BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Secangkir kopi hitam menjadi teman Heri (54), Senin (7/9/2026) siang. Duduk di sebuah warung kopi dekat terminal keberangkatan Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Heri sesekali memandang ke arah terminal yang tampak lebih lengang dari biasanya.
Baju kaos berwarna kuning masih melekat di tubuhnya. Kartu identitas bertuliskan namanya juga masih tergantung di leher.
Namun, hari itu tidak ada koper yang perlu diangkatnya.
Tak ada penumpang yang memanggil untuk menggunakan jasanya sebagai porter.
Di hadapannya, puluhan troli bagasi yang biasanya menjadi teman akrabnya justru tersusun rapi. Troli-troli itu seolah ikut menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Sudah 32 tahun Heri menjadi porter di Bandara Depati Amir. Ia bahkan telah menjalani pekerjaan tersebut sejak bandara lama masih beroperasi.
Selama puluhan tahun, mengangkat dan mengantarkan barang penumpang menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya.
Biasanya, Heri mulai bekerja sejak sekitar pukul 06.30 WIB, ketika penerbangan pertama mulai beroperasi, hingga sekitar pukul 18.00 WIB mengikuti penerbangan terakhir.
Namun, situasi berbeda dirasakannya sejak hari ini Senin (7/9/2026).
Aktivitas penerbangan di Bandara Depati Amir ikut terdampak setelah Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Jumlah penumpang yang berkurang otomatis membuat pekerjaan para porter ikut tersendat.
"Terhitung hari ini yang parah, penumpang tidak ada sama sekali. Kalau kemarin meskipun banyak yang gagal tapi tetap ada yang masuk, jadi tetap ada penghasilan," ujar Heri kepada Bangkapos.com, Senin (7/9/2026).
Jika pada hari normal Heri bisa membawa sejumlah barang penumpang dan mendapatkan penghasilan dari jasa tersebut, Senin pagi hingga siang justru berbeda.
Belum satu pun penumpang menggunakan jasanya.
"Belum sama sekali, kalau hari ini. Biasanya kalau dihari normal alhamdulillah ada lah Rp150 ribu gitu," kata Heri.
Tak ada pesanan mengangkat koper, tak ada barang yang harus didorong menggunakan troli.
Heri hanya bisa menunggu.
Menurutnya, kondisi pada Minggu masih sedikit berbeda. Saat itu masih ada penumpang yang belum mengetahui sepenuhnya mengenai gangguan penerbangan.
"Kalau kemarin masih ada karena penumpangnya belum banyak yang tahu. Jadi masih ada," ujarnya.
Penumpang yang tiba masih menggunakan jasa porter untuk membawa barang mereka.
Namun, Senin ini situasinya berubah.
Sebagian penumpang sudah mengetahui kondisi penerbangan. Mereka yang datang ke bandara lebih banyak langsung menuju bagian layanan untuk mengecek status penerbangan, apakah dijadwalkan ulang atau dibatalkan.
"Untuk hari ini, hari Senin, penumpangnya sudah tahu semua. Jadi barangnya di dalam mobil, dia hanya masuk untuk mengecek status tiketnya, mau berangkat kapan," kata Heri.
Kondisi itu membuat ruang gerak para porter semakin terbatas. Mereka tetap berada di sekitar bandara, tetapi tidak banyak yang bisa dikerjakan.
Selama menjadi porter, Heri mengaku penghasilannya tidak menentu.
Dalam sehari, pada kondisi tertentu, ia bisa memperoleh sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu dari jasa porter.
"Enggak tentu, Bu. Rp120 ribu, Rp150 ribu. Nah, itulah yang paling tingginya," tuturnya.
Penghasilan tersebut menjadi bagian dari sumber nafkah untuk keluarganya.
Karena itu, ketika aktivitas penerbangan terhenti, dampaknya langsung terasa bagi Heri dan pekerja porter lainnya.
Terlebih, menurut Heri, mereka tidak mendapatkan gaji tetap. Para porter juga tetap memiliki kewajiban untuk menyetor.
"Karena kita ini dari pihak pekerja porter ini enggak ada gaji dan kita menyetor. Itu yang jadi masalahnya," ujarnya.
Ketika tidak ada penerbangan dan tidak ada penghasilan, Heri terpaksa mengambil uang tabungan untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Bagi Heri, kondisi kali ini terasa lebih berat dibandingkan ketika pandemi Covid-19 melanda.
Ia memang pernah merasakan bagaimana sepinya aktivitas bandara saat pandemi. Namun, menurutnya, saat itu masih ada bantuan yang diterima para pekerja terdampak.
"Ya, kalau bisa dibilang memang lebih parah dari Covid-19 ini," kata Heri.
Menurut Heri, ketika pandemi Covid-19, sejumlah pihak masih memberikan perhatian kepada para pekerja di bandara.
"Kalau Covid-19 itu masih ada penghasilan dan terus ada bantuan dari pemerintah," ujarnya.
Kali ini, Heri belum mengetahui apakah akan ada bantuan bagi pekerja yang terdampak gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Ia hanya berharap ada perhatian bagi mereka yang penghasilannya bergantung pada aktivitas penerbangan.
"Ya, mudah-mudahan ada lah ya," ucapnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)