Dari Tempurung hingga Tongkol, Limbah Pertanian Disulap Jadi Energi
Nurul Huda September 08, 2026 07:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Teknologi pirolisis yang dikembangkan Tim Peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengubah limbah biomassa dari aktivitas pertanian dan perkebunan menjadi charcoal dan asap cair secara bersamaan.

Guru Besar Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI Prof. Andi Aladin mengatakan, pirolisis merupakan proses penguraian biomassa melalui pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas.

Teknologi tersebut memungkinkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, seperti tempurung, kulit, tongkol, dan sisa tanaman yang mengandung karbon, dikonversi menjadi produk padat dan cair yang memiliki nilai guna.

“Gagasan utamanya bagaimana satu proses pengolahan dapat menghasilkan lebih dari satu produk yang bermanfaat,” kata Andi, dilansir Antara, Selasa (8/9/2026).

Pakar energi dan lingkungan itu menjelaskan, dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan reaktor pirolisis simultan berdinding tiga (three-layer) berbahan stainless steel.

“Reaktor dirancang sebagai sistem tertutup sehingga proses pengolahan biomassa dapat menghasilkan charcoal sekaligus menangkap uap pirolisis untuk dikondensasikan menjadi asap cair,” ucapnya.

Ia menjelaskan, charcoal yang dihasilkan memiliki nilai kalor sekitar 6.000-7.000 kilokalori per kilogram. Dengan karakteristik tersebut, charcoal berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi maupun bahan baku pembuatan briket.

Tidak hanya untuk energi, charcoal juga berpeluang digunakan sebagai bioadsorben dalam pengolahan limbah cair. Penelitian yang dikembangkan tim juga melihat potensi pemanfaatannya sebagai bahan penyaring dan penjernih produk pangan, seperti virgin coconut oil (VCO).

Sementara itu, asap cair merupakan hasil kondensasi uap dari proses pirolisis. Produk ini memiliki peluang pemanfaatan, antara lain untuk mendukung sektor pertanian dan dikembangkan sebagai biopestisida yang lebih ramah lingkungan.

 

Fokus pada Efisiensi Energi

Andi menjelaskan, salah satu perhatian utama penelitian adalah efisiensi energi. Sebab, proses pirolisis membutuhkan suhu relatif tinggi agar biomassa dapat terurai secara optimal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, reaktor dilengkapi sistem dinding berlapis tiga dengan isolator termal yang dapat dilepas. Sistem ini dirancang untuk mengurangi kehilangan panas ke lingkungan sehingga energi yang digunakan dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.

“Menariknya, ruang isolator tersebut juga dirancang agar dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengeringan awal biomassa sebelum memasuki tahapan pirolisis,” ucapnya.

Dalam rancangan teknisnya, reaktor bekerja pada rentang suhu sekitar 300-500 derajat Celsius, dengan waktu pirolisis rata-rata sekitar 2,5 jam. Sistem kondensasi kemudian menangkap uap hasil proses untuk menghasilkan asap cair.

Dari data pengembangan prototipe, potensi hasil yang diperoleh mencapai sekitar 37 persen charcoal dan 42 persen asap cair. Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat kinerja dan efektivitas prototipe yang dikembangkan.

Namun, penelitian ini tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk. Prototipe juga diarahkan untuk menjalani pengujian lebih menyeluruh, mulai dari kestabilan suhu, performa pada berbagai kondisi operasi, efisiensi energi, keselamatan operator, hingga konsistensi mutu charcoal dan asap cair.

“Teknologi baru tidak cukup hanya berhasil dalam satu kali percobaan. Yang penting adalah bagaimana teknologi itu dapat bekerja secara stabil, aman dan konsisten ketika digunakan berulang kali,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.