Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Operasional penerbangan di Bandara Radin Inten II Lampung sempat diberhentikan sementara akibat ancaman sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026).
Baca juga: Update Gunung Anak Krakatau, 3 Hari 14 Kali Erupsi, Waspada Sebaran Abu Vulkanik
Penutupan rute penerbangan ini dilakukan guna menjamin keselamatan penumpang dan armada udara dari risiko kerusakan mesin.
Langkah darurat tersebut secara langsung menghentikan mobilitas harian warga yang bergantung pada moda transportasi udara.
Dampak penundaan penerbangan ini berpotensi menurunkan pendapatan para pelaku ekonomi kecil dan pekerja informal di sekitar area bandara.
Oleh karena itu, pengawasan aktivitas ekonomi lokal kini menjadi fokus utama untuk mengantisipasi gejolak harga dan kerugian masyarakat.
Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan Lampung, Asrian Hendi Cahya membenarkan, penghentian sementara penerbangan merupakan keputusan mutlak demi keselamatan operasional pesawat.
"Penerbangan dibatalkan sebab abu vulkanik memuat batuan dan kaca yang dapat mengganggu dan merusak mesin pesawat. Hal ini bisa berakibat fatal," kata Asrian, Senin (7/9/2026).
Meskipun bertujuan untuk keselamatan, terhentinya penerbangan merembet pada berkurangnya mobilitas warga dan kelancaran distribusi barang di lapangan.
Menurut Asrian, tingkat keparahan dampak terhadap ekonomi masyarakat sangat bergantung pada durasi penutupan rute serta intensitas erupsi yang terjadi.
Ia menilai, jika gangguan udara ini hanya berlangsung selama satu atau dua hari, dampaknya terhadap perekonomian secara makro belum terlalu terasa signifikan.
Aktivitas harian warga di luar bandara secara umum masih dapat berjalan, walau terjadi penurunan tingkat mobilitas. Namun, risiko penurunan pendapatan tetap membayangi pekerja dan pelaku usaha harian jika gangguan terus berlanjut.
Untuk meminimalkan potensi kerugian tersebut, pemerintah didesak memperkuat mitigasi darurat pada moda transportasi publik, baik penerbangan maupun penyeberangan laut.
"Langkah fisik seperti penyiraman abu vulkanik di wilayah pemukiman terdampak harus terus digalakkan agar aktivitas warga tidak terganggu," tutur Ketua Masjid Airan tersebut.
Selain itu, Asrian meminta pemerintah mengawasi aktivitas transaksi ekonomi secara ketat di tingkat masyarakat.
Pengawasan ini penting untuk mencegah timbulnya kepanikan pasar serta menghentikan aksi spekulasi pihak tertentu yang dapat membumbungkan harga barang.
"Dengan demikian, roda ekonomi warga bawah tetap terlindungi di tengah ancaman erupsi GAK," tandas Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung itu.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )