TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman terus mendalami kasus keracunan pangan (kerpang) yang diduga bersumber dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan ratusan pelajar bergejala.
Sejauh ini, proses masih berjalan dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diperiksa diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu sampai dua pekan.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu kepastian hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan.
Hal ini penting untuk menyimpulkan penyebab pasti dari kejadian yang menyebabkan ratusan siswa mengalami gejala sakit perut dan diare ini.
"Alhamdulillaah, (hasil uji labnya) belum (keluar). Biasanya 1-2 minggu," ujar Yuli, Sabtu (5/9/2026).
Mantan Kepala Puskesmas Ngaglik ini mengatakan, kewenangan Dinkes Sleman terbatas pada pemberian rekomendasi teknis berdasarkan hasil temuan di lapangan dan hasil uji laboratorium.
Sementara itu, terkait dengan sanksi atau punishment bagi pihak pengelola dapur nantinya ditentukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Pihaknya hanya sebatas memberikan rekomendasi untuk perbaikan.
"Dari hasil yang ada nanti, kami (Dinas Kesehatan) hanya bisa merekomendasikan kepada SPPG tersebut, tetapi yang akan memberikan punishmen bukan dari Dinkes, tapi BGN-nya. Terutama yang dari pengawas BGN yang akan memberikan analisa dan punishmen-nya," kata dia.
Sebagai konteks, kasus dugaan keracunan massal ini mencuat setelah ratusan penerima manfaat menunjukkan gejala kesehatan seperti sakit perut dan diare usai mengonsumsi menu MBG pada Senin (31/8) lalu.
Menu yang disalurkan saat itu mencakup nasi putih, bola-bola ayam saus mentai, tahu pop krispi, tumis pokcoy, dan buah melon, yang diproduksi oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pandowoharjo, Sleman.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sleman, tercatat ada 229 orang mengalami gejala, dengan 3 orang di antaranya sempat menjalani pengobatan rawat jalan, sementara sisanya dilaporkan telah membaik dan kembali beraktivitas normal.
Sebagai langkah antisipasi dan kehati-hatian, operasional dapur SPPG Pandowoharjo untuk sementara waktu telah dihentikan hingga investigasi menyeluruh dan rekomendasi resmi diterbitkan.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman, Harsono Budi Waluyo sebelumnya mengungkapkan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Puskesmas, Korwil, Korcam, dan pihak SPPG telah melakukan pemeriksaan lapangan serta inspeksi sanitasi begitu laporan diterima.
Sebagai langkah kehati-hatian, operasional SPPG juga dihentikan sementara sampai hasil pemeriksaan dan rekomendasi Dinas Kesehatan serta pihak terkait diperoleh.
"Pemantauan terhadap kondisi penerima manfaat yang bergejala terus dilakukan dan seluruh proses penanganan dilaksanakan sesuai prosedur dengan mengedepankan keselamatan penerima manfaat serta prinsip kehati-hatian," ujar dia.