Kondisi Tiupan Angin Saat Kebakaran Lahan Menjadi-jadi di Kotabaru Kalsel, Perparah Kondisi
Edi Nugroho September 04, 2026 10:51 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kondisi tiupan angin saat kebakaran lahan dan hutan menjadi-jadi di Kotabaru Kalsel

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotabaru nampaknya semakin menjadi-jadi.

Kamis (3/9/2026) sore, sejumlah kawasan di Pulaulaut dan Kecamatan Kelumpang Selatan diselimuti asap yang membuat jarak pandang mulai terbatas.

Kondisi ini berlangsung setelah api melumat cukup luas lahan di kawasan Tanjung Bantai, Kecamatan Pulaulaut Timur yang berada jauh dari pemukiman warga. 

Baca juga: CAT Petugas Haji Kalsel Digelar Besok, Kemenhaj Ingatkan Ketentuan Ini

Baca juga: Sejumlah Desa di Balangan Mulai Kesulitan Dapatkan Air Bersih, BPBD Bergerak Distribusikan Air 

Pantauan dari Desa Kadang Sari Indah, desa terdekat, asap mengepul di siang hari sekitar pukul 11.30 wita dan berlangsung hingga sore.

Tiupan angin yang cukup kencang membawa kepulan asap hingga melewati Gunung Sebatung dan sampai ke kawasan pusat Kotabaru dan sekitarnya. 

"Di Stagen kabut asap, sekitaran bandara," ujar Umi, warga yang melintas di Jalan Raya Stagen.

Kondisi serupa juga banyak dibagikan warga di media sosial dan group chating mengenai kawasan dalam kota yang mulai dikepung asap tipis. 

Hal yang sama juga disampaikan Khairul, warga Desa Pantai, Kecamatan Kelumpang Selatan yang dipisakan selat dari Pulaulaut. 

"Kondisi ini tidak biasa, ini ada banyak warga yang menyaksikan kabut asap di sekitaran pelabuhan," ujarnya.

Meski demikian, di sejumlah kawasan di Pulaulaut asap tidak terlihat saat pagi tadi, Jumat (4/9/2026). Kondisi normal seperti biasa.

Sementara itu, berdasarkan data Pusdalops BPBD Kotabaru, kebakaran di Tanjung Bantai mencapai luasan sekitar 8 hektar.

Upaya pemadaman berlangsung panjang, mengingat lokasi Area Penggunaan Lahan (APL) berupa semak belukar yang berada jauh dan tidak ada akses jalan. kecuali mengggunakan transportasi perahu.

Namun saat siang hari kondisi air laut juga tengah siang sehingga jadi kendala tersendiri bagi transportasi yang menuju ke lokasi.

"Pemadaman berhasil dilakukan sekitar pukul 23.30 wita, dengan mengerahkan anggota polsek, Danramil beserta anggota, Yon TP 10 pers dan dari Perusahaan PT. SCC," ujar AKP Moersani, Kapolsek Pulaulaut. 

Meski cukup berdampak bagi lingkungan, pemilik, pelaku maupun asal api dari peristiwa ini masih belum diketahui. 

Darurat Asap Kebakaran? Ini Cara Sulap Kamar Tidur Bebas Polusi

Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya mengancam keselamatan dari api, tetapi juga menyisakan persoalan kualitas udara.

Asap kebakaran dapat masuk ke dalam rumah dan membuat udara yang dihirup tetap tidak sehat, meski penghuni sudah berlindung di dalam ruangan.

Bagi masyarakat yang terdampak asap kebakaran dan masih aman untuk bertahan di rumah, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membuat clean room atau ruang bersih.

Ruangan ini ditujukan untuk mengurangi masuknya asap sehingga keluarga memiliki tempat untuk bernapas dengan udara yang relatif lebih bersih.

Dilansir dari American Lung Association, berikut enam cara yang dapat dilakukan.

1. Pilih satu ruangan untuk berlindung

Pilih ruangan yang cukup luas agar seluruh anggota keluarga dapat berada di dalamnya dengan nyaman. Kamar tidur dapat menjadi pilihan sebagai tempat beristirahat.

Jika memungkinkan, pilih kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi di dalam. Dengan begitu, penghuni tidak perlu terlalu sering keluar-masuk ruangan.

2. Tutup pintu dan jendela

Pastikan pintu dan jendela tertutup rapat selama kondisi udara di luar masih dipenuhi asap. Celah di bawah atau sisi pintu dapat ditutup menggunakan gulungan handuk untuk mengurangi rembesan asap.

Jangan menutup ruangan dengan cara yang menghambat mobilitas seperti lemari atau meja. Pertimbangkan jalan keluar jika terjadi keadaan darurat.

3. Jangan menambah polusi dalam ruangan

Jika ruangan perlu dibersihkan, gunakan kain lembap untuk mengelap permukaan atau mengepel lantai. Hindari penggunaan penyedot debu apabila tidak memiliki filter udara.

