TRIBUNNEWS.COM - Sesuai dengan namanya, Alpha seolah menggambarkan sosok penuh percaya diri, karismatik, dan berani mengambil keputusan.
Karakter itu pula yang terlihat ketika Alphadjo Cisse mengontrol bola sebelum melepaskan tendangan yang berujung gol ketika membantu AC Milan menahan imbang Juventus.
Tepatnya pada giornata 3 Liga Italia 2026/2027, grand partita Juventus vs AC Milan yang berlangsung di Turin, berakhir lewat kedudukan 1-1, Senin (7/9/2026) dini hari WIB.
Rossoneri, lebih dulu membuka keunggulan melalui sepakan Alphadjo Cisse di menit 68', sebelum akhirnya disamakan oleh Federico Gatti (90+2').
Kendati gagal meraup poin penuh, Ruben Amorim secara keseluruhan bangga atas performa anak asuhnya. Khususnya terhadap Alpha Cisse.
"Saya sangat senang dengan semua pemain. Namun, saya ingin berhati-hati terhadap para pemain muda karena sekarang semua orang cenderung membesarkan mereka terlalu cepat," ujar Amorim seperti yang dikutip DAZN, setelah pertandingan.
"Cisse masih sangat muda dan baru memulai kariernya. Dia harus terus berlatih dengan baik. Semua orang tentu senang melihat pemain muda tampil sangat baik. Ketika saya melihat Cisse, saya merasa dia masih bisa berkembang jauh lebih baik lagi," lanjutnya.
Kini yang menjadi pertanyaan, seperti apa sosok Alpha Cisse, pesepak bola 19 tahun yang digadang-gadang menjadi masa depan tim Merah Hitam.
Menukil dari laman Gazzetta, Cisse memiliki latar belakang sederhana, bahkan bukan berasal dari background atlet.
Di luar lapangan, Cisse dikenal sebagai sosok yang selalu murah senyum dan terbuka. Dalam waktu singkat, pemain keturunan Guinea yang lahir dan besar di Italia tersebut mulai mencuri perhatian publik Milan.
Cisse bahkan sudah memiliki ambisi besar untuk masa depan. Sebagai warga Italia, ia berharap suatu hari nanti mendapat kesempatan memperkuat tim nasional Italia.
Perjalanan menuju panggung Serie A tentu tidak datang secara instan.
Baca juga: Sanjung Inter, Legenda AC Milan Tunjuk 5 Tim Pengisi Gerbong Favorit Juara UCL 2026/2027
Cisse tumbuh dari keluarga kelas pekerja di kawasan Treviso dan sejak kecil menjalani kehidupan sederhana.
Kini, salah satu impiannya adalah mengubah kehidupan keluarganya sekaligus membuat kedua orang tuanya menikmati masa pensiun.
Berikut kisah dan sejumlah fakta menarik mengenai pemain muda yang kini mulai menjadi perhatian di San Siro tersebut.
Alpha Cisse lahir di San Liberale, sebuah kawasan pinggiran Treviso yang memiliki sejarah panjang.
Wilayah tersebut berkembang sebagai tempat tinggal bagi masyarakat yang kehilangan rumah akibat pemboman selama Perang Dunia II.
Di lingkungan itulah Cisse pertama kali mengenal sepak bola. Seragam pertamanya dikenakan ketika bergabung dengan Polisportiva Indomita 21.
Bakatnya mulai terlihat sejak usia dini. Setelah itu, Cisse melanjutkan perjalanan ke sektor junior Giorgione di Castelfranco Veneto.
Klub tersebut juga pernah menjadi tempat Yunus Musah menimba ilmu sepak bola ketika masih muda.
Kemampuan Cisse dalam mengolah bola bahkan sudah terlihat ketika usianya baru 11 tahun. Ia pernah mencetak gol langsung dari tendangan sudut.
Michele Cocco, salah satu pelatih pertamanya di Indomita 21, masih mengingat betul kemampuan sang pemain.
"Dia akan mengambil bola di area pertahanannya sendiri dan berlari untuk mencetak gol. Sebuah gerakan 'Veronica', sebuah gerakan tipuan, tidak ada yang bisa menghentikannya," kenang Cocco.
Cisse juga disebut memiliki pengaruh besar terhadap permainan timnya. Ketika ia tidak berada di lapangan, rekan-rekannya seolah kehilangan arah.
"Ketika dia tidak ada, rekan-rekan setimnya di lapangan tampak kehilangan arah. Mustahil untuk mengetahui berapa banyak gol yang dia cetak dalam satu musim," ujar salah satu orang yang pernah melihat perkembangan Cisse sejak kecil.
