70 Persen Nelayan KNTI Kaltara tak Melaut Imbas Kabut Asap Makin Tebal di Laut Tarakan
Amiruddin September 07, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kabut asap yang menyelimuti perairan Tarakan, Kalimantan Utara, tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga membuat aktivitas nelayan ikut terdampak.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia ( KNTI ) Kaltara, Rustan, mengatakan kondisi kabut asap di perairan Tarakan, Kaltara saat ini semakin tebal.

Menurutnya, jarak pandang di laut bahkan diperkirakan hanya berkisar 50 hingga 100 meter. 

Kondisi tersebut membuat sejumlah rambu navigasi yang berada tidak jauh dari posisi nelayan sulit terlihat.

 "Ini lebih tebal ini.

Karena jarak pandang ini terbatas memang, kami tidak lihat ada rambu-rambu navigasi," ujar, Senin 7 September 2026.

Padahal jika normal, rambu navigasi tetap terlihat.

Rustan memperkirakan jarak pandang di laut saat kondisi tersebut tidak sampai 100 meter.

"Ini ndak sampai 100 meter ini kalau di laut ini.

Bayangkan ini rambu-rambu tidak ada kelihatan ini, dekat kita.

Padahal dekatnya kita sama rambu-rambu itu," ungkapnya.

Baca juga: Ini Alasan Harga Ikan Terasa Mahal di Pasar, KNTI Tarakan Ungkap Fakta

Pengaruhi Tangakapan

Ia mengatakan, keberadaan rambu navigasi biasanya menjadi salah satu panduan bagi nelayan, agar tidak tersesat ketika berada di laut.

Namun, kabut asap yang semakin tebal, membuat rambu tersebut bahkan tidak terlihat ketika nelayan sudah mendekatinya.

Rustan kembali memperkirakan jarak pandang nelayan di laut saat ini.

Ia menyebut posisi saat memberikan informasi pagi tadi, ia berada di perairan Kalimantan Utara, tepatnya di sebelah timur laut Tarakan.

Menurut Rustan, meski posisi nelayan masih tergolong dekat dengan Tarakan, ketebalan asap tetap terasa.

Bahkan, ia menyebut ujung bendera yang digunakan di kapal tidak terlihat meski dilengkapi lampu.

 "Iya, bayangkan ujung-ujung bendera kita aja ndak kelihatan, padahal ada lampunya.

Saking tebalnya.

Ini berbau," ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Rustan, telah dirasakan nelayan hampir selama satu bulan.

Dampaknya tidak hanya pada keselamatan saat berlayar, tetapi juga terhadap kemampuan nelayan menentukan arah menuju lokasi penangkapan ikan.

"Sudah hampir 1 bulan kita ini menderita ini.

Kenapa, karena kami terdampak karena tidak bisa menentukan panduan menuju tempat tangkap," keluhnya.

Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak mendukung juga berpengaruh terhadap aktivitas ikan di laut.

Rustan mengatakan, pada kondisi normal ketika bulan terang, nelayan biasanya dapat mengandalkan cahaya bulan dan matahari dalam aktivitas melaut.

Namun saat kondisi tertutup kabut, cahaya tersebut menjadi terbatas.

 "Kan biasanya kalau terang bulan seperti ini kan ikannya ada, tapi cahaya bulan, cahaya matahari semuanya terbatas," ujarnya.

Kondisi itu kemudian berimbas pada hasil tangkapan nelayan.

Rustan menyebut penurunan hasil tangkapan terjadi secara drastis.

Rustan juga mengatakan, kondisi kabut asap membuat mayoritas nelayan memilih tidak melaut.

Ia menyebut sekitar 70 persen nelayan saat ini tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut.

Artinya kurang lebih hanya 30 persen saja nelayan yang masih melaut.

Ada dua pertimbangan utama yang membuat nelayan mengurangi aktivitas melaut, yakni menghindari risiko tersesatm dan menghemat bahan bakar minyak (BBM). 

