Liputan6.com, Jakarta - Irak membangun rute pipa minyak baru menuju Laut Mediterania melalui Turki dan Suriah. Langkah ini diambil untuk melepaskan ketergantungan ekspor dari Selat Hormuz.
Pemerintah Irak berencana meningkatkan kapasitas ekspor minyak mentahnya hingga mencapai 5 juta barel per hari (barrels per day/bpd). Langkah ini dilakukan seiring dengan pembangunan jalur distribusi baru yang tidak lagi bergantung pada Selat Hormuz.
Melansir Anadolu Agency, Senin (7/9/2026), Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed Khudair menyatakan kepada Iraqi News Agency (INA) bahwa volume ekspor minyak Irak telah kembali menyentuh angka 3 juta bpd sejak awal September.
Pemerintah Irak berambisi menambah kapasitas tersebut hingga 5 juta bpd setelah proyek pembangunan pipa strategis yang menghubungkan ladang-ladang minyak Irak ke Fishkhabur di utara serta Pelabuhan Banias di pesisir Laut Mediterania, Suriah, selesai dikerjakan.
Guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, Perdana Menteri Irak Ali Faleh al-Zaidi telah menginstruksikan pembangunan dua rute pipa minyak utama, yakni jalur Basra–Haditha–Fishkhabur dan Haditha–Banias.
Langkah perluasan rute ekspor ini diambil menyusul tingginya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz akibat gesekan antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan data resmi, Irak memiliki cadangan minyak terbukti mencapai 145 miliar barel. Sebelum konflik kawasan memanas pada Februari lalu, ekspor minyak Irak sempat anjlok drastis dari 3,3 juta bpd menjadi 1,3 juta bpd, sebelum akhirnya perlahan pulih pada Juli dan Agustus 2026.