Yustina Ogoney, Sosok Kepala Distrik dan Perempuan Adat yang Dipercaya Memimpin Marga
Hans Arnold Kapisa September 04, 2026 03:44 PM

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Perempuan menjadi pemimpin marga di tengah kekuatan adat istiadat di Tanah Papua, bukanlah jalan yang selalu mudah. 

Di tengah kuatnya struktur sosial dan adat, perempuan sering kali dihadapkan pada tantangan ketika ingin mengambil ruang lebih besar dalam menentukan arah kehidupan komunitas.

Namun, bagi Yustina Ogoney, tantangan bukan alasan untuk memilih diam.

Perempuan asli Papua yang kini menjabat sebagai Kepala Distrik Merdey, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu justru memilih terlibat dan mengambil tanggung jawab lebih besar.

Bukan hanya di pemerintahan, Yustina juga dipercaya menjadi ketua marga di komunitas adatnya.

Pengalaman itulah yang dibagikannya dalam Plenary Session 3 bertajuk “Kepemimpinan Masyarakat Adat” pada hari kedua Papeda Summit 2026 di Hotel Vega, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).

Baca juga: Kisah Yustina Ogoney, Perempuan Moskona yang Berhasil Perjuangkan Hutan Adat di Bintuni

Di hadapan peserta forum, Yustina berbicara dari pengalaman yang ia jalani sendiri sebagai perempuan adat.

Baginya, perempuan Papua memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tanah, hutan, kehidupan keluarga, hingga denyut ekonomi masyarakat.

“Menjadi perempuan adat Papua itu berat. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita bisa membangun komunitas dan daerah,” kata Yustina.

Kalimat itu menjadi gambaran perjalanan Yustina. Di satu sisi, ia menjalankan tanggung jawab sebagai aparatur pemerintahan.

Di sisi lain, ia tetap membawa identitas dan tanggung jawab sebagai perempuan adat yang hidup bersama komunitasnya.

Kepercayaan untuk menjadi ketua marga menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut.

Baca juga: Semangat HUT ke-81 RI: Yustina Ogoney Prioritas Bangun SDM untuk Masa Depan Merdey

Bagi Yustina, kepercayaan itu bukan sekadar sebuah jabatan.

Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk mendengar suara masyarakat, menjaga kepentingan bersama, serta ikut memastikan agar keputusan yang diambil memberikan manfaat bagi komunitas.

Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang untuk berada di posisi strategis dalam struktur kepemimpinan adat.

Ketika Perempuan Diberi Ruang

Yustina meyakini, perempuan adat tidak hanya menjadi pelengkap dalam kehidupan komunitas.

Perempuan berada di tengah kehidupan keluarga, mengelola ekonomi rumah tangga, menjaga relasi sosial, sekaligus memiliki pengetahuan yang kuat mengenai kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, menurut dia, perempuan harus diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.

“Perempuan hadir melalui berbagai peran, tetapi tujuannya sama, yaitu membangun komunitas dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat dari pembangunan di wilayahnya sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Yustina Ogoney: Tahun Ini Distrik Merdei Fokus Tingkatkan SDM Aparatur Kampung dan UMKM

Menurut Yustina, semakin besar ruang yang diberikan kepada perempuan, semakin banyak pula potensi yang dapat dikembangkan untuk kepentingan masyarakat.

Kuncinya adalah kesempatan, pengakuan, dan kepercayaan.

Ketiganya menjadi pintu yang memungkinkan perempuan adat tampil bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai pengambil keputusan dan pemimpin.

Memulai dari Hal Sederhana

Bagi Yustina, membangun masyarakat tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar.

Ia mencontohkan pembangunan pondok-pondok pinang sebagai salah satu langkah sederhana yang dapat membuka ruang usaha bagi masyarakat.

Pondok pinang bukan sekadar tempat berjualan. Di balik usaha sederhana itu terdapat gagasan untuk menggerakkan ekonomi dari dalam komunitas.

Dengan adanya ruang usaha bagi masyarakat, perputaran uang diharapkan tetap berlangsung di lingkungan kampung dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga setempat.

Baca juga: Kepala Distrik Merdey Ajak Warga Hentikan Pemalangan Fasilitas Umum

Gagasan tersebut memperlihatkan cara pandang Yustina mengenai pembangunan: berangkat dari kebutuhan masyarakat dan dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia.

Sebuah usaha sederhana, apabila dikelola dan dikembangkan bersama, dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.

Kepemimpinan yang Berangkat dari Pengabdian

Kisah Yustina menjadi bagian penting dari pembahasan Papeda Summit 2026 mengenai masa depan kepemimpinan masyarakat adat di Tanah Papua.

Di tengah perubahan dan tuntutan pembangunan, masyarakat adat tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat.

Mereka perlu ditempatkan sebagai pelaku utama yang ikut menentukan arah pembangunan di wilayahnya sendiri.

Dalam konteks itu, perempuan adat memiliki posisi yang tidak kalah penting.

Baca juga: Balai Perhutanan Sosial Manokwari Dorong Percepatan Penetapan Hutan Adat di Papua Barat

Mereka membawa pengalaman hidup, pengetahuan tentang lingkungan, pemahaman terhadap kebutuhan keluarga, serta kedekatan dengan dinamika sosial masyarakat.

Karena itu, suara perempuan adat perlu hadir dalam setiap ruang pengambilan keputusan, baik di lingkungan adat maupun pemerintahan.

Yustina Ogoney menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan adat bukan semata-mata tentang jabatan.

Kepemimpinan adalah keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan mendengar masyarakat, serta kemauan untuk bekerja dan menghadirkan perubahan, meski dimulai dari hal-hal sederhana.

Dari seorang perempuan adat yang dipercaya memimpin marga hingga seorang kepala distrik yang mengemban tanggung jawab pemerintahan, perjalanan Yustina Ogoney menghadirkan satu pesan penting: ketika perempuan Papua diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan, mereka tidak hanya mampu berdiri di depan—tetapi juga mampu membawa komunitasnya bergerak maju. (tribunsorong.com/ismail saleh)   

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.