TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA — Proses pembuatan pusaka tombak bernama Kyai Jala Sutra Mukti di Padukuhan Bolodukuh Lor, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul, yang diinisiasi oleh keresahan seorang kepala dukuh dan didokumentasikan dalam film berjudul sama oleh sutradara Indra Tirtana, tidak hanya menjadi peristiwa budaya yang unik di era modern, tetapi juga berhasil mentransformasikan cara pandang generasi muda terhadap akar leluhur mereka.
Film dokumenter yang diproduksi oleh STE Film Production dan Sedulur Pitu Sinema ini berfokus pada penghormatan terhadap kebudayaan pusaka untuk mengedukasi masyarakat, serta menggeser persepsi negatif seputar hal mistis menjadi bentuk penghargaan terhadap peninggalan leluhur.
Produser Stephanie Michael menjelaskan bahwa cerita ini digerakkan oleh sosok Aman Dukuh yang meyakini dirinya membutuhkan pusaka sebagai wahana spiritual pemersatu masyarakat.
"Ini film pertama produksi kami, dan saya senang dengan pencapaian ini, lengkap, mengungkap sisi kebudayaan masyarakat Yogyakarta yang sangat spiritual dan religius. Ini penting dibagikan pada dunia luar, agar mereka tahu khasanah kebudayaan Yogya yang sangat unik, sakral, dan powerfull," ujar Stephanie di sela acara nonton bareng di Ndalem Benawan Rotowijayan, Sabtu (5/9) malam.
Lahirnya pusaka tombak dengan pamor "Biring" ini bermula dari keprihatinan Mas Dukuh terhadap potensi wilayah dan kegelisahan warga yang kemudian dikonsultasikan kepada pemerhati budaya RM Kukuh Hertriasning (Gusti Aning).
Gusti Aning menegaskan bahwa pusaka tersebut dibuat menggunakan material murni masa lalu seperti meteor dan besi pilihan, serta tetap menjaga ketat pakem serta ritual tradisi leluhur meskipun melibatkan sedikit teknologi modern seperti blower listrik.
"Pusaka ini tidak dibuat untuk ajang pamer, melainkan difungsikan sebagai jembatan untuk menenangkan hati masyarakat, menyelaraskan alam, dan memberikan perlakinan serta perlindungan ilahi demi kemakmuran bersama bagi para petani, pedagang, hingga pegawai," tutur Gusti Aning yang merupakan cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini.
Ia menambahkan bahwa instrumen ini menuntut seorang pemimpin untuk benar-benar memahami dan menyatukan wilayah serta tradisi lokalnya.
Sementara itu, Sutradara Indra Tirtana mengungkapkan bahwa proses kreatif pembuatan film ini juga melibatkan kru dari kalangan generasi Z yang merupakan warga lokal untuk memberikan pengalaman riset langsung dan perjumpaan emosional dengan kebudayaan mereka.
"Ketika film ini selesai lalu kemudian dia mengalami banyak hal, sekarang kalau ditanya 'Kau punya leluhur enggak?' Punya. Leluhur saya adalah kebudayaan. Ini kan perubahan yang luar biasa," ungkap Indra.
Film Kyai Jala Sutra Mukti direncanakan akan didistribusikan secara daring melalui platform digital seperti serta penayangan luas ke tingkat internasional agar khasanah kebudayaan Yogyakarta dapat diakses oleh khalayak global.