BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kenaikan harga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi salah satu penyumbang terbesar mendorong inflasi di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Agustus 2026.
Tekanan yang diberikan kelompok tersebut, hingga mengalami kenaikan indeks hingga 15,72 persen secara tahunan.
Selain itu makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan cukup tinggi, mencapai 6,54 persen.
Kedua kelompok ini menjadi bagian dari kenaikan harga yang membuat inflasi tahunan Kalsel mencapai 4,69 persen pada Agustus 2026.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalsel, Fachri Ubadiyah, mengatakan inflasi year-on-year (y-on-y) tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga dari meningkatnya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran.
“Seluruh kabupaten/kota amatan Indeks Harga Konsumen di Kalsel mengalami inflasi tahunan,” kata Fachri.
Berdasarkan laporan BPS, tidak hanya kebutuhan perawatan pribadi dan pangan yang mengalami kenaikan. Sejumlah kelompok pengeluaran lain juga ikut memberikan tekanan terhadap harga yakni, kelompok transportasi misalnya, mengalami kenaikan indeks sebesar 3,56 persen.
Kemudian kelompok pendidikan naik 3,16 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 3,04 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,01 persen.
Kenaikan berikutnya terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tanggi sebesar 2,31 persen dan kesehatan sebesar 2,17 persen.
Sementara kelompok rekreasi, olahraga dan budaya naik 1,21 persen. Pakaian dan alas kaki naik 0,96 persen, sedangkan perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga meningkat 0,90 persen.
Fachri mengungkapkan, tekanan inflasi terjadi di seluruh kabupaten/kota yang menjadi wilayah pengamatan IHK di Kalsel.
Tanah Laut menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni mencapai 5,59 persen dengan IHK 113,42. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Kotabaru, sebesar 3,28 persen dengan IHK 113,18.
Secara bulanan, kenaikan harga di Kalsel pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,24 persen. Sementara secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi mengalami 2,49 persen.
(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)