SURYA.CO.ID - Kisah Mbah Darmi (63), lansia asal Desa Kayugritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, memantik simpati publik.
Sebelumnya, bantuan sosial (bansos) untuk Mbah Darmi dicabut karena dia terindikasi judi online (judol).
Mbah Darmi juga pernah didatangi petugas bank yang menagih angsuran pinjaman.
Lansia yang tidak bisa membaca dan menulis itu mengaku tidak pernah mengajukan pinjaman maupun menerima uang dari bank.
"Perasaan saya bingung, bansos sudah dicabut, ditagih utang. Saya tidak tahu utang apa, bank apa," ungkap Darmi.
Baca juga: Bantuan Beras Lamongan 5.390 Ton, Warga Lansia Diantar ke Rumah
Operator Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Desa Kayugritan, Neli Setyoningsih, adanya pinjaman bank ini diketahui saat dia melakukan klarifikasi mengenai penghentian bansos Darmi pada Jumat pagi.
Beberapa jam kemudian, petugas dari lembaga pembiayaan mendatangi rumah Darmi untuk menagih angsuran.
Neli kemudian menelusuri informasi pinjaman dan menemukan adanya penggunaan nama Darmi untuk mengajukan pinjaman.
"Setoran itu per minggunya Rp 125.000, diangsur selama 50 minggu. Setelah saya telusuri ternyata namanya dipakai orang lain untuk pinjam bank," jelasnya.
Hasil penelusuran Neli menunjukkan Darmi tercatat memiliki pinjaman pada dua lembaga keuangan.
Nilai pinjaman pada masing-masing lembaga sekitar Rp 5 juta. Dengan demikian, total pinjaman yang tercatat mencapai Rp 10 juta, belum termasuk bunga.
Neli memastikan Darmi tidak menikmati uang hasil pinjaman tersebut.
Berdasarkan keterangan lansia itu dan penelusuran yang dilakukan, uang tidak pernah sampai ke tangannya.
Neli menduga identitas Darmi digunakan oleh tetangganya untuk memperoleh pinjaman dari bank.
Perempuan yang diduga memakai identitas Darmi disebut merupakan orang yang sama dengan warga yang sebelumnya memberikan Rp 25.000 kepada Darmi ketika meminjam kartu tanda penduduk (KTP).
Perempuan itu tinggal di sekitar rumah Darmi.
Namun, Neli belum dapat memastikan apakah perempuan yang diduga menggunakan identitas Darmi untuk pinjaman bank merupakan orang yang sama dengan pihak yang berkaitan dengan dugaan aktivitas judi online.
"Kalau untuk orang yang sama dengan judol itu belum tahu. Kalau judol kan kita belum tahu. Tapi kalau dipinjam bank itu kita sudah tahu orangnya sama," ujarnya.
Neli mengaku sudah menegur warga yang diduga menggunakan nama Darmi.
Ia meminta orang tersebut bertanggung jawab terhadap pinjaman yang tercatat atas nama Darmi
Setelah kisahnya viral, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyambangi Mbah Darmi pada Kamis (3/9/2026)
Dalam kunjungannya, Luthfi memastikan pihaknya akan membantu memulihkan hak Mbah Darmi sebagai penerima bansos.
"Sudah. Dari provinsi, kabupaten, bantu. Sudah kita bantu full untuk dikembalikan bansosnya," kata Luthfi kepada Kompas.com seusai menemui Mbah Darmi, Kamis (3/9/2026) siang.
Kondisi Mbah Darmi, kata Luthfi, menjadi perhatian karena lansia tersebut tidak memiliki pekerjaan dan disebut menjadi korban penyalahgunaan identitas.
Untuk memastikan bantuan kembali diterima Mbah Darmi, Luthfi meminta jajaran Dinas Sosial (Dinsos) untuk melakukan verifikasi ulang bersama Kementerian Sosial.
