Langit Jakarta Masih Kelabu, Pramono Perpanjang PJJ dan Terjunkan Pasukan Water Mist
Budi Sam Law Malau September 07, 2026 07:17 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Kepulan abu vulkanik yang membayangi Ibu Kota rupanya belum sepenuhnya pergi.

Meski intensitasnya mulai menyusut, udara Jakarta masih menyimpan ancaman tak kasatmata bagi kesehatan.

Demi melindungi jutaan pelajar dari paparan debu vulkanik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah tegas: memperpanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga Selasa, 8 September 2026.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyadari betul risiko yang masih mengintai di balik awan kelabu.

Ia menegaskan, kesehatan dan keselamatan warga—terutama anak-anak sekolah—adalah prioritas tak tertawar.

"Abu vulkaniknya memang sudah mengalami penurunan yang luar biasa. Tetapi di beberapa daerah masih cukup pekat, dan kami masih memerlukan waktu satu hari lagi untuk memperpanjang PJJ sampai besok," ungkap Pramono saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Senin (7/9).

Instruksi Hitam di Atas Putih

Pramono memastikan kebijakan ini tak sekadar imbauan lisan.

Ia telah menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, untuk segera menerbitkan Surat Edaran (SE) resmi hari ini.

"Di Jakarta tidak cukup hanya dengan statement saya. Harus ada Surat Edaran dari Kepala Dinas Pendidikan sebagai dasar aturan yang jelas, agar seluruh sekolah serempak menerapkannya," tegasnya.

Baca juga: Saat Siswa Jalani PJJ, Petugas Kebersihan Tetap Membersihkan Abu Vulkanik di SDN Anyelir 01 Depok

Gempuran Water Mist dan Pembagian Masker

Sementara anak-anak belajar dengan aman di rumah, jalanan Ibu Kota justru sedang "dibersihkan" besar-besaran.

Pemprov DKI meluncurkan operasi cuci udara dengan mengerahkan armada pemadam kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga Satpol PP.

Tak hanya mengandalkan fasilitas pemerintah, Pramono juga mengetuk kesadaran sektor swasta.

"Gedung-gedung pencakar langit yang memiliki fasilitas water mist, kami minta untuk segera mengaktifkannya sekarang juga," pintanya.

Di tingkat jalanan, relawan dan petugas terus menyisir area padat aktivitas.

Ribuan masker dibagikan secara cuma-cuma untuk memastikan setiap warga yang terpaksa bekerja di luar ruang memiliki tameng pelindung pernapasan.

Langkah Darurat di Tengah Car Free Day

Kewaspadaan tinggi Pemprov DKI dalam memitigasi dampak abu ini sejatinya telah diuji sejak akhir pekan.

Pada hari bebas kendaraan bermotor atau Car Free Day (CFD) Minggu (6/9), petugas terpaksa mengambil keputusan tidak populer namun krusial: membubarkan keramaian lebih awal.

"Kemarin jam 09.00 CFD sudah kami tutup. Setelah jalanan kosong, kami langsung turun membagikan masker dan melakukan penyemprotan massal di sepanjang jalan protokol," cerita Pramono.

Terkait penanganan skala nasional di luar yurisdiksi Jakarta, Pramono memilih bersikap kooperatif dengan menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada pemerintah pusat.

Fokus utamanya saat ini tak bergeser: memastikan denyut kehidupan Jakarta tetap berjalan aman, tanpa mengorbankan paru-paru warganya di tengah kepungan abu vulkanik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.