Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE- Berbekal alat seadanya dan kemauan keras, Yuliana Benafa (41) menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari di Pantai Oebon, Desa Tuapakas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Perempuan tangguh ini memanfaatkan kekayaan alam berupa batu warna-warni yang terbawa gelombang sebagai sumber utama ekonomi keluarganya.
Sejak pukul 05.00 Wita hingga 17.00 Wita, Yuliana Benafa tampak sibuk di tepian Pantai Oebon.
Meski hanya mengandalkan alat seadanya seperti ember plastik, penyaring kawat dan karung, serta kemauan yang tinggi, Yuliana menjalankan pekerjaannya sebagai pengumpul batu warna untuk mendapatkan penghasilan.
Selama ini, warga Oebon, Desa Tuapakas Kecamatan Kualin Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), itu menggantung hidup dengan berkat yang diseret gelombang ke tepian. Pasir hingga batuan dari berbagai ukuran dan warna, menjadi sarananya untuk mendapatkan pundi-pundi rezeki.
Lokasi Yuliana mengumpulkan batu dan pasir terletak sekitar 100 meter dari jalur masuk ke Pantai Oebon. Tampak barisan karung berwarna putih, sebuah penyaring pasir dipasang berdiri miring lengkap dengan penyangga dan tumpukan batu dan pasir yang sudah dipisahkan.
Saat ditemui di lokasi sebelum kembali ke rumahnya, Yuliana membagikan kisahnya menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak dengan pekerjaan tersebut.
"Pekerjaan hanya di laut, di Pantai Oebon, ra'uh (mengumpulkan) pasir dan batu, kemudian kami jual kasih sekolah anak, kami makan minum pokoknya dari kerja ini," ungkapnya.
Perempuan dengan selendang sebagai penutup kepala dan baju kerja seadanya itu, memiliki tujuh orang anak, dua diantarnya merupakan anak sambung Yuliana.
Ia tidak menggambarkan detail pendidikan mereka, namun ia menjelaskan beberapa dari anaknya telah menyelesaikan pendidikan.
"Saya punya anak lima, dengan tiri dua orang jadi ada tujuh orang. Yang lain sudah tamat, lain masih kecil. Saya kasih sekolah mereka juga dari hasi mengumpulkan batu dan pasir," ungkapnya dengan senyum yang merekah di ujung bibir.
Ketika Batu dan pasir terkumpul, ia kemudian memisahkannya berdasarkan ukuran dan warna. Batu dan pasir yang telah terpisah, disimpan dalam karung, lalu disusun untuk dijual setiap hari Jumat. Pemborong akan datang ke lokasi untuk mengangkut material tersebut.
"Isi di karung, kalau bayar hitung karung nanti Jumat baru bayar kasih kami," jelas Yuliana.
Untuk pasir disebutkan ada lima macam ukuran, dengan harga sekarung Rp 10.000 untuk setiap ukuran. Sedangkan batu lebih bervariasi, semakin kecil ukuran semakin mahal nilai jualnya.
"Pasir ini ada lima macam, dari abu sampai ukuran besar. Batu juga demikian dari kecil sampai ukuran besar, kami pakai semua. Satu karung pasir harga Rp 10.000 semua sama. Kalau batu mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 20.000. Paling mahal yang ukuran min," ungkapnya ketika dikonfirmasi Sabtu (5/9/2026).
Pekerjaan ini dilakoni masing-masing orang berdasarkan kemampuan dan berbanding lurus dengan penghasilan yang diperoleh.
Menurut Yuliana, ketika laut bersahabat dan ia rajin turun laut dan mengumpulkan batu dan pasir, maka penghasilannya juga besar.
"Tergantung dari kami punya kerja, kalau kami rajin pasti dapat banyak tapi saat capek kami istirahat. Kalau kami rajin itu sampai 100 sampai 200 karung dalam seminggu. Tapi kalau musim laut tidak baik, maka pasti hanya dapat 50 karung kebawah," gambarnya.
Banyaknya material dan aktivitas mengumpulkan batu tetap bergantung pada kondisi laut di wilayah selatan Pulau Timor tersebut.
Yuliana menyebut ketika memasuki bulan April hingga Agustus, gelombang tinggi air laut menyulitkan mereka untuk bekerja secara maksimal.
"Kesulitan kita itu kalau musim laut tidak baik, gelombang naik," tegasnya.
Wilayah pantai selatan pulau Timor juga rawan terhadap bencana banjir rob, dimana ketika gelombang laut tinggi, akan banyak genangan air laut di wilayah pesisir. Lokasi kerja mereka tertutup dengan air.
Karena berlokasi di Pantai Oebon, Yuliana tak ingin pekerjaan utamanya menjadi penghalang orang berwisata. Namun ia berharap para pengunjung yang refresing ke Pantai tersebut bijak dalam menjaga Pantai.
"Kalau Oebon ramai, kami tidak terganggu, pengunjung datang foto-foto langsung pulang. Tapi kalau datang disini tolong jangan buat api, pokoknya batas jam lima itu jangan ada lokasi," ungkapnya.
Hal tersebut bertujuan agar lokasi kerja masyarakat di tepian pantai itu tidak rusak karena api dan arang yang dihasilkan.
"Anak-anak muda ada takutnya kalau terjadi apa apa yang bikin rusak kami punya tempat ini. Datang kalau disaat gelombang naik, jangan turun dibawah. Kami takut gelombang tarik bawah nanti terganggu di kami punya lokasi," pesannya.
Barisan tumpukan batu di sepanjang bibir pantai Oebon hingga Kolbano menandakan banyak masyarakat seperti Yuliana yang hidup dari pengumpulan batu warna dan pasir dalam skala kecil.
Karena terhalang izin, mereka hanya diperbolehkan mengumpulkan batu warna dan pasir kemudian dijual ke pengepul yang memiliki izin operasional.
Sistem ini sudah terbangun lama, kewenangan perizinan sempat mengalami transisi dari pemda ke pemprov dan ini sebagian menjadi kewenangan pemerintah pusat
Hal ini menyebabkan banyak pengumpul lokal beroperasi dengan status informal atau menunggu penyempurnaan izin. (any)