Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Nama aktivis Kholid Miqdar dicatut oleh orang tak dikenal untuk melakukan dugaan penipuan dengan modus meminta bantuan dana kepada sejumlah orang yang memiliki relasi dengannya.
Merasa dirugikan dan khawatir aksi tersebut menimbulkan lebih banyak korban, Kholid Miqdar mendatangi Polres untuk membuat laporan polisi terkait dugaan pencatutan nama dan pencemaran nama baik.
Kholid mengatakan, pelaku menggunakan nomor WhatsApp miliknya sendiri dengan memasang foto profil Kholid.
Nomor tersebut kemudian digunakan untuk menghubungi sejumlah orang yang dianggap memiliki hubungan atau mengenal dirinya.
Baca juga: Kronologi Lengkap Kecelakaan KH Ahmad Fudholi di Tol Tangerang-Merak: Tabrak Truk di Bahu Jalan
"Saya datang ke Polres dalam rangka membuat laporan polisi terkait ada seseorang yang mencatut nama saya atas nama Kholid Miqdar. Terduga pelaku itu melakukan dugaan penipuan dengan cara menggunakan nomor WhatsApp-nya sendiri, menggunakan foto profil saya, kemudian melakukan penipuan kepada orang-orang yang dianggap punya relasi dengan saya," kata Kholid, Senin, (7/9/2026).
Ia mengaku mengetahui adanya aksi tersebut setelah sejumlah korban mengonfirmasi kepada orang yang mereka kenal dan kebetulan memiliki hubungan dengan Kholid.
Dua orang yang telah mengonfirmasi terkait dugaan penipuan tersebut yakni Ahmad Muhibbin, anggota DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi Gerindra, dan Eki Baehaki, anggota DPRD Kabupaten Serang dari Fraksi Demokrat.
Kholid menyebut Ahmad Muhibbin sempat dimintai sumbangan oleh seseorang yang mengatasnamakan dirinya. Bahkan, Ahmad Muhibbin disebut telah mentransfer uang sekitar Rp2 juta.
"Salah satunya saya mengetahui hal ini ketika beberapa korban mengonfirmasi ke saudaranya yang kebetulan kenal dengan saya. Pertama, Bapak Ahmad Muhibbin, dewan dari Gerindra, dan beliau dimintai sumbangan dana oleh seseorang yang mengatasnamakan saya," ujarnya.
"Kedua, dewan dari Fraksi Demokrat, Eki Baehaki, sempat dimintai sumbangan atas nama saya," sambungnya.
Menurut Kholid, modus yang digunakan pelaku berdasarkan percakapan WhatsApp adalah meminta bantuan untuk kepentingan pribadi.
Ia pun mengingatkan masyarakat yang mengenal dirinya agar tidak mudah percaya apabila ada pihak yang mengatasnamakan Kholid Miqdar, baik secara pribadi maupun organisasi, kemudian meminta bantuan dalam bentuk materi.
"Saya menyampaikan kepada khalayak banyak, baik orang-orang yang mengenal saya maupun orang-orang yang saya kenal, ingin mengonfirmasi bahwa jika ada orang yang mengatasnamakan saya, baik secara pribadi, organisasi, saudara saya, atau apa pun, kemudian meminta bantuan yang sifatnya materi, saya pastikan itu bukan saya. Jauh seperti langit dan bumi," tegasnya.
Kholid memastikan dirinya tidak pernah meminta-minta bantuan dengan cara tersebut.
Ia juga meminta masyarakat segera melakukan konfirmasi apabila mendapatkan pesan dari nomor yang mengatasnamakan dirinya.
"Sesusah apa pun kami, kami sudah pastikan bahwa kami tidak akan meminta-minta seperti itu," katanya.
Kholid menambahkan, nomor WhatsApp yang diduga digunakan pelaku hingga kini masih aktif.
Namun, foto profil yang digunakan telah diganti dengan logo Koalisi Rakyat Banten.
Ia menduga pelaku berasal dari wilayah Kabupaten Serang atau Kota Serang. Dugaan tersebut muncul karena pelaku dinilai menggunakan bahasa Jawa Serang dalam percakapan melalui WhatsApp.
"Kalau pelaku saya prediksi ini dari wilayah Kabupaten Serang atau Kota Serang, karena saya melihat dari percakapan WhatsApp, dia bisa menggunakan bahasa bebasan Jawa Serang," ujarnya.
Kholid mengatakan, dirinya telah menerima tanda bukti laporan dari kepolisian. Ia berharap laporan tersebut segera ditindaklanjuti agar pelaku tidak semakin masif menjalankan aksinya.
"Alhamdulillah, kita sudah menerima tanda laporannya dan mudah-mudahan cepat diproses. Karena kalau tidak diproses, orang ini akan bergerak secara masif, nanti korbannya lebih banyak lagi," katanya.
Selain dugaan penipuan, Kholid menduga pencatutan namanya berkaitan dengan upaya menggembosi gerakan yang selama ini dilakukannya dalam membela kepentingan masyarakat.
Menurut dia, penggunaan namanya dalam aksi tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap dirinya dan perjuangan yang selama ini dilakukan.
"Ini ada kaitannya dengan upaya penggembosan gerakan yang selama ini saya lakukan dalam membela masyarakat. Saya saat ini menjadi sosok figur dalam gerakan rakyat. Kemudian ini bisa jadi untuk pembunuhan karakter terhadap perjuangan saya," ujarnya.
Kholid menilai, pencatutan namanya dapat membentuk framing seolah-olah dirinya tidak memperjuangkan kepentingan umat, melainkan memanfaatkan gerakan tersebut untuk kepentingan pribadi.
"Sehingga ke depan ini membuat cedera nama baik saya," pungkasnya.