Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah, Ini Tips psikolog Dampingi Anak Belajar di Rumah
Maudy Asri Gita Utami September 08, 2026 07:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi dan menyebabkan asap menyelimuti permukiman, aktivitas masyarakat ikut terdampak, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. 

Kondisi kualitas udara yang menurun akibat paparan asap karhutla membuat sejumlah sekolah dapat menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai langkah untuk mengurangi risiko kesehatan pada peserta didik.

Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi belajar dari rumah tentu membutuhkan penyesuaian, baik bagi anak, guru, maupun orang tua. 

Selama PJJ berlangsung, orang tua tidak hanya memiliki peran dalam memastikan anak tetap mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi kesehatan, kenyamanan, serta kondisi psikologis anak selama terpapar situasi darurat akibat kabut asap.

Dalam kondisi seperti ini, pendampingan orang tua menjadi salah satu faktor penting agar proses belajar tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan anak. 

Anak perlu mendapatkan lingkungan belajar yang aman sekaligus memahami alasan mengapa mereka untuk sementara harus membatasi aktivitas di luar rumah.

• 37 Ribu Kepesertaan PBI-JK Dinonaktifkan, Dinsos Buka Opsi Reaktivasi Warga Kurang Mampu

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mendampingi anak selama menjalani PJJ akibat kondisi kabut asap karhutla:

1. Lindungi Kesehatan Anak dari Paparan Asap Karhutla

• Kurangi Aktivitas Anak di Luar Rumah
Ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap, orang tua sebaiknya membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah, terutama ketika asap terlihat pekat atau kondisi udara di lingkungan sekitar mulai mengganggu pernapasan.

Pintu, jendela, dan ventilasi rumah juga perlu diperhatikan agar asap dari luar tidak mudah masuk ke dalam ruangan. Orang tua dapat memilih ruangan yang paling terlindung dari paparan asap sebagai tempat anak belajar maupun beraktivitas.

Orang tua sebaiknya tidak mengajak anak melakukan aktivitas di luar ruangan apabila tidak benar-benar diperlukan, khususnya ketika kabut asap sedang tebal dan kualitas udara berada pada kondisi yang kurang baik.

• Kenali Gejala Gangguan Pernapasan
Paparan asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, sehingga kondisi anak perlu dipantau secara berkala. Orang tua perlu memperhatikan apabila anak mulai mengalami batuk yang tidak kunjung reda, sesak napas, napas berbunyi, mata terasa perih, tenggorokan mengalami iritasi, atau keluhan lain yang muncul setelah terpapar asap.

Jika keluhan semakin berat atau anak menunjukkan tanda gangguan pernapasan yang serius, orang tua sebaiknya segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.

2. Jelaskan Kondisi Karhutla dengan Bahasa yang Mudah Dipahami Anak

Situasi kabut asap yang berlangsung selama beberapa hari dapat membuat anak merasa takut, cemas, bosan, atau bingung karena tidak dapat menjalankan rutinitas seperti biasanya. Karena itu, orang tua perlu memberikan penjelasan secara tenang mengenai kondisi yang sedang terjadi.

Informasi yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami suatu peristiwa. Hindari memberikan informasi secara berlebihan yang justru dapat menimbulkan kepanikan.

• Anak Usia 3–5 Tahun
Untuk anak usia dini, orang tua dapat menggunakan kalimat sederhana dan menenangkan. Misalnya, menjelaskan bahwa di luar rumah sedang banyak asap sehingga untuk sementara waktu lebih aman bermain dan belajar di dalam rumah.

• Anak Usia 6–10 Tahun
Pada usia sekolah dasar, orang tua dapat menjelaskan secara lebih sederhana mengenai karhutla, penyebab munculnya kabut asap, serta alasan sekolah menerapkan pembelajaran dari rumah. Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa pembatasan aktivitas di luar rumah dilakukan untuk menjaga kesehatan.

• Anak Usia Remaja
Anak remaja dapat dilibatkan dalam memahami situasi yang terjadi. Orang tua dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai kondisi lingkungan, pentingnya menjaga kesehatan selama kabut asap, serta membantu menyusun jadwal agar kegiatan belajar daring tetap berjalan tanpa mengabaikan waktu istirahat.

Pendekatan komunikasi yang terbuka dapat membantu anak memahami situasi tanpa merasa terlalu takut. Orang tua juga sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan kekhawatiran atau pertanyaan yang muncul selama kondisi darurat berlangsung.

