Laporan TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA - Gunung Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bergemuruh dalam beberapa hari terakhir.
Aktivitas gunung api yang berada di Pulau Lembata tersebut membuat warga di sejumlah desa yang berada di sekitar kawasan gunung merasa khawatir, termasuk masyarakat Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur.
Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake Watun, menyampaikan kondisi tersebut kepada TRIBUNFLORES.COM melalui pesan WhatsApp, Senin (7/9/2026) sore.
Menurut Nikolaus, dalam beberapa hari terakhir terdengar dentuman keras dari arah Gunung Ile Lewotolok. Suara tersebut terjadi berulang kali dan disertai getaran yang dirasakan warga.
Baca juga: Air Minum Pengungsi Gempa Flores di Palue Menipis, 3.340 Warga Masih Bertahan di Posko
“Beberapa hari dentumannya deras sekali. Kami warga di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur terganggu sekali. Tetapi kami sebagai aparat desa mau bantu ke mana untuk berlindung. Kami hanya berserah diri di bawah kaki Gunung Ile Api Tawa sambil menunggu pemerintah yang lebih tinggi. Jika ada hati, boleh membantu kami untuk evakuasi ke tempat yang lebih aman,” ujar Nikolaus.
Ia menjelaskan, dari sejumlah desa yang berada di sekitar Gunung Ile Lewotolok, Desa Jontona menjadi salah satu wilayah yang dinilai paling rawan karena berhadapan langsung dengan gunung tersebut.
“Desa kami yang paling parah. Desa kami berhadapan langsung dengan gunung. Desa ini juga tidak ada bukit di depan sehingga tidak ada penghalang kalau ada erupsi. Jarak desa kami dengan gunung hanya kurang lebih 4 kilometer,” paparnya.
Nikolaus juga mengungkapkan bahwa aliran lahar panas dari gunung disebut sudah mendekati kawasan permukiman warga.
“Lahar panas sudah dekat permukiman warga. Lahar panas sekitar 2 kilometer akan masuk ke rumah-rumah warga. Kali-kali besar yang menjadi kali tua cukup dalam sudah sekarang dan sudah ditutupi dengan lahar panas. Ada lahar panas yang sudah dingin dan menjadi batu hitam yang penuh di kali tua,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah desa berharap adanya langkah cepat dari pemerintah untuk mengantisipasi risiko terhadap keselamatan warga.
Nikolaus berharap pemerintah segera melakukan evakuasi warga dari kawasan rawan, mengingat Desa Jontona berada di zona merah dan memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Harapan dan catatan dari pemerintah desa di Jontona dan seluruh warga yakni kami berada di zona merah. Maka kami usul evakuasi atau bantuan rumah bagi 1.356 jiwa dan 365 KK atau 456 rumah siap bangun,” ujar Nikolaus.
Ia mengatakan seluruh dokumen terkait usulan tersebut telah disiapkan dan disampaikan kepada pemerintah daerah melalui BPBD, Dinas PUPR dan Dinas Perumahan untuk diteruskan kepada Bupati Lembata.
“Semua dokumen rumah sudah ada. Semua dokumen pengusulan sudah diantar ke BPBD, Dinas PUPR dan Dinas Perumahan untuk diteruskan kepada Bupati Lembata. Akan tetapi belum ada respons jelas. Kalau bisa, kami antar dokumen kami ke Jakarta saja,” pungkasnya. (Ris)