4. Jaga ruangan tetap sejuk

Menutup jendela dapat membuat rumah terasa panas, terutama di wilayah Indonesia yang beriklim tropis. Jika tersedia, gunakan kipas atau AC dalam mode recirculate agar udara luar tidak terus ditarik masuk.

Hindari penggunaan exhaust fan atau AC portabel yang memiliki selang pembuangan ke luar, karena perangkat tersebut dapat menarik udara luar yang tercemar ke dalam rumah.

5. Gunakan air purifier

Jika memiliki jenis AC mendukung, pilih filter dengan rating MERV 13 atau lebih tinggi. Filter pada sistem AC juga perlu diperiksa dan diganti bila sudah kotor.


Apa yang Harus Dilakukan untuk Melindungi Kesehatan Saat Kabut Asap?

Masyarakat di Riau sedang menghadapi persoalan kabut asap akibat kebakaran lahan. Selain memengaruhi jarak pandang, kabut asap semacam ini, tentu berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Gangguan yang dimaksud, mulai dari infeksi saluran saluran pernapasan atas (ISPA) hingga pneumonia. Lantas, langkah apa yang sebaiknya dilakukan saat menghadapi kabut asap?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Yeny Tanoyo, Sp.PD kepada SehatQ menyebut ada beberapa langkah yang penting dilakukan ketika terjadi kabut asap.

Patuhi instruksi evakuasi

Asapnya bisa menimbulkan rasa sakit pada mata, iritasi pada sistem pernapasan. Bahkan yang terparah, asap akibat kebakaran hutan, bisa menyebabkan sakit jantung dan paru-paru.

Oleh karena itu, apabila pemerintah daerah setempat sudah mengeluarkan instruksi evakuasi, kita harus menaatinya.

Pemakaian masker

Saat ini mungkin Anda telah mengenakan masker untuk menghadapi kondisi jalanan penuh asap maupun polusi. Namun, masker apa yang sebenarnya baik untuk menyaring udara saat terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan?

Namun, masker N95 sebaiknya hanya dipakai selama 8 jam (disposable). Selain itu, masker N95 tidak disarankan untuk anak-anak, wanita hamil, lansia, pasien dengan penyakit jantung, serta penyakit paru kronis.
Siapa yang paling berisiko ?

Kabut asap tentu akan memengaruhi kesehatan semua orang. Namun, tiga kelompok individu ini paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Penderita penyakit jantung maupun paru-paru

Orang-orang yang menderita sakit jantung, paru-paru, maupun asma, memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, saat terjadi kabut asap.

Lansia

Para lansia bisa berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan karena kabut asap, akibat tingginya potensi mereka terhadap sakit jantung dan paru-paru.

Anak-anak

Saluran pernapasan anak-anak masih berkembang dan belum sempurna. Dibandingkan orang dewasa, anak-anak juga ternyata menghirup udara lebih banyak.

Selain itu, anak-anak cenderung banyak menghabiskan waktu di luar ruangan untuk beraktivitas, termasuk bermain.

Apa yang harus dilakukan?

Apabila Anda tinggal di daerah yang rawan mengalami kabut asap, mempelajari dan melakukan langkah-langkah berikut ini, dapat mengurangi risiko terhadap gangguan kesehatan yang mungkin muncul.

Pastikan kualitas udara di dalam rumah tetap baik

Saat berada di dalam rumah, pastikan jendela dan pintu dalam kondisi tertutup. Jika tersedia, nyalakan pendingin ruangan atau air conditioner (AC).

Apabila tidak memiliki AC dan merasa terlalu panas berada di dalam rumah dengan kondisi jendela tertutup, maka ada baiknya Anda menuju pengungsian maupun pusat evakuasi, yang jauh dari area kabut asap.

Hindari aktivitas di dalam ruangan yang bisa sebabkan polusi

Patuhi perintah evakuasi

Bawalah hanya barang-barang yang diperlukan. Ikuti jalur evakuasi yang sudah ditentukan. Sebab, sejumlah jalur mungkin telah ditutup.

Lindungi diri saat membereskan tempat tinggal

Oleh karena itu, pastikan Anda melindungi tubuh dengan baik, saat membereskan tempat tinggal, setelah kabut asap berlalu.

Perlukah berkonsultasi dengan dokter?

Jika Anda mengalami asma maupun penyakit paru-paru lainnya, konsumsilah obat sesuai petunjuk dokter. Anda juga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, apabila gejala-gejalanya semakin parah.

Dr. Yeny Tanoyo, Sp.PD menjelaskan, selain menimbulkan ISPA, kabut asap pun bisa mengakibatkan pneumonia, asma, serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain itu, dr. Yeny melanjutkan, penelitian menunjukkan, kabut asap dapat meningkatkan kekambuhan penyakit jantung iskemik dan gagal jantung. Sebagai dampaknya, serangan jantung bisa terjadi.
(Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri/kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.