TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Kepulauan Anambas selama hampir dua pekan mulai menjadi perhatian dari sisi kesehatan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepulauan Anambas mencatat terdapat 114 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode kabut asap.
Kabut asap diketahui mulai melanda wilayah Anambas sejak 24 Agustus 2026.
Hingga Senin (7/9/2026), kondisi tersebut masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Artinya, kabut asap telah menyelimuti Anambas selama sekitar dua pekan.
Kondisi udara yang dipenuhi asap membuat masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta lebih waspada terhadap gangguan kesehatan pernapasan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Anambas, Feri Oktavia mengatakan, kasus ISPA sepanjang 2026 memang mengalami pergerakan yang naik turun.
Menurutnya, jumlah kasus tidak menunjukkan pola peningkatan yang terus-menerus.
Kasus ISPA dapat berubah dari satu pekan ke pekan berikutnya sesuai kondisi di lapangan.
"Sejak awal tahun 2026, kasus ISPA memang sangat fluktuatif. Artinya, jumlahnya tidak menentu dan tidak ada peningkatan kasus yang drastis," ujar Feri Oktavia kepada TRIBUNBATAM.id, Senin (7/9/2026).
Ia mengatakan, sebelum kabut asap melanda Anambas, kondisi kasus ISPA masih tergolong normal.
Tidak terlihat lonjakan kasus yang signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Sebelum ada kabut, masih normal kasus ISPA. Ya fluktuatif saja, tidak ada peningkatan drastis. Saat ini saja pada pekan 35 tercatat 114 kasus," katanya.
Feri menjelaskan, berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), kasus ISPA sebelum kabut asap atau pada pekan ke-32 tercatat sebanyak 133 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa kasus ISPA memang sudah ditemukan sebelum kabut asap menyelimuti Anambas.
Karena itu, angka kasus yang tercatat saat ini tidak serta-merta seluruhnya dapat dikaitkan dengan kabut asap.
"Pada pekan ke-32, sebelum adanya kabut asap, berdasarkan data SKDR tercatat ada 133 kasus ISPA," jelasnya.
Menurut Feri, ISPA merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Keluhan tersebut menjadi salah satu kondisi yang banyak ditangani oleh petugas kesehatan di Puskesmas.
"ISPA ini sebenarnya merupakan penyakit yang paling banyak kita temui di fasilitas kesehatan tingkat pertama," ucap Feri.
Ia mengatakan, setiap Puskesmas di Anambas diminta bergerak cepat ketika menerima pasien dengan keluhan yang mengarah pada ISPA.
Petugas kesehatan akan melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien.
"Setiap Puskesmas bergerak cepat jika ada pasien yang mengeluh ISPA. Kami melakukan surveilans secara cepat dan tepat, kemudian memberikan arahan sesuai kondisi pasien," katanya.
Feri menambahkan, masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara sedang buruk.
Ia juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
"Kami tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan menggunakan masker. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih terjadi," pungkasnya. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)