Baca juga: Mengenal Abu Vulkanik GAK: Bukan Sekadar Debu, Ada ‘Beling Mikro’
Selain itu, konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung dan sekitarnya tercatat mencapai 212–224 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori tidak sehat.
Sulfur Dioksida sendiri merupakan gas vulkanik yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang hingga Senin (7/9/2026) masih berstatus Level III atau Siaga.
Kondisi itu membuat abu vulkanik berpotensi menyebabkan iritasi jika terhirup atau mengenai mata maupun kulit.
Sementara itu, pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi SO₂ di Bandar Lampung dan sekitarnya berada pada kisaran 212–224 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi paparan abu vulkanik.
"Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas apabila tidak mendesak, serta menutup ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu," kata Wahyu, Senin (7/9/2026)
Masyarakat juga diminta segera menuju fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan maupun iritasi. Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau hingga Senin pagi.
Pada Minggu (6/9/2026) pukul 20.23 WIB, tercatat satu kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 58 milimeter dan durasi 44 detik.
Dalam periode pengamatan enam jam tersebut juga tercatat 50 kali gempa Low Frequency, 61 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, serta satu kali gempa Tremor Menerus.
Memasuki Senin, 7 September 2026, Wahyu mengonfirmasi bahwa aktivitas kegempaan masih berlangsung.
Pada periode pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat empat kali gempa Hembusan, 17 kali gempa Harmonik, 34 kali gempa Low Frequency, dan 44 kali gempa Hybrid/Fase Banyak.
Kondisi gelombang laut di sekitar wilayah pemantauan dilaporkan tenang.
Pada periode pukul 06.00–12.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga), dengan kondisi puncak tertutup kabut hingga mendung.
Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Aktivitas kegempaan juga masih berupa gempa Harmonik, Low Frequency, Hembusan/Fase Banyak, dan Tremor Menerus.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 menggunakan citra True Color dan Air Mass RGB hingga pukul 10.00 WIB, belum terdeteksi adanya awan panas dari Gunung Anak Krakatau.
BPBD Lampung mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari BPBD, BMKG, dan PVMBG serta tidak panik dalam menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)