Fenomena resesi seks dan penurunan angka kelahiran yang kian membayangi Jepang mendadak dikejutkan oleh kabar dari seorang wanita setempat. Wanita bernama Kotoe Hashimoto, seorang penulis sekaligus mantan calon anggota legislatif, mendadak viral usai mengumumkan kelahiran anak ketujuhnya.
Kabar bahagia tersebut dibagikan Hashimoto melalui akun media sosial X dan Facebook miliknya. Dalam unggahan yang memperlihatkan dirinya tengah menggendong sang bayi, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim medis yang mendampingi proses persalinan.
Aksi tak biasa ini langsung menyita perhatian publik hingga ditonton puluhan juta kali, dan memanen beragam reaksi suportif dari warga Jepang.
Melalui unggahan susulannya, Hashimoto menegaskan pandangannya terkait pentingnya peran perempuan dalam menyelamatkan masa depan bangsa.
"Saya percaya bahwa inilah saatnya bagi perempuan Jepang untuk memiliki anak," ujar Hashimoto dalam unggahannya, dikutip dari .
"Bangkit dan runtuhnya bangsa kita bergantung pada peran aktif perempuan," sambungnya.
Pernyataannya tersebut mendapat respons hangat dari warganet setempat yang khawatir akan ancaman krisis populasi. Seorang pengguna Facebook bernama Etsugaku Kankou postingan Hashimoto.
"Saya merasa kunci untuk mengubah kondisi Jepang saat ini yang mengarah pada kehancuran (demografi) justru terletak pada hati nurani perempuan Jepang," tulisnya.
Sementara pengguna lain, Hideto Umegaki, menyebut bahwa "Melahirkan tujuh anak adalah sebuah harta karun nasional."
Kehadiran bayi ketujuh dalam keluarga Hashimoto menjadi sorotan tajam, lantaran kondisi kesuburan (fertility rate) di Jepang baru saja menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Kementerian Kesejahteraan Jepang, tingkat kesuburan total di negara tersebut merosot ke angka 1,14. Ini menjadi rekor terendah sejak catatan resmi mulai dihimpun pada 1947 silam.
Jepang kini menjadi salah satu negara dengan proporsi populasi tertua di dunia yang menghadapi tekanan demografi sangat berat. Menyusutnya jumlah angkatan kerja muda, serta membengkaknya anggaran jaminan sosial untuk lansia kian memperberat keuangan negara.
Sosok Hashimoto sendiri memang bukan orang baru dalam isu krisis demografi di Jepang. Mantan politisi dari Partai Harapan (Party of Hope) pada Pemilu 2017 ini memang dikenal vokal menggunakan platform media sosialnya untuk mengedukasi masyarakat.
Ia kerap mengungkapkan pendapatnya mengenai ancaman krisis populasi, sekaligus gencar mengajak para perempuan Jepang untuk tidak ragu memiliki lebih banyak anak demi masa depan negara.





