SURYA.co.id, LUMAJANG - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berdampak langsung terhadap aktivitas dan pendapatan pengemudi ojek online (ojol).
Salah satunya dirasakan Holil, driver ojol asal Desa Grati, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang.
Pada Senin (7/9/2026), Holil harus mengantre selama sekitar 30 menit di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sukodono Lumajang untuk mendapatkan Pertalite.
Saat ditemui, Holil masih harus menunggu sekitar 10 kendaraan di depannya untuk mendapatkan BBM subsidi tersebut.
Kondisi itu membuat waktu kerjanya tersita. Bahkan, dalam sehari Holil mengaku telah membatalkan tiga orderan karena BBM kendaraannya tidak cukup untuk mengantarkan pesanan.
"Sudah tiga kali antre SPBU, di Bago tadi saya cari tidak ada, sekarang SPBU ketiga. Pembatalan orderan sudah otomatis terjadi, ada mungkin 3 orderan terpaksa dibatalkan, la wong antre BBM," ujarnya.
Baca juga: Antrean BBM di Bondowoso Jawa Timur, Pertamina Tambah Pasokan dan Suplai dari Surabaya
Menurut Holil, kondisi kelangkaan BBM tersebut sudah berlangsung sekitar lima hari.
Ia menyebut hampir setiap SPBU mengalami antrean panjang karena banyak masyarakat yang berusaha mendapatkan Pertalite.
"Ini saya sudah tiga puluh menit antre, sampai sekarang belum juga dapat. Otomatis tidak bisa kerja," ucapnya.
Tidak hanya di SPBU, Holil juga kesulitan mendapatkan BBM eceran. Kios-kios penjualan BBM eceran disebutnya ikut kehabisan stok.
"Sempet kemarin cari pertalite tidak ada barangnya (di SPBU) jadi tidak bisa kerja. Cari eceran juga tidak ada," kata Holil.
Situasi tersebut membuat aktivitas pengemudi ojol ikut terganggu. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menerima dan mengantarkan pesanan justru tersita untuk mencari serta mengantre BBM.
Baca juga: BBM Langka di Bondowoso Jatim, Beli Pertalite Eceran Tembus Rp20.000, Imbas Macet Di Ketapang
Pertamina Patra Niaga menjelaskan antrean BBM di sejumlah SPBU di Lumajang dan wilayah sekitarnya berkaitan dengan kendala distribusi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kemacetan panjang di wilayah Ketapang, Banyuwangi, menghambat mobil tangki dalam mengirim BBM menuju SPBU.
Kemacetan di jalur tersebut mencapai sekitar 12 kilometer seiring adanya revitalisasi kapasitas dermaga ASDP.
Menurut Ahad, kondisi itu membuat pengiriman BBM ke wilayah Jember, Lumajang, dan sekitarnya belum berjalan optimal.
"Kami memahami adanya antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Jember, Lumajang dan sekitarnya. Pertamina terus memperkuat penyaluran dan mengatur prioritas pengiriman, khususnya untuk SPBU di pusat kota," tanggapnya.
Selain memperkuat penyaluran, Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang untuk mencegah terjadinya panic buying.
Masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan dan tetap membeli sesuai kebutuhan.
"Di saat yang sama, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan,” kata Ahad
Pertamina juga telah memetakan kebutuhan BBM di masing-masing wilayah untuk mengatur prioritas pengiriman.
Langkah tersebut dilakukan dengan memperkuat pasokan Pertalite melalui optimalisasi dan alih supply agar distribusi dapat berjalan lebih lancar.
"Pertamina merespons kebutuhan tersebut dengan memperkuat penyaluran. Pada 5 September 2026, realisasi supply Pertalite telah mencapai sekitar 110 persen yang menunjukkan bahwa proses build up stok di SPBU mulai berjalan," imbuhnya.
Pertamina juga berkoordinasi dengan IT Tanjungwangi Banyuwangi untuk mendorong alih supply dari IT Surabaya dan IT Malang.
Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan BBM di SPBU Lumajang sekaligus mengurai antrean panjang.
"Dengan demikian armada dapat lebih difokuskan untuk memperkuat penyaluran BBM di wilayah Jember, Lumajang dan sekitarnya. Pertamina memastikan ketersediaan BBM tetap menjadi prioritas dan penyaluran terus dipantau secara berkala," bebernya.