Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
SEBELUM Aceh mempunyai nama, ia telah mempunyai takdir geografis. Kita menyebut perjalanan ini sebuah biografi, meskipun yang akan kita temui adalah jejak manusia, kerajaan, perdagangan, agama, perang, bencana dan perdamaian yang terbentang melintasi ribuan tahun. Sebab sebuah negeri pun mempunyai kehidupan.
Ia mempunyai masa ketika namanya belum ada. Ia tumbuh dari perjumpaan manusia dengan tanah dan laut, menerima pendatang, bahasa, agama dan gagasan, membangun kekuasaan, mengalami kejayaan, perang, kehilangan dan kelahiran kembali. Setiap zaman meninggalkan sesuatu kepada zaman berikutnya, kadang-kadang dalam bentuk istana dan batu nisan, kadang-kadang dalam bahasa, ingatan, luka, atau cara sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri.
Karena itu kita tidak hanya akan bertanya apa yang terjadi di Aceh. Kita ingin mengetahui bagaimana Aceh menjadi Aceh. Untuk memahaminya, kita harus melihat sebuah peta yang sekarang tidak ada lagi.
Sekitar dua puluh ribu tahun lalu, ketika bumi masih berada dalam fase dingin terakhir Zaman Es, begitu banyak air tersimpan sebagai es sehingga permukaan laut jauh lebih rendah daripada sekarang. Sumatra belum tampak sebagai pulau seperti yang kita kenal. Daratan yang hari ini dipisahkan oleh Selat Malaka dan Laut Jawa merupakan bagian dari bentang luas Paparan Sunda yang menghubungkan Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, dan Kalimantan dengan dunia Asia Tenggara daratan.
Belum ada Selat Malaka seperti sekarang. Belum ada Banda Aceh. Belum ada Lamuri, Samudra Pasai, Pedir ataupun Daya. Tidak ada sultan, uleebalang, ulama, kapal Portugis atau serdadu Belanda.
Kemudian bumi menghangat. Es mencair, laut naik, dataran rendah perlahan tenggelam dan Sumatra memperoleh bentuk kepulauannya.
Di ujung utaranya muncul sebuah wilayah yang menghadap dua ruang besar sekaligus: Samudra Hindia yang terbuka ke India, Timur Tengah dan Afrika, serta jalur sempit menuju Selat Malaka yang mengantarkan kapal ke Asia Tenggara dan Cina.
Geografi sedang menulis halaman pertama biografi Aceh, ribuan tahun sebelum manusia memberinya nama.
Tetapi geografi bukanlah nasib yang bekerja sendirian. Letak hanya menjadi penting ketika manusia mulai bergerak. Mereka bergerak karena makanan dan keselamatan, kemudian karena perdagangan, kekuasaan, agama dan rasa ingin tahu.
Mereka mengikuti pantai dan angin, menyeberangi laut, membawa barang dan pulang membawa barang lain. Bersama mereka bergerak pula bahasa, kepercayaan, teknologi, penyakit, perkawinan, cerita dan gagasan.
Maka untuk membaca sejarah Aceh, kita tidak cukup mengikuti raja. Tapi kita harus mengikuti apa yang bergerak.
Kadang-kadang yang bergerak adalah manusia. Pada masa lain kapur barus, emas dan lada. Kemudian kitab, surat diplomatik, meriam dan mesiu. Berabad-abad setelah itu yang bergerak adalah minyak dan gas, tentara, modal, senjata, pengungsi, pekerja kemanusiaan dan gagasan tentang kemerdekaan, otonomi serta perdamaian.
Dari pergerakan itulah Aceh perlahan-lahan menjadi Aceh.
Ada kebiasaan yang tanpa kita sadari memengaruhi cara kita membaca sejarah Aceh: kita melihat peta dari daratan Indonesia.
Pada peta seperti itu Aceh berada di atas, di sudut paling barat sebuah negara kepulauan yang sangat panjang. Ia tampak seperti ujung.
