TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan panjang Indonesia dalam mengembangkan program energi hijau menunjukkan progres signifikan.
Anggota Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menilai konsistensi pengembangan biodiesel, dari tahap awal hingga mencapai implementasi B50, menjadi modal vital dalam memperkuat ekosistem transisi energi nasional yang berfokus pada pengurangan emisi karbon.
Ia menekankan bahwa inti dari transisi energi adalah menjawab tantangan perubahan iklim melalui penurunan emisi secara nyata.
“Ketika kita berbicara tentang transisi energi, ternyata ada lagi ruang lingkup dan spektrum yang harus kita perhatikan, yaitu perubahan iklim. Semangat daripada transisi energi ini adalah bagaimana kita ingin mengurangi emisi dan karbon,” ujar Bambang, dalam peluncuran buku Transisi Energi di Kampus Universitas Sahid, Jakarta.
Dinamika kebijakan energi nasional sendiri bergerak sangat cepat.
Menurut Bambang, saat inisiasi penulisan buku transisi energi dimulai, Indonesia masih menerapkan program B40. Namun, pemerintah bergerak progresif dengan meluncurkan mandatori B50 pada Juli 2026.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program biodiesel yang dirintis sejak 2008 melalui berbagai tahapan, mulai dari B20, B30, B35, B40, hingga kini memadukan 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan 50 persen solar.
Baca juga: Peran Perempuan Makin Strategis dalam Mendorong Transisi Energi
Proyeksi pemerintah menunjukkan bahwa implementasi B50 mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta memangkas emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.
Dari sisi kesiapan lapangan, Pertamina memastikan seluruh infrastruktur pendukung telah siap menyalurkan B50 secara masif.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan dari sisi infrastruktur tidak ada kendala untuk mendukung penyaluran B50 di seluruh jaringan yang telah dipersiapkan.
“Untuk B50 kami dari Pertamina secara infrastruktur siap untuk menyalurkannya. Hingga akhir Agustus 2026 untuk penyaluran secara nasional telah mencapai sekitar 80 persen,” ujarnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) biodiesel 50 persen (B50) berada di kisaran 75-80 persen per 31 Agustus 2026.
Kementerian ESDM menargetkan penyaluran B50 di seluruh SPBU dapat terealisasi 100 persen pada 1 Oktober 2026.
Indonesia secara resmi telah menerapkan mandatori biodiesel B50 per Juli 2026 sebagai upaya penurunan emisi karbon dan mewujudkan ketahanan energi nasional.
Berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM, implementasi B50 pada 2026 diperkirakan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 ekuivalen. Jumlah itu meningkat dari capaian penghematan devisa dan penurunan emisi program B40 pada 2025.