BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak hanya manusia, hewan pun terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk kucing yang ada di Rumah Kawan Bonbon (RKB), Banjarmasin.
Menjadi tantangan tersendiri bagi Founder RKB, Fina Hasbi dalam mengelola dan memelihara puluhan anak bulu (anabul) tersebut di saat seperti saat ini. Apalagi lokasi shelternya berbatasan langsung dengan sumber karhutla di Kabupaten Banjar.
Untuk mengantisipasi paparan asap, ia menutup seluruh jendela dan ventilasi dengan kain, dan menyalakan kipas angin secara penuh.
Fina mengungkapkan, efek kabut asap memicu gangguan pernapasan pada beberapa kucing, terutama yang berusia tua. "Untuk kucing-kucing RKB mereka punya jadwal rutin vitamin tiap satu minggu sekali, walaupun dari kejadian karhutla ini cukup memberikan efek, di mana beberapa kucing tua napasnya tampak lebih berat dari biasanya," ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga ditemukan pada kucing-kucing liar di jalanan. Melalui kegiatan street feeding yang terus berjalan, tim RKB menemukan banyak kucing jalanan yang lemas akibat menghirup asap. "Kami menemui beberapa kucing jalanan yang terdampak karhutla, seperti nampak lemas, berjalan oyong, dan hilang nafsu makan," bebernya.
Selain menyiagakan perlindungan di lokasi shelter, penanganan medis dan pemberian nutrisi tambahan terus digencarkan, baik untuk kucing penghuni shelter maupun kucing liar yang ditemui di jalanan.
Dari total 36 ekor kucing yang berada di shelter RKB, mayoritas dilepas di dalam ruangan. Hanya tiga ekor yang terpaksa dikandangkan karena belum steril untuk mencegah perkawinan. Ada pula harus dikandangkan karena sifatnya pembully, namun meong-meong itu tidak dikurung 24 jam. "Jika masih dalam pantauan, mereka kami keluarkan dari kandang, jika waktunya kami balik ke rumah, mereka kembali dimasukkan kandang," paparnya.
Aksi penyelamatan kucing jalanan yang telantar sudah digaungkan Fina sejak 2017. Setiap sore dan malam, ia konsisten menyusuri kawasan Jalan Gatot Subroto, Jalan Veteran, hingga Jalan Pramuka, Banjarmasin untuk memberi makan kucing-kucing liar.
Misi tersebut berkembang pada pertengahan 2021 ketika ia fokus street feeding di salah satu pasar swasta di Banjarmasin, sekaligus merawat serta mensterilkan kucing di sana.
Kendala besar muncul pada akhir 2024. Pengelola pasar berniat membuang seluruh kucing ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) karena dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung.
Demi menyelamatkan nyawa puluhan anabul tersebut, ia memutuskan menyewa tempat khusus yang kemudian dinamakan Rumah Kawan Bonbon. "Awal kami berdiri sejak Januari 2025 lalu, jumlah kucing di atas 40 ekor. Tetapi ada beberapa yang mati karena faktor usia dan penyakit, sehingga sekarang tersisa 36 ekor," jelas Fina.
Mengenai operasional, RKB mengandalkan donasi dari masyarakat yang digalang melalui media sosial dengan laporan keuangan yang diunggah secara transparan.
Namun, fluktuasi donasi membuat RKB belum mampu menambah populasi kucing rawatan baru. Terlebih, Fina secara pribadi juga merawat 33 ekor kucing rescue di kediamannya, sehingga total anabul yang berada di bawah pengawasannya mencapai hampir 70 ekor.
Diceritakannya, ia kerap menemukan anak kucing tanpa induk ditinggalkan begitu saja di teras shelter, yang sayangnya memiliki tingkat kelangsungan hidup sangat kecil.
Menyikapi fenomena kekerasan dan penelantaran hewan yang masih marak, Fina berharap Banjarmasin dapat berkembang menjadi kota yang lebih ramah terhadap hewan. "Pemerinrah kota bisa menjalankan penyediaan program sterilisasi gratis untuk menekan laju populasi kucing liar," harapnya.
Selain itu, perlu ada pembukaan ruang edukasi publik untuk mengikis mitos negatif seputar kucing, dan penindakan tegas bagi pelaku penyiksaan hewan sesuai aturan yang berlaku.
(banjarmasinpost.co.id/Mariana)