Bakat tersebut membuat Cisse kerap disebut sebagai pemain istimewa.
Bahkan, sebuah cerita dari masa juniornya menunjukkan betapa besar kepercayaan dirinya ketika berada di lapangan.
Dalam sebuah pertandingan, pelatih pernah menantangnya untuk hanya mencetak gol melalui tendangan salto. Cisse menjawab tantangan tersebut dengan mencetak tiga gol, semuanya melalui aksi akrobatik.
"Pelatih mengatakan kepadanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Dia mencetak tiga gol, semuanya dengan usaha akrobatik," kenang Marco Pinzi, Presiden Indomita 21.
Cerita tersebut seolah mengingatkan publik pada salah satu aksi salto paling ikonik di San Siro. Pada 1992, Marco van Basten pernah mencetak gol spektakuler dalam pertandingan Liga Champions antara AC Milan dan IFK Göteborg.
Kini, Cisse mulai menciptakan kisahnya sendiri bersama Rossoneri.
Baca juga: Gol ke Gawang MU Pembuka Percakapan, Pemain Baru AC Milan Minta Maaf pada Ruben Amorim
Sebelum melakukan selebrasi dengan meluncur di atas lutut seperti Didier Drogba setelah mencetak gol pertamanya di Serie A, Cisse telah melewati perjalanan panjang bersama keluarganya.
Kerendahan hati menjadi salah satu karakter yang melekat pada dirinya. Hal tersebut tidak terlepas dari didikan kedua orang tuanya yang sejak awal memilih meninggalkan Guinea demi mencari kehidupan yang lebih baik di Italia.
"Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia, mencoba berbagai kota. Akhirnya, mereka menetap di Treviso, tempat saya lahir," kata Cisse.
Ayahnya, Saloussy, bekerja sebagai buruh pabrik. Kesibukan mencari nafkah tidak menghalanginya untuk mendampingi sang anak mengejar cita-cita sebagai pesepak bola.
Ketika jadwal kerja sedang padat, Saloussy bahkan menyelesaikan pekerjaannya pada pukul 17.00 sebelum bergegas pulang untuk mengantar Alpha ke tempat latihan.
Sementara itu, ibunya, Habibatou, bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel.
"Saya biasa pergi ke lapangan bersamanya naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri," tutur Cisse.
Kehidupan sederhana tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Cisse hingga akhirnya menembus skuad AC Milan.
Bahkan, ketika ia menjalani pertandingan di Turin, orang tua, kakak perempuan, dan adik laki-lakinya tidak dapat hadir langsung.
Kesibukan pekerjaan membuat perjalanan tersebut sulit dilakukan, terutama karena sang ayah harus kembali bekerja pada Senin pagi.
Saloussy bahkan harus berangkat bekerja pada pukul 04.00 sesuai jadwal rutinnya. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kesuksesan Cisse di dunia sepak bola juga tidak terlepas dari pengorbanan keluarganya.
Karena itu, Cisse memiliki satu impian yang ingin diwujudkannya setelah kariernya berkembang.
"Untuk membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya berharap segera memiliki kemampuan untuk membuat mereka berhenti bekerja," ungkapnya.
Baca juga: 10 Transfer Pemain Termahal Liga Italia di Musim Panas 2026: AC Milan Mode Royal
Di balik perkembangan pesatnya sebagai pemain muda, Cisse juga memiliki sejumlah sosok yang menjadi inspirasi.
Nama pertama yang disebutnya adalah Lionel Messi. Tidak terlalu mengejutkan mengingat megabintang Argentina tersebut telah menjadi panutan bagi banyak pemain muda di seluruh dunia.
Inspirasi berikutnya adalah Lamine Yamal. Cisse bahkan menjadikan perkembangan pemain muda Barcelona itu sebagai salah satu gambaran mengenai level yang ingin dicapainya.
"Ambisinya adalah mencapai level tersebut," ujar Cisse ketika membicarakan Yamal.
Namun, ada satu nama lain yang mungkin sedikit lebih mengejutkan, yakni Paul Pogba.
Secara karakteristik permainan, Cisse memang tidak sepenuhnya sama dengan Pogba. Namun, gelandang asal Prancis tersebut menjadi salah satu pemain yang gerakannya coba dipelajari Cisse.
Beberapa aksinya mengingatkan pada gaya Pogba ketika masih berada di puncak performanya bersama Juventus.
(Tribunnews.com/Giri)