Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan kerja sama dengan negara-negara mitra menjadi penting karena karakter ancaman digital tidak mengenal batas negara.
Menurut Kepala BNPT Eddy Hartono, pertukaran informasi, pengalaman, dan praktik baik diperlukan untuk mengantisipasi pola penyebaran ideologi kekerasan yang terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi.
"Mengingat ancaman terorisme yang persisten, resilience, dan adaptif, kerja sama dan pertukaran informasi antarnegara menjadi semakin penting," ujar Eddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan perkembangan ancaman terorisme saat ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga bergerak di ruang digital yang bersifat lintas batas dan dapat menjangkau masyarakat secara cepat.
Meskipun sejak 2023 tidak terjadi serangan teroris di Indonesia, BNPT tetap mewaspadai perkembangan ancaman.
Untuk itu, dia menyampaikan Indonesia terus memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pertukaran informasi, pencegahan pendanaan terorisme serta perlindungan generasi muda dari ekstremisme di ruang digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam penanggulangan terorisme.
Disebutkan bahwa ruang digital, termasuk media sosial, platform gim daring, dan teknologi kecerdasan buatan (AI), berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda, membangun pengaruh, hingga menjangkau kelompok muda.
Di sisi lain, Eddy mengungkapkan perlindungan generasi muda perlu menjadi perhatian bersama. Literasi digital, kemampuan mengenali propaganda, serta penguatan daya tangkal masyarakat merupakan bagian penting dalam mencegah generasi muda terpapar paham ekstremisme berbasis kekerasan.
Menghadapi perkembangan tersebut, Indonesia memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kewaspadaan serta kemampuan menghadapi ancaman terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan di ruang digital, salah satunya dengan Brunei Darussalam.
Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan Kepala BNPT dengan Delegasi Brunei Research Department (BRD) yang dipimpin Asmawee Muhammad di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/8).
Senada, Asmawee menyampaikan perkembangan teknologi digital memberikan tantangan baru yang perlu diantisipasi secara bersama.
"Brunei memiliki tingkat penetrasi internet yang sangat tinggi, anak-anak dan generasi muda juga merupakan kelompok yang sangat aktif menggunakan internet, termasuk bermain gim. Hal ini menjadi kekhawatiran karena mereka dapat didekati atau dipengaruhi melalui platform gim," katanya.
Asmawee juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan dan menyebarkan propaganda secara lebih cepat dan luas.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kemampuan kedua negara dalam memahami pola ancaman di ruang digital sekaligus memperkuat langkah pencegahan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstremisme berbasis kekerasan.
Selain menghadapi ancaman di dalam negeri, dia menilai kerja sama internasional juga diperlukan untuk meningkatkan perlindungan warga negara ketika berada di luar negeri, terutama ketika mengunjungi negara atau wilayah yang memiliki tingkat ancaman terorisme lebih tinggi.
"Kekhawatiran kami bukan hanya terhadap ancaman yang terjadi di Brunei, tetapi juga terhadap warga Brunei yang berada di negara-negara lain yang memiliki tingkat ancaman terorisme lebih tinggi, termasuk di tempat-tempat yang mereka kunjungi," ungkapnya.
Pertemuan BNPT dan BRD menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Brunei Darussalam dalam merespons perubahan lanskap ancaman terorisme.
Kolaborasi kedua negara diarahkan tidak hanya pada pertukaran informasi, tetapi juga pada peningkatan pemahaman bersama terhadap pola ancaman, perkembangan teknologi serta strategi pencegahan yang adaptif.
Kerja sama tersebut sekaligus menegaskan bahwa menghadapi ancaman terorisme di era digital membutuhkan kolaborasi lintas negara. Ketika propaganda dapat menyebar tanpa mengenal batas wilayah, maka kewaspadaan dan ketahanan masyarakat juga perlu dibangun melalui kerja sama yang melampaui batas negara.
Bagi masyarakat, khususnya generasi muda, penguatan kolaborasi internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan ruang digital tetap menjadi ruang yang aman untuk belajar, berkreasi, dan berinteraksi tanpa menjadi sasaran propaganda maupun perekrutan ekstremisme berbasis kekerasan.