Dia meminta, kelompok masyarakat yang masuk desil 1, 2, dan 3 menjadi prioritas dalam proses verifikasi penerima bansos.
"Nanti saya minta tolong Dinas Sosial Provinsi, Kabupaten, Kota verifikasi kembali dengan Kementerian Sosial untuk desil 1, 2, 3 dijadikan prioritas," kata Luthfi.
Plt Bupati Pekalongan, Sukirman mengatakan, Pemkab Pekalongan akan mengupayakan agar status Mbah Darmi dan suaminya, Dayat (77), sebagai penerima manfaat bansos dapat dikembalikan.
Pemkab akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan proses pemulihan status penerima manfaat tersebut.
"Yang pertama, kita akan mengembalikan lagi posisi penerima manfaat dari bansos ke Kementerian Sosial," kata Sukirman.
Kisah Mbah Darmi juga memantik empati publik.
Sumbangan untuk Mbah Darmi mengalir dari berbagai wilayah. Tak hanya Pekalongan, bahkan hingga luar Jawa tengah.
Bantuan tersebut datang secara mandiri dari masyarakat yang tergerak setelah mengetahui kondisi Mbah Darmi.
Donatur berasal dari sejumlah daerah, mulai dari Bojonegoro, Yogyakarta, Lampung, Tegal, Brebes hingga Ponorogo.
Operator Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Desa Kayugritan, Neli Setyoningsih, mengatakan para donatur menghubunginya secara langsung untuk menyampaikan bantuan kepada Mbah Darmi.
Mbah Darmi pun bisa tersenyum.
Bantuan yang terkumpul mencapai sekitar Rp2,25 juta.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,75 juta diberikan dalam bentuk uang tunai, sedangkan Rp500 ribu lainnya dibelikan kebutuhan pokok.
"Alhamdulillah, ada kemarin yang WA ke saya untuk memberikan sedikit rezeki atau berbagi rezeki atau donatur. Itu kebanyakan dari luar kota," kata Neli saat dihubungi Tribunjateng.com, Rabu (2/9/2026) sore.
Neli menegaskan, bantuan tersebut bukan berasal dari penggalangan dana yang dibuka oleh dirinya maupun Pemerintah Desa Kayugritan.
Para warga menghubungi dirinya secara mandiri setelah mengetahui kisah Mbah Darmi.
"Saya atau pihak Pemdes tidak membuka donasi. Orang secara mandiri menghubungi saya. Kami sudah salurkan dan kami distribusikan ke Mbah Darmi," ujarnya.
Penyaluran bantuan dilakukan pada Selasa (1/9/2026). Proses tersebut disaksikan perangkat desa, keluarga, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.
Neli mengatakan para donatur menyerahkan sepenuhnya bentuk penyaluran bantuan kepada pihak desa.
Karena mempertimbangkan kondisi Mbah Darmi, sebagian bantuan diberikan dalam bentuk kebutuhan pokok.
"Kalau melihat kondisinya tidak mungkin saya berikan semuanya bentuk uang. Jadi kebutuhan seperti beras, sembako dan lain-lainnya juga akan kami penuhi."
"Ini juga salah satu pesan, dari seorang donatur yang meminta donasinya dibelikan sembako," jelasnya.
Selain memastikan bantuan sampai kepada penerima, Neli juga meminta Mbah Darmi lebih berhati-hati apabila kembali didatangi orang yang meminta uang ataupun melakukan penagihan.
Ia mengarahkan Mbah Darmi untuk segera melapor kepada ketua RT jika menghadapi persoalan serupa.
Laporan tersebut selanjutnya, akan diteruskan kepada perangkat desa agar dapat ditangani bersama.
"Kalau ada yang datang meminta atau menagih atau apa pun, saya sudah memberikan arahan ke Mbah Darmi untuk langsung melapor ke RT. Nanti RT meneruskan ke perangkat desa, sehingga semuanya bisa terukur," ujarnya.