Menteri Nusron Tekankan Pentingnya Tradisi Dialektika Berpikir di Lingkungan Akademik
Hans Arnold Kapisa September 08, 2026 03:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. 

Menurutnya, perbedaan pandangan dan keberagaman pemikiran harus diberi ruang agar dapat memperkaya wawasan serta proses pembelajaran mahasiswa.

Hal tersebut disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (4/9/2026).

Dalam kegiatan yang turut menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber, Nusron menekankan bahwa kampus, termasuk yang bersifat semi-kedinasan, harus tetap menjadi ruang terbuka bagi berbagai pemikiran, termasuk pandangan kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah.

Baca juga: Kantor Pertanahan Teluk Bintuni Dampingi Eksekusi Riil Sengketa Tanah

“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Saya minta kampus ini tidak segan mengundang tokoh dari level mana pun, termasuk yang kritis terhadap negara maupun kebijakan kita,” ujarnya.

Nusron menambahkan, perbedaan pemikiran tidak seharusnya dihindari.

Sebaliknya, pertukaran gagasan dapat memperluas perspektif dan membantu mahasiswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Ia menggambarkan hal itu melalui “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw: jika dua orang bertukar apel, masing-masing tetap memiliki satu buah apel; namun jika bertukar pemikiran, keduanya akan memiliki dua gagasan berbeda.

 Rocky Gerung: Pikiran Harus Dibantah

Dalam pemaparannya, Rocky Gerung menekankan bahwa perdebatan merupakan bagian penting dari proses pertukaran pemikiran.

“Pikiran kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa tidak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujarnya.

Rocky mengajak Taruna dan Taruni STPN untuk menggunakan pendekatan filosofis dalam membongkar akar konsep dan pemikiran.

Baca juga: Kementerian ATR/BPN Luncurkan Tiga Transformasi Layanan di HUT ke-81 RI

“Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis,” katanya.

Ia juga menyampaikan tiga perspektif tentang tanah:

  • Masyarakat adat — tanah memiliki nilai magis dan erat dengan kehidupan serta warisan leluhur.
  • Negara — tanah berfungsi sosial melalui sistem hukum dan pengaturan.
  • Korporasi — tanah dipandang sebagai komoditas bernilai bisnis.

Kuliah umum tersebut diikuti Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna dan Taruni STPN.

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai pertanahan sekaligus mendorong mahasiswa membangun pola pikir kritis melalui dialog dan pertukaran gagasan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.