Sekarang putarlah peta itu.
Berdirilah, dalam imajinasi, di atas sebuah kapal yang berlayar dari pantai India menyeberangi Teluk Benggala menuju Selat Malaka. Aceh tidak lagi tampak sebagai ujung.
Ia menjadi pintu.
Perubahan sudut pandang sederhana itu menjelaskan banyak hal yang akan kita temui sepanjang serial ini. Mengapa sebuah armada Chola dari India Selatan pada awal abad ke-11 menyeberangi Teluk Benggala dan memasukkan Ilamuridesam, yang lazim dihubungkan dengan Lamuri, ke dalam daftar kemenangan Rajendra Chola I? Mengapa berabad-abad kemudian Marco Polo, Ibnu Battuta, Tomé Pires, James Lancaster, Augustin de Beaulieu dan Peter Mundy meninggalkan kesaksian tentang negeri-negeri di bagian utara Sumatra?
Mengapa lada yang tumbuh di tanah Aceh dapat menghubungkan sebuah kebun di Sumatra dengan Gujarat, Laut Merah, Istanbul dan pasar-pasar Eropa? Mengapa Portugis, Ottoman, Inggris dan Belanda berkali-kali memandang wilayah ini lebih penting daripada ukurannya di peta?
Jawabannya tidak pernah hanya terletak pada Aceh.
Jawabannya berada pada hubungan Aceh dengan dunia.
Karena itu tulisan ini tidak akan memperlakukan Aceh sebagai sebuah wadah tertutup yang sesekali didatangi orang asing. Justru sebaliknya. Kita akan melihatnya sebagai sebuah simpul dalam jaringan yang terus berubah. Kadang-kadang koneksi membawa kemakmuran. Kadang-kadang membawa agama dan gagasan baru. Kadang-kadang membawa kapal perang.
Konektivitas adalah anugerah yang tidak pernah datang tanpa risiko.
Baca juga: Jejak Sejarah Aceh-Amerika, Peneliti AS Temui Bupati Abdya Bahas Logo Kota Salem yang Memuat Po Adam
Ada godaan lain ketika menulis sejarah Aceh: menceritakannya sebagai perjalanan lurus menuju Kesultanan Aceh Darussalam.
Lamuri dianggap pembukaan. Samudra Pasai menjadi pendahulu. Pedir dan Daya muncul sebentar, kemudian Ali Mughayat Syah datang, Aceh bersatu, Iskandar Muda mencapai puncak, dan sesudah itu cerita bergerak menuju perang Belanda.
Sejarah jarang serapi itu.
Wilayah yang hari ini kita sebut Aceh pernah terdiri dari dunia-dunia politik yang tidak selalu melihat dirinya sebagai bagian dari satu kesatuan. Lamuri mempunyai kehidupannya sendiri. Samudra dan Pasai mempunyai jaringan dan ambisinya. Pedir adalah pusat kekayaan. Daya tumbuh di pantai barat. Singkil menghadap jaringan lain lagi.
Mereka berdagang, bersaing, menikah, berperang, bersekutu dan berubah.
Karena itu kita tidak akan memaksa masa lalu mengenakan peta politik masa kini.
Kita akan membiarkannya berbicara dalam zamannya sendiri.
Kadang-kadang sumber-sumber itu bahkan bertengkar satu sama lain.
Justru di sanalah sejarah menjadi menarik.
Raja-raja tentu akan hadir.
Ali Mughayat Syah akan datang. Iskandar Muda akan menaiki panggung. Para sultanah akan memerintah. Daud Beureueh, Hasan di Tiro dan para perunding Helsinki kelak memasuki cerita.
Tetapi sebuah negeri tidak hidup hanya di istana.
Kita juga akan mencari orang yang menanam lada, nakhoda yang menunggu perubahan angin musim, ulama yang membawa kitab dari Mekkah, perempuan yang menjalankan rumah dan pasar ketika laki-laki pergi berperang, pedagang yang mempertaruhkan hartanya pada sebuah pelayaran, serta penduduk kampung yang harus memilih kepada siapa kesetiaan diberikan ketika dua kekuasaan datang bersamaan.
