Laporan Mahasiswa PKL, Muh Khairil
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mempercepat penanganan dan revitalisasi kawasan wisata adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, pascabencana kebakaran belum lama ini.
Sejumlah langkah strategis disiapkan, mulai dari pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat, pembangunan fasilitas umum, penyelesaian master plan kawasan, hingga opsi relokasi warga.
Asisten II Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengatakan persoalan kawasan Sade menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, terdapat tiga isu utama yang menjadi fokus pemerintah dalam penanganan dan revitalisasi kawasan tersebut.
"Pertama mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat," kata Faozal, Selasa (8/9/2026).
Untuk mendukung pemulihan ekonomi, pemerintah akan mempercepat pembangunan sejumlah fasilitas yang dapat menunjang aktivitas masyarakat sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Fasilitas tersebut di antaranya museum, sarana ekonomi, tempat menenun, toilet, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya melalui kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta, donatur, dan perguruan tinggi.
Sementara itu, isu kedua yang menjadi perhatian adalah penyelesaian master plan kawasan Sade secara utuh. Master plan tersebut mencakup penataan fasilitas umum dan berbagai sarana pendukung lainnya sehingga pembangunan kawasan Sade ke depan memiliki arah yang jelas dan terintegrasi.
"Yang pasti dalam waktu dekat akan kita bangun satu masjid, Masjid Sade. Masjid besar itu akan segera dimulai, museum juga akan segera dimulai, kemudian untuk kembali aktivitas ekonomi segera dimulai, toilet segera dimulai," ujarnya.
Selain pembangunan fasilitas, pemerintah juga menyiapkan opsi relokasi bagi warga yang berada di kawasan Sade. Faozal menyebutkan, terdapat sekitar 40 unit rumah yang sebelumnya telah dibangun pada tahun 2018. Rumah tersebut berada di depan SMK, di samping kantor desa.
Namun, pemerintah masih akan memastikan kelayakan rumah-rumah tersebut sebelum digunakan sebagai tempat relokasi warga.
"Relokasi warga sudah menjadi opsi. Kita sudah siap rumah 40, walaupun kondisinya harus dipastikan layak," jelasnya.
Pemerintah juga merencanakan penambahan unit rumah sekaligus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar bersedia menempati rumah yang telah disiapkan. Di sisi lain, rumah-rumah yang tetap berada di dalam kawasan Sade akan direkonstruksi dan ditata kembali agar lebih aman serta sesuai dengan penataan kawasan.
Pembangunan sejumlah fasilitas di kawasan Sade juga akan melibatkan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).
Faozal menyebut pembangunan museum akan mendapat dukungan dari Otsuka, perusahaan asal Jepang yang dikenal sebagai produsen Pocari Sweat.
Museum tersebut dirancang berukuran sekitar 8x10 meter. Di dalamnya akan ditampilkan perjalanan Desa Sade, termasuk kondisi kawasan sebelum dan sesudah revitalisasi.
"Di dalamnya ada perjalanan Sade, before dan after-nya, kita akan narasikan di situ," katanya.
Setelah pembangunan rampung, museum tersebut nantinya akan dihibahkan untuk dikelola pemerintah bersama masyarakat Sade. Pengelolaan museum juga akan melibatkan masyarakat setempat, termasuk para pemandu wisata yang akan kembali melalui proses kurasi dan mendapatkan pelatihan.
Faozal menegaskan keberadaan museum bukan untuk mengambil alih kepemilikan masyarakat terhadap kawasan Sade.
"Yang punya adalah masyarakat Sade," tegasnya.
Tidak hanya museum, sejumlah perusahaan juga disebut telah menyatakan dukungan terhadap pembangunan fasilitas lainnya di kawasan Sade. Pembangunan fasilitas ekonomi, seperti tempat menenun, akan didukung oleh Blue Bird. Sementara pembangunan toilet mendapat dukungan dari Dharma Lautan Utama.
Adapun pembangunan Masjid Sade akan diselesaikan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Menurut Faozal, Pemprov NTB akan berperan mengoordinasikan berbagai pihak agar pembangunan berjalan sesuai kebutuhan kawasan dan tidak tumpang tindih. Ia menjelaskan, kebutuhan rekonstruksi kawasan Sade sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar Rp30 miliar. Angka tersebut merupakan estimasi kerugian dan kebutuhan rekonstruksi pascagempa yang kemudian menjadi dasar perhitungan penanganan kawasan Sade.
Namun, angka Rp30 miliar tersebut kini masih dimatangkan kembali dengan menghitung fasilitas yang telah dibangun melalui dukungan berbagai pihak.
"Sekarang sedang kita matangkan belanja-belanja apa saja 30 miliar itu. Yang sudah kebangun-bangun ini kita kalkulasi, yang tidak usah dibangun lagi, yang belum dibangun apa saja," jelas Faozal.
Dalam proses perencanaan, Pemprov NTB juga menggandeng Universitas Mataram (Unram). Fakultas Teknik Unram dilibatkan untuk membantu menyelesaikan desain berbagai fasilitas di kawasan Sade, mencakup aspek teknis seperti kelistrikan dan instalasi pemadam kebakaran.
Aspek mitigasi bencana juga menjadi perhatian dalam proses pembangunan dan rekonstruksi rumah masyarakat. Faozal mengatakan sistem kelistrikan dan keamanan rumah akan ditata agar lebih aman, termasuk dengan penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
"Sekarang sudah kita pikir soal bagaimana di rumah itu ada APAR. Bagaimana di rumah itu instalasinya aman, listrik, dan lain-lain," ujarnya.
Dengan berbagai skema tersebut, pemerintah berharap revitalisasi kawasan Sade tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan kawasan wisata adat tersebut.
Faozal optimistis sejumlah pembangunan dapat segera dikejar dan diselesaikan.
"Museum sama fasilitas aktivitas ekonominya, kayak tempat menenun dan lain-lain kita akan selesaikan," pungkasnya.
Baca juga: Sistem Mitigasi Kebakaran Desa Sade: Jaringan Pipa Air dan Hidran di Jalur Utama