Liputan6.com, Jakarta - Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K) mengungkapkan anak dengan riwayat asma bila terpapar abu vulkanik bisa memicu serangan akut.
"Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas Wahyuni.
Selain itu, anak dengan penyakit jantung bawaan dan bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga masuk dalam kelompok berisiko tinggi.
Maka dari itu, Wahyuni mengingatkan bila anak menunjukkan masalah pernapasan bisa segera dibawa ke rumah sakit atau dokter.
"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Wahyuni.
Untuk mencegah muncul masalah kesehatan terutama pada anak asma dan yang berisiko tinggi, Wahyuni mengatakan langkah paling ideal adalah mengungsikan anak menjauh dari lokasi terdampak.
"Jika tidak memungkinkan, upaya terbaik adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah dengan kondisi rumah tertutup rapat untuk mencegah abu masuk," tuturnya.
Mengingat pasien asma dan alergi saluran napas rentan alami serangan akut, maka orangtua perlu menyiapkan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan.
Untuk melindungi anak dari dampak paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, berikut 13 rekomendasi Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI: