Musim Kemarau, Kekeringan Ancam Produksi Padi di Kabupaten Bangka Selatan
Ajie Gusti Prabowo September 03, 2026 04:50 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Kekeringan yang melanda Kabupaten Bangka Selatan, mulai membayangi musim tanam padi akhir tahun 2026. Penurunan debit air di sejumlah embung dan bendungan membuat pemerintah daerah harus menghitung kemampuan sumber air sebelum menentukan luasan lahan yang dapat ditanami. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, kondisi sumber air menjadi pertimbangan utama dalam menentukan musim tanam berikutnya. Kabupaten Bangka Selatan memiliki sekitar 10 hingga 19 embung dan satu bendungan yang tersebar di 13 desa sesuai potensi wilayahnya. 

Namun, debit air di setiap embung saat ini mengalami penurunan sekitar 30 hingga 40 persen akibat kondisi kemarau. "Dengan adanya kekeringan saat ini, target produksi padi kita Insya Allah masih tercukupi," kata Risvandika, Kamis (3/9).

Risvandika membeberkan, penurunan debit air tersebut membuat penanaman padi pada akhir tahun berpotensi mengalami kendala. Pemerintah tidak ingin pengolahan lahan tetap dilakukan, tetapi tanaman kemudian kekurangan air ketika memasuki masa pertumbuhan generatif. Karena itu, kemampuan setiap sumber air harus diperhitungkan agar pasokan air mampu bertahan sampai tanaman memasuki masa generatif.

Kondisi ketersediaan air di setiap wilayah saat ini tidak seragam sehingga pola dan luasan penanaman akan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Di Desa Rias, misalnya, Embung Pumpung diperkirakan masih mampu bertahan pada kisaran 60 hingga 70 persen dan Embung Yamin yang masih tersisa 30-40 persen. 

Sedangkan, wilayah Desa Pergam masih memiliki ketersediaan air di atas 70 persen karena saluran airnya cukup baik. Perbedaan tersebut membuat pemerintah tidak bisa menetapkan luasan tanam yang sama untuk seluruh wilayah. "Jadi ada beberapa desa yang menyesuaikan dengan kondisi di lapangan," tutur Rivandika.

Lahan sawah yang terdampak persoalan pengairan diperkirakan mencapai 250 hingga 300 hektare khususnya di kawasan sentra produksi di Desa Rias. Dengan produktivitas padi yang diasumsikan berada pada kisaran 5 hingga 6 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare, lahan tersebut memiliki potensi produksi sekitar 1.250 hingga 1.800 ton GKP dalam satu musim tanam. 

Pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) akan menghitung kemampuan setiap sumber air untuk menentukan berapa hektare lahan yang mampu dialiri. Dengan cara tersebut, luasan lahan yang ditanami nantinya mengikuti kapasitas sumber air yang tersedia di masing-masing wilayah. "Kalau kita bicara kecukupan, ini memang menyesuaikan dengan luasan potensi yang akan kita lakukan penanaman," sebutnya.

Pemerintah mulai menyiapkan sejumlah alternatif untuk mengantisipasi kekurangan air apabila kemarau berlangsung hingga akhir September. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama BWS, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten serta Pemerintah Provinsi akan mencari sumber air tambahan di wilayah yang memiliki potensi pertanian cukup tinggi. Opsi yang dipertimbangkan ialah pembuatan sumur dalam atau pemboran, selain membangun embung maupun waduk baru.

Kepastian waktu berakhirnya kekeringan juga masih menjadi perhatian pemerintah daerah karena kondisi cuaca akan menentukan jadwal tanam berikutnya. Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan Rivandika, puncak kekeringan belum dapat dipastikan apakah terjadi pada pertengahan September atau justru bergeser hingga akhir September 2026. Apabila hujan tidak kunjung turun sampai periode tersebut, proses penanaman padi berpotensi mengalami keterlambatan. "Kalau itu terjadi maka kita ada keterlambatan dalam hal proses penanaman," pungkas Risvandika. (u1)

Ledakan Hama Tikus Intai Sawah
ANCAMAN hama tikus juga mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, menjelang musim tanam selanjutnya. Kondisi cuaca ekstrem dan musim panas berkepanjangan seperti saat ini dikhawatirkan membuat tikus keluar dari tempat persembunyian ketika persediaan makanannya mulai menipis. Jika tidak dikendalikan sejak awal, ledakan populasi tikus berpotensi mengganggu tanaman dan menghambat peningkatan produksi padi.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, perubahan cuaca yang ekstrem dan tiba-tiba berpotensi memunculkan hama maupun penyakit tanaman di luar perkiraan. "Kami khawatirkan pada musim tanam selanjutnya yakni serangan hama dan penyakit karena pengaruh cuaca ekstrem dan musim kemarau berkepanjangan saat ini," ujar Risvandika, Kamis (3/9).

Menurutnya, hama tikus menjadi ancaman yang paling dikhawatirkan pada kondisi musim panas saat ini. Tikus biasanya bersembunyi atau masuk ke tempat perlindungan ketika kondisi lingkungan panas dan masih bertahan dengan persediaan makanan yang dimilikinya. Ketika stok makanan tersebut habis, tikus diperkirakan keluar untuk mencari makanan dan dapat menyasar tanaman padi.

"Pasti adalah hama tikus. Karena populasinya kerap meningkat atau mengganas menjelang dan selama musim kemarau," jelas Risvandika.

Mengantisipasi ancaman tersebut, pemerintah daerah mendorong petani melakukan gropyokan atau pengendalian hama tikus secara bersama-sama. Pengendalian harus dilakukan secara intensif pada wilayah yang menjadi sasaran penanaman agar tikus tidak berpindah dari satu petak sawah ke petak lainnya. "Hama tikus ini hampir seluruh di Indonesia itu merupakan jadi kendala dan jadi momok para petani khususnya padi sawah ini," sebutnya. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.