BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tangis Atikah tak kuasa ditahan saat menceritakan kembali kabar yang diterimanya tentang putra pertamanya, M Farhan Alkatiri (13), yang meninggal dunia setelah tenggelam saat mengikuti Kemah Akbar di kawasan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Minggu (6/9/2026).
Sejak pagi, Atikah mengaku sudah berulang kali menghubungi telepon Farhan. Namun, tidak ada jawaban. Karena khawatir, ia kemudian menghubungi ibu dari teman Farhan untuk menanyakan keberadaan anaknya.
“Saya kaget, telepon-telepon sejak pagi tidak diangkat. Saya hubungi mamanya teman Farhan, saya tanyai di mana. Dicari katanya,” tutur Atikah.
Kekhawatirannya semakin menjadi ketika seorang temannya menelepon sambil menangis dan meminta dirinya segera datang.
Baca juga: Dua Siswa MTs Al Furqan Meninggal Tenggelam di Kolam Kampus UMB Batola
Saat itu Atikah masih berada di kawasan Gambut. Ia kemudian mencoba meminta bantuan melalui grup sekolah.
“Langsung di grup sekolah saya chat, tolong anak saya. Tidak ada yang merespons. Tolong anak saya dibawa ke mana,” katanya.
Atikah kemudian mendapat informasi bahwa Farhan dibawa ke RSUD dr H Moch Ansari Saleh Banjarmasin.
Ia pun langsung mendatangi rumah sakit tersebut. Namun, Farhan ternyata tidak berada di sana.
Belakangan ia mendapat informasi bahwa anaknya dibawa ke Klinik Setara di Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala. Kondisi tersebut membuat Atikah mempertanyakan penyampaian informasi dari pihak sekolah.
Ia mendapat informasi bahwa beberapa siswa sempat masuk atau terjatuh ke kolam. Tiga siswa disebut berhasil diselamatkan, sementara Farhan dan seorang siswa lainnya, Rizqi Adly Fakhrian (13), meninggal dunia.
Menurut Atikah, ada pula teman Farhan yang sempat melihat putranya berada di kolam.
Bahkan, ia mendapat cerita ada siswa yang sempat mencoba memegang Farhan dan ada pula yang melaporkan kejadian tersebut kepada guru.
“Bahkan ada temannya cerita sempat memegang tapi tidak tahan dan si Farhan malah tetap jatuh lebih dalam. Ada juga yang melapor ke guru saat itu, tapi tidak bisa,” katanya.
Atikah juga mempertanyakan aktivitas siswa di sekitar kolam tersebut. Menurut informasi yang diterimanya, siswa sebelumnya mengikuti permainan yang membuat pakaian mereka kotor. Setelah itu, mereka disebut diarahkan untuk mencuci kaki di kolam.
“Terus cuci di sana, kenapa tidak di WC saja, kan ada WC di sana,” ujarnya.
Ia juga mengaku telah mendatangi lokasi dan mendapat informasi mengenai kedalaman kolam. Namun, angka kedalaman tersebut masih menjadi informasi yang diterima keluarga dan belum dikonfirmasi kepada pengelola lokasi.
Bagi Atikah, berbagai pertanyaan itu kini menjadi bagian dari upayanya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya.
Baca juga: Kronologi Anggota BPK Tenggelam Saat Padamkan Api di Komplek DPR Banjarmasin, Bawa Slang ke Sungai
Farhan merupakan anak pertama dalam keluarganya.
“Ini anak pertama, laki-laki. Saya tidak membayangkan ini kejadian,” ucapnya.
Atikah mengatakan kasus tersebut telah dilaporkan kepada pihak berwajib. Ia berharap kronologi kejadian dapat diungkap secara jelas.
“Saya mau tahu pasti bagaimana kejadiannya,” katanya.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)