3. Ciptakan Suasana Belajar yang Nyaman Selama PJJ

Perubahan mendadak dari pembelajaran tatap muka menjadi PJJ berpotensi membuat anak mengalami kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi. Oleh sebab itu, orang tua perlu membantu menyiapkan tempat belajar yang nyaman dan mendukung anak mengikuti pembelajaran dari rumah.

Pilih ruangan yang relatif bersih, tidak terpapar langsung asap dari luar, memiliki pencahayaan cukup, serta jauh dari berbagai gangguan yang dapat mengurangi konsentrasi anak ketika mengikuti kelas daring.

Dengan lingkungan belajar yang lebih teratur, anak diharapkan tetap dapat mengikuti materi pelajaran dengan baik meskipun kegiatan sekolah sementara dilakukan dari rumah.

4. Susun Rutinitas Harian agar Anak Tidak Mudah Jenuh

Belajar dari rumah dalam waktu yang cukup lama dapat membuat anak merasa bosan karena aktivitasnya menjadi lebih terbatas. Untuk menghindari kondisi tersebut, orang tua dapat membantu membuat jadwal harian yang jelas dan realistis.

Jadwal tersebut dapat mencakup waktu mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas, makan, beristirahat, menggunakan gawai, hingga melakukan aktivitas fisik ringan yang aman dilakukan di dalam rumah.

Pola kegiatan yang teratur membantu anak mempertahankan rutinitas sekaligus memberikan batas yang jelas antara waktu belajar dan waktu beristirahat. Dengan demikian, anak tidak merasa seluruh waktunya hanya dihabiskan untuk mengikuti pembelajaran daring.

5. Tetap Berkomunikasi dengan Guru dan Pihak Sekolah

Orang tua juga perlu menjaga komunikasi dengan guru selama penerapan PJJ. Informasi mengenai jadwal pembelajaran, tugas, perubahan kegiatan sekolah, maupun perkembangan kondisi kabut asap sebaiknya terus dipantau melalui saluran komunikasi resmi yang digunakan sekolah.

Apabila anak mengalami kendala dalam mengikuti pembelajaran, seperti masalah jaringan internet, keterbatasan perangkat, kesulitan memahami materi, atau persoalan lain selama belajar dari rumah, orang tua sebaiknya segera menyampaikannya kepada guru.

Komunikasi yang baik antara orang tua dan sekolah dapat membantu mencari solusi sehingga keterbatasan akibat kondisi karhutla tidak terlalu menghambat proses pendidikan anak.

• Nyeri Lambung Ganggu Aktivitas, Albina Rasakan Manfaat Program JKN Tanpa Khawatir Biaya

6. Atur Penggunaan Gawai Selama Pembelajaran Daring

Penerapan PJJ membuat penggunaan telepon pintar, tablet, maupun komputer menjadi bagian dari kegiatan belajar anak. Meski perangkat tersebut dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran, orang tua tetap perlu mengawasi penggunaannya agar anak tidak terlalu lama berada di depan layar.

Orang tua dapat membuat aturan mengenai waktu penggunaan gawai di luar jam belajar. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, anak dapat diarahkan untuk beristirahat, membaca buku, membantu kegiatan ringan di rumah, atau melakukan aktivitas fisik sederhana yang dapat dilakukan di dalam ruangan.

Pengawasan tersebut penting agar penggunaan perangkat digital tetap memberikan manfaat untuk pendidikan tanpa membuat anak kehilangan waktu istirahat dan aktivitas lainnya.

7. Perhatikan Kondisi Psikologis Anak

Orang tua dapat membantu dengan memberikan rasa aman, mendengarkan keluhan anak, serta menjelaskan situasi berdasarkan informasi yang benar dan sesuai usia. Hindari membicarakan kondisi bencana secara berlebihan di depan anak dengan cara yang dapat meningkatkan kecemasan.

Jika anak mendapatkan dukungan emosional yang cukup, proses penyesuaian terhadap kegiatan belajar dari rumah diharapkan dapat berlangsung lebih baik.

Penerapan PJJ akibat kabut asap karhutla bukan berarti kegiatan pendidikan harus berhenti. Dengan kerja sama antara sekolah, guru, orang tua, dan anak, proses pembelajaran tetap dapat berlangsung sembari mengutamakan keselamatan dan kesehatan.

Dalam situasi bencana seperti karhutla, keselamatan anak menjadi prioritas utama. Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan perlindungan dari paparan asap, memiliki waktu istirahat yang cukup, tetap memperoleh pendampingan belajar, serta mendapatkan dukungan emosional selama menjalani aktivitas dari rumah. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.