Cerita Kusir Delman di Jakarta, Harga Kuda Kini Tembus Rp35 Juta, Penghasilan Sehari Rp70 Ribu
Wahyu Septiana September 03, 2026 10:52 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Menjadi kusir delman di Jakarta bukan pekerjaan yang bisa dimulai hanya dengan memiliki kendaraan, karena kuda sebagai tenaga utama juga membutuhkan modal belasan hingga puluhan juta rupiah.

Hal itu dirasakan Agus Supriyanto (50), kusir delman yang tinggal di kawasan kolong Tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurut Agus, harga kuda untuk menarik delman saat ini paling murah berada di kisaran Rp 17 juta, sedangkan kuda dengan kondisi dan kualitas yang lebih baik dapat mencapai Rp 30 juta hingga Rp 35 juta.

"Kalau sekarang kuda paling murah Rp 17 juta. Rata-rata Rp 20 juta, kalau yang bagus bisa Rp 30 juta sampai Rp 35 juta," kata Agus kepada TribunJakarta.com, Kamis (3/9/2026).

Harga tersebut membuat modal awal menjadi salah satu pertimbangan bagi orang yang ingin menekuni pekerjaan sebagai kusir delman, terlebih kuda yang sudah dibeli masih membutuhkan biaya perawatan dan pakan setiap hari.

Agus menyebut kebutuhan pakan kudanya terdiri dari rumput dan dedak yang harus disediakan secara rutin agar kuda tetap memiliki tenaga untuk menarik delman.

Untuk dedak, kebutuhan kudanya sekitar 4 kilogram per hari dan bisa mencapai 6 kilogram ketika diperlukan, dengan harga sekitar Rp 7.000 per kilogram.

Sementara itu, rumput yang menjadi pakan utama kuda dibeli dengan harga sekitar Rp 50.000 untuk kebutuhan kurang lebih dua hari.

KUSIR DELMAN - Kusir delman tinggal dan merawat kuda-kudanya di kolong tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
KUSIR DELMAN - Kusir delman tinggal dan merawat kuda-kudanya di kolong tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino/Gerald Leonardo Agustino)

"Kalau buat makan sama perawatannya, sehari kira-kira Rp 70.000. Dedak empat kilo sehari, paling banyak enam kilo, terus rumput juga harus beli," ujar Agus.

Selain makanan, Agus juga memberikan air yang dicampur gula merah kepada kudanya setelah kembali bekerja, dengan kebutuhan gula merah sekitar seperempat kilogram dalam sehari.

Semua kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi meskipun penghasilan dari menarik delman tidak selalu besar, karena kondisi kuda sangat menentukan apakah dirinya bisa kembali bekerja atau tidak pada hari berikutnya.

Agus mengatakan penghasilan yang didapatnya saat ini rata-rata sekitar Rp 70.000 per hari, meskipun pada hari yang ramai pendapatannya bisa mencapai Rp 100.000.

Kondisi tersebut berbeda dibandingkan masa ketika menarik delman masih lebih ramai, saat dirinya mengaku bisa memperoleh penghasilan lebih dari Rp 100.000 dalam sehari.

Setelah Agus, cerita soal modal menarik delman juga disampaikan Sutomo (53), kusir delman yang sudah menjalani pekerjaan tersebut sejak awal 2000-an.

Sutomo membeli kudanya, Betran, pada 2009 ketika harga kuda masih jauh lebih murah dibandingkan sekarang.

Saat itu, Sutomo mengeluarkan sekitar Rp 13 juta untuk membeli Betran, sedangkan delman yang digunakannya dibeli dengan harga sekitar Rp 10 juta.

"Dulu beli kudanya Rp 13 juta tahun 2009. Delmannya sekitar Rp 10 juta," tutur Sutomo.

Berbeda dengan Agus yang harus membeli pakan berupa rumput dan dedak, Sutomo juga mencari kulit tauge dari Pasar Pulogadung untuk memenuhi kebutuhan makanan Betran.

KUSIR DELMAN - Sutomo (53), kusir delman yang tinggal di kolong tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO).​
KUSIR DELMAN - Sutomo (53), kusir delman yang tinggal di kolong tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO).​ (TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino)

Dedak atau bekatul yang diberikan kepada Betran mencapai sekitar 5 kilogram sehari, sedangkan pemberian makanan dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pagi, siang dan malam.

Sutomo juga harus mengeluarkan biaya untuk perawatan karena kuda tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga harus rutin dibersihkan dan dipastikan kondisinya tetap sehat.

Meski demikian, Sutomo mengaku tidak pernah menghitung secara pasti kapan modal membeli kuda dan delman akan kembali, sebab penghasilan dari pekerjaan tersebut sejak awal digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kalau dihitung modal baliknya kapan, enggak akan ketemu. Yang penting ada penghasilan buat makan dan kebutuhan sehari-hari," kata Sutomo.

Besarnya modal dan biaya perawatan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para kusir delman, terutama ketika jumlah penumpang tidak menentu atau hujan membuat mereka tidak bisa menarik delman.

Dalam kondisi seperti itu, pemasukan bisa berhenti, tetapi kebutuhan kuda tetap berjalan karena pakan dan perawatan tidak dapat ditunda.

Berita Lainnya

Baca juga: LPS Gandeng Kadin Buka Peluang Investor Masuk BPR-BPRS, Aset Hampir Rp2 Triliun Siap Ditawarkan

Baca juga: BELUM Telat! Career Fest di Pasar Minggu Digelar Hingga Besok, Ada 3.857 Lowongan Kerja

Baca juga: Drama 2 ART Bikin Laporan Ngaku Disekap di Penjaringan Berakhir, Keduanya Dipulangkan ke Banyumas

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.