Bandara Soetta Tutup hingga Tengah Malam, Runway dan Pesawat Dibersihkan dari Abu Vulkanik
Feryanto Hadi September 07, 2026 11:32 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta diperpanjang penutupannya hingga pukul 00.00 WIB, Senin (7/9/2026), menyusul dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Keputusan tersebut diambil pemerintah untuk memastikan seluruh area penerbangan dan armada pesawat benar-benar aman sebelum aktivitas penerbangan kembali dibuka.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, waktu tambahan diperlukan untuk melakukan pembersihan secara menyeluruh di area sisi udara atau airside Bandara Soekarno-Hatta.

Pembersihan mencakup runway, taxiway, apron, hingga pesawat yang sebelumnya terpapar abu vulkanik.

"Perpanjangan ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pihak bandara membersihkan runway, taxiway, dan apron, serta memberi kesempatan bagi operator maskapai menyiapkan dan membersihkan pesawat dari debu yang ada," ujar Dudy kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).

Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Mesin Pesawat

Dudy menjelaskan, keputusan memperpanjang penutupan bukan semata-mata karena masih ditemukannya abu vulkanik secara kasatmata.

Material tersebut berpotensi masuk ke mesin pesawat dan menimbulkan risiko terhadap keselamatan penerbangan.

Padahal, berdasarkan pengujian sampel menggunakan metode paper test di lapangan, mayoritas hasil pemeriksaan menunjukkan tren negatif terhadap keberadaan abu vulkanik.

Namun, pemerintah memilih tidak menjadikan hasil tersebut sebagai satu-satunya dasar untuk membuka kembali penerbangan.

Dudy menegaskan, pemerintah mengambil pendekatan konservatif dengan terus mengacu pada pembaruan informasi dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin.

Data tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi ruang udara di sekitar bandara benar-benar aman sebelum penerbangan kembali dilaksanakan.

"Kami ingin memastikan semua berjalan dengan baik. Kegiatan ini dilakukan demi keselamatan, jadi kita tidak boleh tergesa-gesa. Ini bukan soal mengejar prestasi cepat-cepat-an, melainkan soal keselamatan yang tidak boleh mengesampingkan prosedur demi terburu-buru," tegas Dudy.

Pergerakan Angin Masih Dinamis

Selain proses pembersihan di darat, dinamika arah angin juga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah.

Pergerakan abu vulkanik sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat menyebabkan sebaran abu bergerak ke wilayah yang berbeda, termasuk kawasan yang berada di sekitar jalur penerbangan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, berdasarkan data VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik pada ketinggian sekitar 15.000 kaki masih terpantau berada di sebagian wilayah Lampung, Banten, dan Jabodetabek.

Meski terus bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan sekitar 10 knot, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah karena arah angin dapat berubah sewaktu-waktu.

AHY menilai dinamika angin menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk tidak terburu-buru membuka kembali operasional bandara.

"Arah angin sangat dinamis, sehingga kami ingin memastikan debu vulkanik benar-benar menjauh dari bandara-bandara di sekitar Gunung Anak Krakatau. Keselamatan tidak bisa ditawar-tawar dan selalu menjadi prioritas utama," kata AHY.

Dengan diperpanjangnya penutupan hingga pukul 00.00 WIB, pengelola bandara dan maskapai memiliki waktu tambahan untuk memastikan fasilitas penerbangan serta pesawat terbebas dari sisa abu vulkanik.

Pemerintah juga akan terus mengevaluasi perkembangan sebaran abu berdasarkan informasi terbaru VAAC Darwin sebelum menentukan apakah operasional penerbangan dapat kembali berjalan.

Keputusan pembukaan kembali Bandara Soekarno-Hatta nantinya tetap akan mempertimbangkan kondisi ruang udara, hasil pemeriksaan fasilitas bandara, kesiapan pesawat, serta aspek keselamatan penerbangan secara menyeluruh

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.