Kasus ISPA di Palembang Melonjak Drastis Imbas Bencana Kabut Asap, Tembus 655 Kasus dalam Sehari
Odi Aria September 07, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang mengalami peningkatan di tengah kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat sebanyak 655 kasus ISPA dalam satu hari pada September 2026. Angka tersebut meningkat 79 kasus dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat sebanyak 576 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr Fenty Aprina mengatakan, Kecamatan Sukarame menjadi wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, yakni sebanyak 80 kasus.

Kemudian disusul Kecamatan Seberang Ulu I dengan 67 kasus. Sementara Jakabaring, Seberang Ulu II, Kalidoni serta Sako atau Sematang Borang masing-masing tercatat 48 kasus.

“Puskesmas dengan kasus tertinggi ada di Puskesmas Siring Agung atau Puskesmas 9 Ilir sebanyak 33 kasus,” ujar Fenty.

Berdasarkan kelompok umur, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 15-59 tahun dengan 274 kasus.

Selanjutnya, kelompok usia 0-4 tahun tercatat 124 kasus, usia 5-9 tahun sebanyak 94 kasus, usia 10-14 tahun sebanyak 77 kasus, dan lansia di atas 60 tahun sebanyak 84 kasus.

Tembus 115.020 Kasus

Secara akumulasi, Dinkes Palembang mencatat sebanyak 115.020 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Jumlah tersebut menjadi angka kasus ISPA tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Fenty menjelaskan, sebagian besar kasus yang ditangani di Puskesmas masih dalam kategori ISPA ringan, seperti demam, batuk, pilek dan sakit tenggorokan.

“Namun jika demam tinggi dan ada tanda-tanda sesak napas, maka dirujuk ke rumah sakit,” katanya.

Sementara itu, data rumah sakit periode 1-5 September 2026 mencatat sebanyak 393 kasus ISPA yang mendapat penanganan rawat jalan maupun rawat inap.

Kasus terbanyak tercatat di RSUP Dr Mohammad Hoesin sebanyak 115 kasus, kemudian RS Siloam Sriwijaya sebanyak 100 kasus.

“Artinya sebagian besar kasus ISPA masih bisa ditanggulangi di Puskesmas,” ucapnya.

Meski angka kasus ISPA meningkat, berdasarkan assessment tenaga medis di rumah sakit, belum terdapat kasus yang dinyatakan sebagai dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam laporannya kepada Gubernur Sumatera Selatan, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyebut sejak Januari hingga September 2026 tercatat 297 titik karhutla di Kota Palembang dengan luas lahan terbakar mencapai 253 hektare.

Lahan yang terbakar tersebut merupakan lahan mineral dan bukan lahan gambut.

“Untuk yang tertinggi sampai sekarang menurut laporan masih di Kecamatan Sematang Borang. Yang kedua di Alang-Alang Lebar dan yang masuk kategori 3 besar terkait potensi kebakaran lahan,” kata Ratu Dewa.

Ia mengatakan, pada hari sebelumnya terdapat 10 titik kebakaran yang terjadi hingga malam hari. Sebanyak 30 armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk melakukan penanganan.

Untuk mempercepat proses pemadaman, armada Damkar juga dimajukan ke sejumlah titik rawan sehingga waktu tempuh menuju lokasi kebakaran ditargetkan hanya sekitar 5-10 menit.

Selain karhutla, Ratu Dewa melaporkan kondisi kekeringan yang melanda sekitar 2.700 hektare dari total 3.500 hektare lahan pertanian di Palembang.

Wilayah terdampak paling luas berada di Kecamatan Gandus dan Kertapati. Pemkot Palembang telah mendistribusikan selang berukuran 4-6 inci untuk membantu kebutuhan air petani.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, Pemkot Palembang juga mengerahkan rata-rata 30 tangki air setiap hari ke dua kecamatan dan empat kelurahan.

Distribusi dilakukan terutama ke wilayah Sematang Borang, sebagian Kalidoni dan Sukarame yang belum terjangkau jaringan pipa induk PDAM.

“Warga selama ini memanfaatkan sumur bor, penampungannya berupa tandon dan drum, itu juga kita suplai,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.