Anak Tak Selalu Butuh Suplemen, Dokter Ungkap Alasan Orangtua Jangan Asal Memberikannya
Rr Dewi Kartika H September 08, 2026 12:52 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Tidak semua anak membutuhkan tambahan vitamin dalam bentuk suplemen.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak, Novita Wulansari Sp.A saat berbincang dengan TribunJakarta.

Menurut dokter Novita, kebutuhan vitamin anak pada dasarnya dapat dipenuhi melalui makanan apabila anak mendapatkan asupan yang beragam dan bergizi seimbang.

Vitamin sendiri merupakan bagian dari mikronutrien yang dibutuhkan tubuh. Selain vitamin, mikronutrien juga mencakup berbagai mineral, seperti zinc, kalsium, dan zat besi.

Sementara itu, zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak.

"Kalau makannya bagus, kalau variasi makannya bagus, sebenarnya sudah cukup dari makanan real food saja," kata Novita di YouTube Tanya Dokter, pada Senin (7/9/2026).

"Jadi, tidak perlu pemberian vitamin yang berupa obat-obatan, seperti drop atau tablet. Vitamin itu sebetulnya sudah ada di dalam makanan selama anaknya makannya bagus," lanjutnya.

Anak Kurus Belum Tentu Kekurangan Vitamin

Salah satu anggapan yang cukup banyak berkembang di masyarakat adalah anak yang memiliki tubuh kurus berarti kurang sehat dan membutuhkan vitamin agar berat badannya bertambah.

Padahal, menurut Novita, pemberian vitamin bukanlah solusi utama untuk membuat anak menjadi gemuk.

"Jadi, anggapannya vitaminnya buat gemuk. Atau kadang juga sebenarnya banyak memang seperti itu. Atau misalnya vitamin buat semakan, biar anaknya banyak makan, jadi gemuk, jadi tidak kurus," ujarnya.

Novita menjelaskan, kondisi anak tidak bisa hanya dinilai berdasarkan penampilan fisiknya.

Untuk mengetahui apakah seorang anak benar-benar kurus atau memiliki masalah pertumbuhan, diperlukan penilaian berdasarkan grafik pertumbuhan sesuai usia, berat badan, dan tinggi badan.

"Harus tahu lagi, kalau anak kurus itu benar-benar kurus sesuai grafik, sesuai usianya, karena kita punya standar," jelas Novita.

Ia mencontohkan, berat badan anak perlu dilihat bersama dengan tinggi badan dan usianya. Dengan demikian, orangtua tidak serta-merta menyimpulkan anak kekurangan vitamin hanya karena tubuhnya terlihat lebih kecil atau kurus dibandingkan anak lain.

"Jadi, belum tentu anak kurus itu kekurangan vitamin atau mikronutrien," katanya.

Dengan kata lain, anak yang secara fisik terlihat kurus belum tentu mengalami masalah apabila pertumbuhannya masih berada pada jalur yang baik dalam grafik pertumbuhan.

Vitamin D Jadi Salah Satu yang Perlu Diperhatikan

Meski tidak semua anak membutuhkan suplemen, terdapat mikronutrien tertentu yang perlu mendapat perhatian.

Novita mengatakan, kebutuhan suplementasi dapat berbeda-beda, termasuk berdasarkan kondisi dan lokasi tempat anak tinggal.

Untuk anak di Indonesia, salah satu yang perlu diperhatikan adalah vitamin D.

Novita menyebut vitamin D dapat diberikan sejak bayi dengan dosis yang disesuaikan berdasarkan usia.

"Misalnya di Indonesia, yang direkomendasikan, yang bisa diberikan sejak lahir, sejak bayi itu adalah vitamin D," ungkapnya.

Ia menjelaskan, untuk anak berusia di bawah satu tahun, dosis vitamin D yang disebutkannya adalah 400 IU per hari. Sementara anak berusia di atas satu tahun membutuhkan 600 IU per hari.

