain.

Dalam pengalamannya mendampingi anak-anak penyintas, Debi melihat bagaimana anak-anak tetap dapat tersenyum dan bermain meskipun menyadari bahwa rumah mereka telah hancur.

Bagi Debi, ketangguhan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan bagi orang dewasa.

Pemulihan tidak hanya berarti menyediakan rumah, makanan, air bersih, dan layanan kesehatan, tetapi juga memastikan penyintas memperoleh rasa aman, dukungan sosial, serta pendampingan psikososial sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, pemulihan pascabencana harus melihat penyintas secara utuh dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Keluarga, sekolah, gereja, pemerintah, kelompok adat, tenaga profesional, relawan, akademisi, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membantu penyintas kembali menjalani kehidupan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.