Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Erupsi Gunung Ile Lewotolok di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, NTT, terus menghantui warga di sekitar gunung api tersebut.
Gemuruh dan dentuman keras yang terdengar dari permukiman warga setiap hari membuat Kepala Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Nikolaus Ake Watun, meminta perhatian pemerintah pusat.
Kades Niko berharap Presiden RI Prabowo Subianto dapat turun tangan membantu meringankan beban warga Desa Jontona yang terdampak erupsi.
“Saya Kades Jontona bersama meminta bantuan kepada Presiden Prabowo bisa membantu kami di Desa Jontona yang terkena musibah erupsi gunung. Kami minta Presiden Prabowo tolong perhatikan kami,” ujar Kades Niko kepada TRIBUNFLORES.COM dari Lembata, Senin, 7 September 2026 sore.
Baca juga: Gunung Ile Lewotolok Lembata Kembali Erupsi, Kolom Abu 700 Meter Disertai Dentuman
Dalam video yang dikirim kepada TRIBUNFLORES.COM, Kades Niko mengatakan kondisi Desa Jontona saat ini membutuhkan perhatian dan bantuan pemerintah pusat.
Menurutnya, Desa Jontona berada di kawasan zona merah sehingga membutuhkan penanganan khusus, termasuk kemungkinan evakuasi warga ke tempat yang lebih aman.
Ia mengatakan suara dentuman dari Gunung Ile Lewotolok dalam beberapa hari terakhir terdengar sangat deras dan berulang kali. Kondisi tersebut juga disebut disertai gempa-gempa kecil yang dirasakan dan mengganggu warga.
“Beberapa hari dentumannya deras sekali. Kami warga di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur terganggu sekali. Tetapi kami sebagai aparat desa mau bantu, mau ke mana untuk berlindung? Kami hanya berserah diri di bawah kaki Gunung Ile Api Tawa sambil menunggu pemerintah yang lebih tinggi. Jika ada hati, boleh membantu kami untuk evakuasi ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Kades Niko menyebut Desa Jontona merupakan salah satu wilayah yang paling rawan karena berhadapan langsung dengan Gunung Ile Lewotolok.
“Desa kami yang paling parah. Desa kami berhadapan langsung dengan gunung. Desa ini juga tidak ada bukit di depan sehingga menjadi penghalang kalau ada erupsi. Jarak desa kami dengan gunung hanya kurang lebih 4 kilometer,” paparnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa aliran lahar panas dari gunung sudah mendekati permukiman warga.
“Lahar panas sudah dekat permukiman warga. Lahar panas sekitar 2 kilometer akan masuk ke rumah-rumah warga. Kali-kali besar yang menjadi kali tua cukup dalam sudah sekarang dan sudah ditutupi dengan lahar panas. Ada lahar panas yang sudah dingin dan menjadi batu hitam yang penuh di kali tua,” katanya.
Karena kondisi tersebut, Kades Niko berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi warga Desa Jontona dari ancaman erupsi dan lahar panas.
Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas mengingat Desa Jontona berada di kawasan zona merah dan memiliki tingkat kerawanan tinggi.