Diterjang 13 Titik Api, Sorong Integrasikan Pemadaman Karhutla
Marius Frison Yewun September 08, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya mencatat 13 titik Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terjadi di wilayah itu dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala BPBD Kabupaten Sorong, Aminadap Lobat, mengatakan seluruh titik kebakaran yang terdata saat ini berhasil ditangani dan api telah dipadamkan.

Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Sorong dan Polres Sorong terkait penanggulangan karhutla, Selasa (8/9/2026).

Baca juga: Polresta Sorong Kota Ringkus Pelaku Jasa Pembuatan SIM Instan di Facebook

“Hari ini kami baru saja selesai rapat koordinasi bersama semua lintas sektor terkait penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” kata Aminadap.

13 lokasi kebakaran ini tersebar di beberapa distrik, di antaranya Distrik Mayamuk, Salawati, Mariat, Magbon, hingga wilayah yang cukup jauh seperti Distrik Selemkai. Dari jumlah itu, kebakaran di Mayamuk menjadi salah satu lokasi yang paling menonjol, terjadi di sekitar kawasan Jalan Kontainer yang sebelumnya juga mendapat perhatian serius dari tim penanggulangan bencana.

“Yang paling menonjol kemarin itu di Distrik Mayamuk, yang biasa disebut kawasan Jalan Kontainer. Kebakarannya cukup luas, hampir mencapai 10 hektare lebih,” katanya.

Menurut Aminadap, keterbatasan akses membuat tim penanggulangan tidak dapat menjangkau seluruh lokasi dengan cepat. Namun dalam beberapa kasus, masyarakat setempat melakukan upaya pemadaman secara mandiri hingga api berhasil dikendalikan.

Baca juga: Lumpuhkan Sentra Pangan Lokal, Hujan Es di Dogiyai Picu Ancaman Kelaparan

“Di distrik-distrik yang jauh, seperti Selemkai, ada titik-titik api yang bahkan tidak bisa kami jangkau. Masyarakat berupaya dengan cara mereka sendiri sampai api itu bisa dipadamkan,” ujarnya.

Aminadap mengatakan kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat potensi munculnya titik api baru tetap harus diwaspadai. Karena itu, hasil rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan Polres Sorong menyepakati perlunya membentuk satuan tugas (satgas) terpadu.

Selama ini kata dia, penanganan karhutla telah dilakukan oleh berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri hingga relawan. 

Namun masing-masing masih bekerja berdasarkan kewenangan dan sumber daya yang dimiliki sehingga koordinasi di lapangan belum optimal.

Baca juga: Pangkas Impor Kedelai, TNI AL Kawal 110 Hektare Lahan Pangan di Papua

“Teman-teman tim ini semua bekerja di lapangan, baik TNI, Polri, pemerintah daerah maupun relawan. Tetapi penanganannya masih bersifat sendiri-sendiri karena belum ada tim terpadu yang bisa mengoordinasikan semuanya,” katanya.

Ia mencontohkan keterbatasan armada pemadam kebakaran yang dapat menjadi kendala ketika terjadi kebakaran di lokasi yang luas atau sulit dijangkau.

“Misalnya pemadam kebakaran, armadanya terbatas. Mereka menggunakan fasilitas dan sumber daya yang ada. Kalau mengalami kendala di lapangan, penanganannya bisa terhambat,” ujarnya.

Untuk memperkuat koordinasi, BPBD bersama Pemkab Sorong berencana membentuk satgas terpadu sekaligus menyiapkan pusat komando atau command center di Gedung Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sorong.

Baca juga: Ancaman Karhutla Meluas, Sorong Satukan Komando Penanggulangan Bencana

Gedung tersebut nantinya akan menjadi pusat koordinasi dalam menerima informasi, memantau kondisi lapangan, serta mengendalikan penanganan bencana.

“Bukan hanya untuk bencana kebakaran yang saat ini terjadi, tetapi juga untuk bencana-bencana lain ke depan,” kata Aminadap.

BPBD Kabupaten Sorong berharap kolaborasi lintas sektor melalui satgas terpadu dapat mempercepat respons terhadap setiap kejadian karhutla, terutama di wilayah yang memiliki akses sulit, sekaligus mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat serta lingkungan. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.