Pasokan Sudah Ditambah 27 Persen, Tapi Antrean Solar di Pekanbaru Masih Mengular Ratusan Meter
Ariestia September 07, 2026 09:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Penambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM) hingga 27 persen ternyata belum sepenuhnya mengurai antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Pekanbaru.

Antrean untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Biosolar masih menjadi pemandangan sehari-hari.

Puluhan hingga ratusan truk, bus dan dump truck tampak mengular di sejumlah SPBU, bahkan antreannya meluber hingga ke bahu jalan dan memicu kepadatan lalu lintas.

Pantauan di lapangan, Senin (7/9/2026), antrean panjang terlihat terutama di kawasan Panam dan Jalan SM Amin.

Deretan kendaraan berat sudah memenuhi sisi jalan sejak pagi. 

Di beberapa titik, panjang antrean mencapai ratusan meter.

Salah satunya terlihat di SPBU Jalan HR Soebrantas, tepatnya di seberang Pasar Selasa. Antrean truk memanjang dari area SPBU hingga nyaris mencapai Simpang Panam.

Kendaraan-kendaraan besar memenuhi bahu jalan sehingga ruang bagi kendaraan lain semakin terbatas. Arus lalu lintas pun melambat, terutama ketika volume kendaraan meningkat pada jam-jam sibuk.

Pemandangan serupa terlihat di SPBU Jalan HR Soebrantas yang berada tidak jauh dari Pondok Pesantren Babussalam.

Barisan truk pengangkut barang dan dump truck mengular sambil menunggu giliran mendapatkan Biosolar.

Kondisi di Jalan SM Amin juga tidak jauh berbeda. Di SPBU dekat Simpang Tabek Gadang, puluhan kendaraan berat berjejer di sisi jalan dan antreannya menjulur ke arah persimpangan.

Namun, antrean paling panjang terlihat di SPBU Jalan SM Amin yang berada di samping Kantor Pelayanan Pajak. Deretan kendaraan mengular dari SPBU hingga melewati Simpang Tugu Songket.

Antrean bahkan berlanjut ke arah Jalan Tuanku Tambusai dan nyaris mencapai kawasan Sekolah Al Ulum.

Panjang antrean membuat sebagian badan dan bahu jalan dipenuhi kendaraan berat.

Pengendara mobil maupun sepeda motor terpaksa mengurangi kecepatan saat melintas karena ruang jalan menyempit akibat truk yang berhenti menunggu giliran.

Sebagian besar kendaraan yang terlihat mengantre merupakan truk logistik, kendaraan pengangkut material, dump truck hingga bus antarkota yang menggunakan solar untuk menunjang aktivitas operasional sehari-hari.

Meski antreannya panjang, situasi di sejumlah SPBU tersebut terpantau tetap tertib. Para sopir menunggu giliran sambil sesekali memajukan kendaraan beberapa meter ketika antrean mulai bergerak.

Di tengah antrean yang masih terjadi, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyebut pasokan BBM ke Riau justru sudah ditingkatkan cukup signifikan.

Sales Area Manager Retail Riau PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya, mengatakan pasokan pada Agustus hingga September 2026 telah bertambah sekitar 27 persen jika dibandingkan rata-rata pasokan pada April 2026.

"Kalau dibandingkan rata-rata April, posisi Agustus sampai September ini pasokan yang kami salurkan sudah naik sekitar 27 persen. Artinya memang kebutuhan masyarakat sedang meningkat," kata Wilson saat konferensi pers di Pekanbaru, Senin (7/9/2026).

Artinya, menurut Pertamina, antrean yang masih terlihat di lapangan bukan semata-mata karena pasokan tidak ditambah. Kenaikan penyaluran BBM ternyata dibarengi dengan lonjakan kebutuhan masyarakat.

Wilson mengungkapkan setidaknya ada dua faktor yang ikut mendorong peningkatan konsumsi tersebut.