Pemberian tersebut lebih ditujukan sebagai suplementasi, mengingat kebutuhan vitamin D tidak selalu dapat terpenuhi hanya dari paparan sinar matahari maupun makanan.

Dijemur untuk Mendapat Vitamin D?

Selama bertahun-tahun, menjemur bayi di bawah sinar matahari menjadi salah satu kebiasaan yang banyak dilakukan orangtua.

Namun, Novita mengatakan, pemahaman mengenai paparan sinar matahari pada bayi kini semakin berkembang.

Menurutnya, menjemur bayi tidak perlu dilakukan dengan cara membuka seluruh pakaian bayi dan memaparkan tubuhnya secara langsung dalam waktu lama.

"Walaupun sebenarnya semakin ke sini kita tahu bahwa menjemur bayi pun nggak sepenuhnya sehat," ujarnya.

Ia menambahkan, paparan sinar matahari yang berlebihan juga memiliki risiko terhadap kulit anak.

"Sinar matahari itu sendiri bisa menyebabkan risiko kanker kulit pada anak," kata Novita.

Karena itu, orangtua perlu berhati-hati dalam memberikan paparan sinar matahari kepada bayi.

Novita menjelaskan, proses pembentukan vitamin D di dalam tubuh memang berkaitan dengan paparan sinar matahari. Namun, kebutuhan vitamin D tidak otomatis terpenuhi hanya dengan menjemur bayi.

"Kalau pun itu dilakukan dengan cara yang benar, itu masih kurang? Iya, masih kurang," jelasnya.

Ia juga menyarankan agar orangtua tidak menjadikan menjemur bayi sebagai satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan vitamin D.

Vitamin dan Mineral Saling Berkaitan

Novita juga mengingatkan bahwa vitamin dan mineral tidak bekerja secara terpisah di dalam tubuh.

Kebutuhan satu mikronutrien dapat berkaitan dengan mikronutrien lainnya dalam menunjang fungsi tubuh.

Ia memberikan contoh vitamin D yang berkaitan dengan kesehatan dan pertumbuhan tulang.

Ketika terdapat masalah pada tulang, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kadar vitamin D. Kondisi mineral lain seperti kalsium dan magnesium juga perlu diperhatikan.

"Vitamin yang benar-benar ini bukan zat tunggal, dia pasti ada kolaborasi lain. Seperti vitamin D kalau menyebabkan ada keadaan tulang, kita cek lagi, kalsiumnya bagus apa enggak, magnesiumnya bagus apa enggak," jelasnya.

Menurut Novita, hal tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memberikan makanan yang beragam kepada anak.

Sebab, kebutuhan mikronutrien anak selama masa pertumbuhan cukup besar dan tidak hanya bergantung pada satu jenis vitamin atau mineral.

"Jadi memang saling mendukung satu sama lain," tuturnya.

Jangan Asal Berikan Vitamin kepada Anak

Lebih lanjut, Novita menjelaskan bahwa tubuh memiliki kadar vitamin dan mineral tertentu yang dapat berada dalam kondisi normal, kurang, hingga mengalami defisiensi.

Kekurangan yang sudah mencapai tahap defisiensi dapat menimbulkan gejala tertentu.

Karena itu, pemberian suplemen sebaiknya tidak dilakukan semata-mata karena anak terlihat kurus, susah makan, atau dianggap membutuhkan tambahan vitamin.

Orangtua perlu terlebih dahulu melihat pola makan, pertumbuhan, serta kondisi kesehatan anak secara keseluruhan.

Pada prinsipnya, makanan dengan komposisi dan variasi yang baik tetap menjadi dasar utama pemenuhan kebutuhan nutrisi anak.

"Kalau makannya bagus, kalau variasi makannya bagus, sebenarnya sudah cukup dari makanan real food saja," tegas Novita.

Dengan demikian, vitamin dalam bentuk suplemen tidak selalu menjadi kebutuhan setiap anak.

Pemberiannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, termasuk kondisi pertumbuhan dan kemungkinan adanya kekurangan mikronutrien tertentu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.