Kadang-kadang seorang asing akan membantu kita melihat mereka. Bukan karena orang asing selalu lebih benar, tetapi karena ia meninggalkan catatan.
Di situlah sebuah paradoks sejarah muncul: begitu banyak kehidupan orang Aceh masa lalu sampai kepada kita melalui mata orang lain. Portugis menulis karena ingin berdagang dan menguasai jalur perdagangan. Belanda mengukur karena ingin memerintah. Snouck Hurgronje mempelajari masyarakat Aceh dengan ketelitian luar biasa, tetapi pengetahuan itu kemudian hidup di dalam mesin kekuasaan kolonial.
Maka pengetahuan pun mempunyai biografi.
Ia dapat menerangi.
Ia juga dapat menjadi senjata.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (II) - Ali Mughayatsyah dan Efek Pygmalion
Perjalanan kita akan panjang.
Kita akan berjalan dari dunia yang belum mengenal nama Aceh menuju Lamuri; dari serangan Chola menuju Samudra Pasai; dari Pedir dan Daya menuju lahirnya Aceh Darussalam; dari lada menuju meriam; dari hubungan dengan Ottoman menuju kedatangan orang Eropa; dari kebesaran Iskandar Muda menuju perubahan kekuasaan setelahnya.
Kemudian sebuah kapal lain akan muncul di cakrawala.
Tahun 1873.
Belanda datang dengan perang yang mereka kira dapat diselesaikan dengan merebut istana. Mereka segera mengetahui bahwa sebuah istana dapat diduduki jauh lebih cepat daripada sebuah masyarakat dapat ditaklukkan.
Perang berpindah dari benteng ke kampung, dari sultan kepada ulama, uleebalang dan gerilyawan, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Aceh berubah. Belanda pun mengubah cara menaklukkannya. Pengetahuan, birokrasi dan kekerasan bekerja berdampingan.
Abad kedua puluh tidak mengakhiri pergulatan itu. Republik datang membawa harapan baru, kemudian pertanyaan baru tentang pusat dan daerah, agama, sumber daya, keadilan dan martabat. Gas mengalir keluar dari Arun ketika ketidakpuasan tumbuh di sekelilingnya. Senjata kembali berbicara.
Lalu, pada pagi 26 Desember 2004, laut yang sejak awal menjadi salah satu pembentuk kehidupan Aceh datang dalam bentuk yang sama sekali berbeda.
Ia mengambil manusia, rumah, kampung, jalan dan ingatan dalam jumlah yang sulit dibayangkan.
Tetapi sejarah kadang-kadang bekerja melalui ironi yang kejam. Bencana yang menghancurkan begitu banyak kehidupan ikut mengubah lingkungan politik sebuah perang yang telah berlangsung puluhan tahun. Delapan bulan kemudian, jauh dari panas pantai Sumatra, orang-orang Aceh dan Indonesia duduk mengelilingi sebuah meja di Helsinki.
Pada 15 Agustus 2005 mereka menandatangani perdamaian.
Di situkah biografi Aceh berakhir?
Tentu tidak.
Sebuah biografi tidak seharusnya berpura-pura bahwa kehidupan bergerak menuju kesimpulan yang sempurna. Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal dalam lembaga, keluarga, bahasa, kuburan, batas tanah, ingatan tentang perang, cara orang memandang kekuasaan, bahkan dalam lelucon yang dibuat tentang orang-orang yang sedang berkuasa.
Itulah sebabnya serial ini bukan cerita tentang sebuah daerah yang jauh di ujung Indonesia.
Kita akan memulai dari anggapan yang justru sebaliknya.
Aceh tidak berada di ujung dunia.
Selama ribuan tahun ia berada di jalan dunia. (Bersambung)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan mantan guru besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.