Kasus Keracunan Massal usai Santap MBG di Turi Sleman Jadi KLB Program
Yoseph Hary W September 08, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Puluhan pelajar di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman mengalami gangguan kesehatan atau gejala keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi (MBG) yang diproduksi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto. 

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memastikan peristiwa keracunan di Turi ini dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) program.

Kejadian luar biasa

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati menjelaskan, peristiwa yang menyebabkan puluhan siswa dari sejumlah satuan pendidikan di Turi bergejala pusing, mual hingga muntah ini masuk kategori KLB program.

KLB ini bukan jenis status yang harus ditetapkan Bupati. Namun demikian, KLB program juga merupakan suatu kejadian luar biasa. Sebab prinsipnya tidak boleh ada keracunan makanan. 

"KLB (program) ini juga suatu Kejadian Luar Biasa. Karena memang seharusnya tidak boleh ada kejadian keracunan dalam hal ini," kata Yuli, Selasa (8/9/2026). 

Berdasarkan data pemutakhiran per Senin, 7 September 2026 pukul 20.30 WIB, tercatat sebanyak 35 orang mengalami keluhan kesehatan dari total 261 responden yang diverifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 204 responden dikonfirmasi mengonsumsi menu MBG.

Gejala keracunan yang paling banyak dikeluhkan oleh para penerima, meliputi pusing dan sakit perut, disusul oleh gejala mual, sakit kepala, badan terasa lemah, serta muntah. Kasus ini ditemukan di sejumlah satuan pendidikan di wilayah Turi meliputi SMK Muhamadiyah Turi, SD Muhamadiyah Balerante. Adapun konsentrasi terbanyak ada di SMPN 3 Turi.

Investigasi

Pihak Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program (FETP) UGM bergerak cepat melakukan verifikasi kasus serta investigasi lapangan sejak laporan diterima.

Sebagai langkah pencegahan dan mitigasi untuk menghentikan penambahan kasus, distribusi serta konsumsi MBG di lokasi penerima langsung dihentikan. Tercatat ada 867 porsi makanan yang terlanjur diterima dan dikonsumsi di enam satuan pendidikan sebelum penghentian dilakukan.

Penanganan medis juga langsung diberikan kepada para korban yang terdampak. Hingga Senin (7/9) pukul 20.30 WIB,  ada 1 pasien yang harus menjalani rawat inap. Sebanyak 19 orang tercatat menjalani rawat jalan, 7 orang memilih berobat secara mandiri, dan 9 orang tidak menjalani pengobatan medis.

Terkait dengan sumber penyebab, hasil analisis epidemiologi sementara terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Menu bola-bola sapi goreng tercatat memiliki ukuran asosiasi paling tinggi dan saat ini masih menjadi fokus penelusuran tim investigasi, meski belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama.

"Salah satu menu, yaitu bola-bola sapi goreng, menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi. Hal tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian," ujar Yuli. 

Ambil sampel MBG

Lebih lanjut Mantan Kepala Puskesmas Ngaglik ini mengatakan, sampel makanan dan sampel air juga telah diambil dan dikirimkan ke laboratorium pada hari Senin, 7 September 2026, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini, tim gabungan masih menunggu keluarnya hasil uji laboratorium tersebut.

Investigasi lanjutan terus dilakukan secara komprehensif, mencakup penelusuran rantai makanan (food chain), pemeriksaan faktor lingkungan, serta kelanjutan analisis epidemiologi.

Pemerintah Kabupaten Sleman terus mengintensifkan pemantauan terhadap kondisi seluruh penerima MBG serta berkoordinasi secara intensif dengan pihak Puskesmas, sekolah, SPPG, dan instansi terkait. 

"Kesimpulan mengenai sumber dan penyebab kejadian akan disampaikan setelah seluruh hasil pemeriksaan dan investigasi diperoleh," katanya. 

69 siswa bergejala keracunan

Data yang diterima Tribun Jogja, hingga Selasa (8/9), siswa yang mengalami gejala keracunan masih terus bertambah. Berdasarkan data yang diperoleh dari Panewu Anom Kapanewon Turi, Muhamad Yunan, data sementara ada 69 siswa bergejala. Terdiri dari siswa SMK Muhamadiyah 1 Turi berjumlah 23 orang, SD Muhamadiyah Balerante 9 orang dan 37 orang dari SMPN 3 Turi. Mayoritas rawat jalan. Namun ada pula yang harus menjalani rawat inap atau opname. 

"Mayoritas rawat jalan, tercatat hanya 2 anak yang opname, masing-masing satu orang dari SMPN 3 Turi dan SMK Muh 1 Turi," ujarnya. 

Korban masih berpotensi bertambah.Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, sejak Senin malam hingga Selasa (8/9) masih ada tambahan 19 siswa dari tiga satuan pendidikan yang mengeluhkan gejala keracunan dan dibawa ke fasilitas kesehatan. Terbanyak berasal SMPN 3 Turi, bahkan ada 1 siswa hari ini terpaksa harus opname di RSUD Sleman. 

"Sejak semalam, dan hari ini banyak tambahan. Itu sesuai di data. Kalau sekarang, pukul 15.00 WIB sudah cukup mandali, tidak ada panggilan dan keluhan dari anak-anak yang meminta diantar ke Puskesmas," ujar Bambang.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.