Selain kebutuhan masyarakat yang memang meningkat, Pertamina mendeteksi adanya pergeseran sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Peralihan tersebut salah satunya diduga dipengaruhi perbedaan harga setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 1 September 2026.

"Setelah ada penyesuaian harga per 1 September, mungkin ada masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi kemudian beralih ke BBM subsidi. Khusus untuk solar, kondisi seperti ini memang terlihat," jelas Wilson.

Kondisi tersebut membuat tambahan pasokan yang sudah dilakukan Pertamina harus berhadapan dengan pertumbuhan permintaan yang juga tinggi.

Persoalan kebutuhan BBM ini juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Riau. Pemprov terus berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memantau pasokan dan distribusi BBM.

Di tengah antrean yang masih terjadi, Pertamina memastikan stok BBM di Riau dalam kondisi aman. Wilson mengatakan penerimaan pasokan juga terus berlangsung, termasuk melalui kapal untuk menjaga ketersediaan BBM di depot.

"Stok Pertamina aman. Saat ini kami juga sedang melakukan aktivitas penerimaan kapal. Jadi stok yang ada di depot dalam kondisi siap untuk mendukung distribusi ke SPBU," katanya.

Pertamina juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah di 12 kabupaten/kota. Sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan seperti Rokan Hilir, Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir mendapat perhatian karena karakteristik konsumennya berbeda.

Di daerah tersebut, kebutuhan BBM tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor. Nelayan tradisional juga membutuhkan BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurut Wilson, nelayan tetap mendapatkan hak memperoleh BBM sesuai ketentuan melalui mekanisme surat rekomendasi elektronik atau e-STARE.

"Nelayan yang menggunakan kapal tradisional tetap diberikan haknya sesuai aturan. Sekarang pengisian BBM menggunakan surat rekomendasi dalam bentuk e-STARE yang diterbitkan melalui aplikasi regulator," jelasnya.

Pertamina juga meminta masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan. Sebab, pembelian dalam jumlah besar di luar kebutuhan dinilai berpotensi memperpanjang antrean dan mengganggu konsumen lainnya.

"Kondisinya aman dan distribusi tetap berjalan. Kami berharap masyarakat tetap tenang dan menggunakan BBM secukupnya sesuai kebutuhan," kata Wilson.

Jika masyarakat menemukan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi di SPBU, Pertamina meminta agar informasi tersebut dilaporkan secara lengkap, terutama lokasi, tanggal dan waktu kejadian.

"Kalau ada informasi, akan lebih baik disertai jam dan tanggalnya. Dengan begitu kami bisa cek langsung melalui CCTV di SPBU. Kalau waktunya tidak jelas, tentu akan lebih sulit untuk menelusurinya," kata Wilson.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau, Ismon Diondo Simatupang, mengatakan Pemprov Riau bahkan telah mengusulkan penambahan kuota BBM untuk 2027.

Untuk Biosolar, kuota diusulkan naik dari 1.051.207 kiloliter menjadi 1.150.000 kiloliter.

Artinya, terdapat usulan kenaikan sekitar 9 hingga 10 persen.

"Biosolar kita usulkan dari 1.051.207 kiloliter menjadi 1.150.000 kiloliter. Jadi kurang lebih kita tingkatkan sekitar 9 sampai 10 persen," kata Ismon.

Sementara untuk Pertalite, Pemprov mengusulkan tambahan sebesar 99.700 kiloliter atau sekitar 11 hingga 12 persen dibandingkan kuota sebelumnya.

"Kalau Pertalite kita usulkan tambahan 99.700 kiloliter. Kenaikannya sekitar 11 sampai 12 persen," ujarnya.

Meski demikian, usulan tersebut belum menjadi keputusan final. Penetapan besaran kuota berada di tangan BPH Migas.

Evaluasi penyaluran BBM untuk triwulan IV juga dijadwalkan dibahas bulan ini. Hasil evaluasi tersebut nantinya menjadi salah satu bagian penting untuk melihat kebutuhan BBM di Riau hingga akhir tahun. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.