Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
Peluang itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, dalam kegiatan pelatihan kopi yang diikuti sekitar 50 wartawan di Bengkulu.
Dalam pelatihan tersebut, para jurnalis tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kopi, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung berbagai teknik penyajian kopi.
Para peserta belajar membuat latte art, menyeduh kopi menggunakan metode V60, hingga melakukan tester atau pencicipan kopi.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga pemateri yang merupakan barista, yakni Nick, Bowo dan Arizon.
Wahyu mengatakan, dunia kopi terbuka bagi siapa saja, termasuk para jurnalis yang memiliki minat untuk mengembangkan usaha di sektor tersebut.
Baca juga: BI Bengkulu Ingatkan 3 Jangan agar Tak Jadi Korban Penipuan Digital
Menurutnya, wartawan yang sudah memiliki pengalaman maupun yang baru mulai mengenal dunia kopi sama-sama memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelatihan lanjutan dari BI.
"Kalau kopi itu terbuka buat siapa pun. Teman-teman yang sudah berkecimpung di kopi, silakan. Kita dorong lagi, kasih pelatihan lagi," kata Wahyu.
Ia menyebutkan, pelatihan kopi dapat dilakukan secara rutin dalam satu tahun. Karena itu, wartawan yang memiliki ketertarikan dan keseriusan di bidang kopi dipersilakan mengikuti pembinaan lanjutan.
Terlebih, peluang pembinaan akan semakin terbuka apabila peserta mampu menunjukkan keseriusan dan membangun usaha secara berkelompok.
"Sepanjang nanti kita melihat ada keseriusan, apalagi nanti bisa berkelompok dan seterusnya, itu bisa ikut dibina juga," ujarnya.
Selain pelatihan, BI Bengkulu juga berupaya membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha kopi melalui sinergi dengan perbankan.
Wahyu menjelaskan, keterlibatan perbankan diperlukan untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sektor kopi.
Akses pembiayaan tersebut tidak hanya menyasar petani kopi di sektor hulu. Pelaku usaha di sektor hilir, seperti barista dan pengolah kopi, juga dapat memperoleh kesempatan yang sama.
Bahkan, pembiayaan diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis kopi hingga kegiatan ekspor.
"Kemarin kita sudah mengundang perbankan. Tujuannya untuk mendekatkan bisnis matching antara perbankan yang punya uang untuk membiayai kredit dengan teman-teman UMKM, petani kopi, baik di hulu maupun di hilir, barista, termasuk nanti pembiayaan untuk ekspor," jelas Wahyu.
Wahyu menegaskan, kesempatan tersebut terbuka luas bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha di sektor kopi.
BI tidak membatasi calon pelaku usaha yang ingin mendapatkan dukungan, selama memiliki potensi dan kemauan untuk berkembang.
"Kita buka seluas-luasnya. Teman-teman yang belum pernah ke perbankan tidak perlu khawatir. Sepanjang punya potensi, pasti akan didukung. Punya kemauan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan," tegasnya.
Menurut Wahyu, pengembangan ekosistem kopi tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi.
Penguatan sumber daya manusia, kemampuan pengolahan, teknik penyajian, pemasaran hingga akses pembiayaan juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing kopi Bengkulu.
Karena itu, BI mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari petani, pelaku UMKM, barista, perbankan, pemerintah hingga kalangan jurnalis dalam membangun ekosistem kopi Bengkulu.
Dengan kolaborasi tersebut, kopi Bengkulu diharapkan tidak hanya semakin dikenal di tingkat nasional, tetapi mampu menembus pasar internasional.
"Betul, sampai kopi Bengkulu mendunia," pungkas Wahyu.