Seluruh Tangsel Diselimuti Abu Vulkanik, PJJ Sekolah Berpotensi Diperpanjang
Feryanto Hadi September 07, 2026 11:32 PM

 

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

WARTAKOTALIVE.COM, PONDOK AREN - Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, belum mengambil keputusan untuk kembali menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah setelah kegiatan belajar mengajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan pada Senin (7/9/2026).

Kebijakan PJJ tersebut untuk sementara diterapkan selama satu hari sebagai langkah antisipasi terhadap dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, pihaknya masih menunggu perkembangan terbaru terkait kondisi abu vulkanik di wilayah Tangsel sebelum menentukan apakah PJJ akan dihentikan atau diperpanjang.

Keputusan tersebut akan diambil setelah Pemkot Tangsel kembali menerima dan mengevaluasi data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kita putuskan pembelajaran jarak jauh untuk satu hari. Kenapa satu hari? Karena saya ingin dapat data lagi dan kita evaluasi lagi nanti sore. Apakah harus diperpanjang lagi satu hari lagi atau dua hari, kita lihat nanti data BMKG," ujar Benyamin di Setu, Tangsel, Senin (7/9/2026).

Menurut Benyamin, Pemkot Tangsel mendapatkan informasi mengenai kondisi abu vulkanik dari BMKG sedikitnya dua kali dalam sehari.

Hingga Senin, data yang diterima pemerintah masih menunjukkan adanya penyebaran abu vulkanik di wilayah Tangerang Selatan.

"Sampai dengan hari ini menunjukkan bahwa penyebaran abu vulkanik itu masih terjadi," katanya.

Seluruh Kecamatan Tangsel Terdampak

Pemkot Tangerang Selatan memperkirakan dampak sebaran abu vulkanik telah menjangkau seluruh wilayah kecamatan di kota tersebut.

Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah karena aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar anak-anak di sekolah, dapat meningkatkan risiko paparan abu vulkanik.

"Sepertinya memang Tangerang Selatan, seluruh kecamatan terdampak abu vulkanik ini," ujar Benyamin.

Selain memperhatikan sebaran abu, pemerintah juga mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum memutuskan kebijakan pembelajaran selanjutnya.

Pada Senin, suhu udara di Tangerang Selatan disebut mencapai sekitar 34 derajat Celsius.

Pemkot Tangsel hingga kini juga belum mendapatkan data secara pasti mengenai ketebalan maupun volume abu vulkanik yang berada di sejumlah wilayah.

Meski demikian, Benyamin menegaskan kondisi tersebut tidak dapat dianggap remeh hanya karena jumlah abu yang terlihat di permukaan relatif tipis.

Abu yang Mengendap Bisa Kembali Beterbangan

Selain memantau penyebaran abu yang berasal langsung dari aktivitas Gunung Anak Krakatau, Pemkot Tangsel juga mewaspadai abu yang sebelumnya telah mengendap di lingkungan warga.

Benyamin mengatakan, meski penyebaran abu baru dari Gunung Anak Krakatau sudah tidak terjadi seperti sebelumnya, sisa abu masih dapat ditemukan di berbagai permukaan.

Abu tersebut menempel di atap rumah, pepohonan, daun, hingga kendaraan warga.

Persoalannya, abu yang telah mengendap belum tentu langsung hilang. Ketika tertiup angin atau terkena aktivitas manusia, endapan tersebut dapat kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

"Walaupun sudah tidak ada lagi abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, tetapi sekarang dan kemarin abunya itu ada di genteng, ada di pohonan, ada di daun, ada di mobil. Dan kalau ditiup angin menyebar lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Pemkot Tangsel mempertimbangkan langkah pembersihan di sejumlah fasilitas umum.

Salah satu opsi yang dibahas yakni melakukan penyiraman pada area tertentu untuk mengurangi kemungkinan abu yang mengendap kembali beterbangan.

Rencana tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama Wakil Wali Kota Tangerang Selatan serta organisasi perangkat daerah terkait.

Pemerintah ingin memastikan langkah penanganan tidak hanya berfokus pada sebaran abu di udara, tetapi juga pada abu yang telah mengendap di lingkungan masyarakat.

PJJ Diberlakukan, WFH Belum Diputuskan

Di tengah keputusan menerapkan PJJ untuk siswa, Pemkot Tangsel belum memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat pekerja dewasa.

Benyamin menjelaskan, kebijakan PJJ lebih diprioritaskan karena anak-anak dinilai memiliki aktivitas fisik yang tinggi.

Anak-anak juga dianggap membutuhkan perlindungan lebih karena paparan abu vulkanik berpotensi mengganggu kesehatan, terutama apabila mereka banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.

Sementara untuk orang dewasa, pemerintah menilai penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan ketika harus beraktivitas di luar rumah.

"Prinsipnya kenapa pembelajaran sekolah itu harus PJJ? Yang pertama aktivitas mereka tinggi. Yang kedua, anak-anak," jelas Benyamin.

"Kalau kita pakai masker itu relatif aman buat orang dewasa. Kita kan tidak mungkin melarang orang-orang dewasa untuk membatasi ruang gerak. Jadi WFH belum kami putuskan. Masih tetap berjalan dan harus terus berjalan," sambungnya.

Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat sebagai bagian dari evaluasi kebijakan.

Pemkot Tangsel akan meminta data dari puskesmas dan sejumlah fasilitas kesehatan untuk melihat apakah terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama abu vulkanik menyebar.

Data kesehatan tersebut nantinya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan bersama informasi BMKG dalam menentukan kebijakan berikutnya.

"Saya ingin dapat data juga dari puskesmas dan dari fasilitas kesehatan kita. Ini seberapa besar ISPA-nya. Ini juga akan menjadi bahan evaluasi," pungkas Benyamin.

Dengan demikian, keputusan mengenai kelanjutan PJJ di Tangerang Selatan belum bersifat final. Pemkot masih menunggu perkembangan kondisi abu vulkanik, cuaca, serta data kesehatan masyarakat sebelum menentukan apakah kegiatan belajar mengajar tatap muka dapat kembali dilaksanakan atau PJJ harus diperpanjang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.