TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan masyarakat, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau, untuk berhati-hati dalam menangani abu vulkanik dan mewajibkan penggunaan masker.
Peringatan ini disampaikan Sultan di Yogyakarta pada Senin (7/9/2026), merespons penyebaran abu vulkanik dari erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang dinilainya menuntut cara pembersihan khusus agar tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan warga.
Berdasarkan pengalaman DIY dalam menghadapi letusan gunung berapi, Sultan menegaskan bahwa karakteristik abu vulkanik sangat berbeda dengan debu atau pasir biasa.
Abu vulkanik mengandung material kaca dan batuan yang sangat tajam sehingga berbahaya bagi saluran pernapasan.
Oleh karena itu, ia menyoroti dan mengkritik metode pembersihan debu menggunakan kipas angin besar seperti yang ia amati terjadi di Jakarta, karena hal tersebut justru memperluas jangkauan paparan material berbahaya.
"Abu vulkanik itu mengandung material yang berbahaya dan tajam. Jadi, sekarang lebih baik memang memakai masker. Saya melihat di YouTube, di Jakarta sepertinya pakai kipas besar. Itu justru membuat abu terbang berserakan ke mana-mana. Mengusir abu itu tidak mudah. Genteng memang menjadi lebih bersih, tetapi karena abunya lembut, bisa terbang ke mana-mana. Kalau warga masyarakat menghirupnya, risikonya malah membesar," papar Sultan memberikan penjelasan secara mendetail.
Lebih lanjut, Sultan juga memperingatkan risiko membersihkan abu pada saat hujan.
Abu vulkanik yang terkena air akan berubah karakteristiknya menjadi endapan lumpur yang keras namun sangat licin.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan memanjat atap rumah demi menyapu abu tersebut.
"Kalau menunggu hujan, abu malah menjadi seperti beton dan licin. Saya khawatir nanti orang yang tidak punya pengalaman, membersihkannya memakai sapu sambil memanjat genteng, malah bisa terpeleset. Apalagi kalau hujan, akan sangat licin. Memang tidak mudah. Di halaman pun tidak bisa langsung bersih karena abunya beterbangan. Kalau pasir terus disapu bisa hilang, tetapi abu vulkanik tidak seperti itu," tegasnya.
Pengalaman sebelumnya dari sebaran abu vulkanik dari Gunung Semeru, Sultan menyatakan bahwa material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini tidak mengarah ke wilayah DIY.
Baca juga: Dinkes DIY Siagakan Cadangan Medis Antisipasi Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Dalam kesempatan yang sama, Sultan juga mengingatkan masyarakat DIY untuk terus waspada terhadap aktivitas Gunung Merapi yang berstatus Siaga dalam beberapa tahun terakhir, seraya mengajak masyarakat untuk menghadapi bencana alam dengan sikap lapang dada.
"Ya kehendaknya sudah begitu, terima saja. Kita tidak bisa mengatakan tidak, diterima dengan ikhlas kalau Allah berkehendak seperti itu. Kalau Gunung Merapi memang sudah dua sampai tiga tahun ini berstatus Siaga terus. Harapan saya ya masyarakat tetap siaga saja," ujar Sultan HB X.
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang sempat memicu sebaran abu hingga ke Banten dan Bengkulu, telah berakhir pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Aktivitas gunung tersebut kini bertransisi kembali menjadi erupsi strombolian.
Meski erupsi menerus telah usai, Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut probabilitas letusan susulan masih tinggi.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tertahan di Level III (Siaga).
Masyarakat direkomendasikan untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif serta diwajibkan menggunakan masker saat berada di luar ruangan guna mencegah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). (*)