SURYA.co.id - Semangat juang Maria Yemima untuk membawa nama almamaternya di ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North patut diacungi jempol.
Meski langkahnya di lapangan basket terhenti akibat cedera ankle, siswi SMAN 1 Puri Mojokerto (Castle) ini tetap menemukan cara untuk bersinar di DBL Arena Surabaya.
Tahun ini menjadi musim terakhir Maria sebagai pelajar SMA. Alih-alih menyerah karena kondisi fisiknya, ia memilih beralih haluan dari tim basket putri ke tim dance sekolahnya, Puri is Possible. Melalui kompetisi AQUA DBL Dance 2026, Maria membuktikan bahwa loyalitas kepada sekolah bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Perpindahan ini sebenarnya bukan hal yang asing bagi Maria. Sebelum fokus sepenuhnya pada basket saat kelas VIII SMP, ia sudah akrab dengan dunia tari sejak kelas III SD. Bahkan, Maria pernah mencatatkan prestasi sebagai juara ketiga (3rd Place) dalam sebuah festival anak pada tahun 2018.
Motivasi utamanya bergabung dengan tim dance tahun ini sangat sederhana namun menyentuh: ia ingin tetap berada di dekat rekan-rekannya.
“Bahkan aku ikut dance ini juga untuk dukung teman-temanku di basket,” ujar Maria saat ditemui di sela kompetisi, Senin (31/8).
Keputusan untuk mundur dari tim basket Castle tidak diambil secara tiba-tiba.
Hingga April 2026, Maria masih berupaya keras memulihkan cedera ankle-nya. Namun, atas saran dari sang ibu agar memprioritaskan kesehatan jangka panjang, Maria akhirnya memilih berpamitan kepada pelatih basketnya.
“Terus akhir April aku bilang ke pelatih kalau mau keluar. Kebetulan pendaftaran dance ini dibuka, aku daftar dan lolos,” ungkapnya menceritakan proses transisi tersebut.
Menjadi seorang dancer memberikan perspektif baru bagi Maria. Jika dulu ia terbiasa bertarung fisik selama empat kuarter penuh di lapangan, kini ia harus memadatkan energinya dalam koreografi berdurasi tiga hingga lima menit.
Meski sukses tampil memukau bersama Puri is Possible, Maria tak menampik adanya gejolak emosi saat kembali menginjakkan kaki di DBL Arena dengan peran yang berbeda.
“Rasanya campur aduk banget, ya seneng tapi juga sedih karena tahun ini udah nggak basket,” pungkasnya.
Beruntung, proses adaptasi Maria berjalan mulus. Berbekal pengalaman masa kecil dan hubungan yang erat dengan anggota tim dance lainnya, persiapan selama satu bulan berhasil ia lalui tanpa kendala berarti.