Terlebih, tidak semua nelayan menggunakan perangkat navigasi canggih di kapalnya.

Sebagian nelayan masih mengandalkan aplikasi pada telepon seluler untuk membantu menentukan arah ketika berada di laut.

 "Kami pakai GPS aplikasi di HP.

Itu pun bisa eror," lanjutnya.

Rustan mengatakan gangguan pada navigasi tersebut dapat menambah risiko bagi nelayan.

Kondisi semakin berisiko apabila baterai telepon seluler habis.

Karena itu, Rustan berharap ada solusi dari pemerintah untuk membantu nelayan menghadapi kondisi kabut asap yang menurutnya terjadi setiap tahun.

"Makanya harapan kita ini mudah-mudahan ada solusi, karena ini kan setiap tahun," lanjutnya.

Baca juga: KNTI Kaltara Berharap Nelayan Ikut SLCN Tahu Kondisi Cuaca di Laut: Minimal Dapat Baca Tanda Alam

Butuh Bantuan GPS

Salah satu solusi yang diharapkan Rustan adalah dukungan alat navigasi berupa GPS atau transponder bagi nelayan.

Menurutnya, bantuan alat tersebut penting untuk meningkatkan keamanan nelayan, ketika kondisi jarak pandang di laut sangat terbatas.

 "Seandainya tadi pemerintah mau memberikan GPS atau transponder, ini kan setiap tahun.

 Supaya kita tidak terlalu merasa beban di kabut asap ini," lanjutnya.

Rustan menjelaskan, GPS yang dimaksud bukan hanya berfungsi sebagai penunjuk arah biasa.

Ia mengibaratkannya sebagai kompas dengan kemampuan navigasi yang lebih canggih.

"Artinya kompas yang lebih canggih, bisa mendeteksi, bisa ada navigasinya, haluannya, apanya semua kan ada di dalam situ," bebernya.

Namun, harga perangkat tersebut masih menjadi salah satu kendala bagi nelayan.

Rustan memperkirakan harga GPS yang digunakan nelayan berada di kisaran Rp5 juta untuk satu unit.

Satu unit alat tersebut, menurut Rustan, dapat dimanfaatkan secara bersama oleh nelayan dalam satu kelompok.

Dengan pola tersebut, tidak semua perahu harus memiliki perangkat masing-masing.

Menurutnya, penggunaan secara berkelompok dapat menjadi solusi yang lebih memungkinkan bagi nelayan.

 "Jalannya berkelompok.

Misalnya kan begitu. 

Karena kalau sekarang, kita ndak tahu siapa yang punya GPS ini. 

Tapi kalau sudah jelas, oh ini kawan ini ada GPS, misalnya 1 kelompok 2 GPS kan itu memudahkan kita untuk mengakses menuju lokasi tangkap, kemudian menghemat BBM, kemudian mengurangi rasa takut," lanjutnya.

Selain persoalan navigasi dan keselamatan, Rustan juga menyebut adanya dampak terhadap hasil tangkapan nelayan.

Ia kembali menegaskan banyak nelayan memilih tidak melaut karena khawatir tersesat dan harus mengeluarkan BBM lebih banyak.

Ia menjelaskan kondisi cuaca dan cahaya bulan menjadi salah satu faktor yang menurutnya memengaruhi kondisi ikan.

Kabut yang menutup cahaya tersebut, kata Rustan, juga membuat kondisi suhu air menjadi lebih dingin.

"Iya, kabut yang menutup. Jadi suhu air itu agak ini, agak dingin.

Dia tidak terlalu dapat panas," lanjutnya.

Menurut Rustan, kondisi tersebut turut memengaruhi keberadaan ikan yang menjadi target tangkapan nelayan.

Rustan berharap kondisi kabut asap di perairan Tarakan dapat segera berlalu sehingga nelayan kembali dapat melaut dengan aman dan aktivitas penangkapan ikan tidak semakin terganggu. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.