Abu Vulkanik Tajam dan Kasar, Ini Keluhan yang Bisa Muncul Usai Terpapar
Benedikta Desideria September 08, 2026 08:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik bukan sekadar debu atau abu biasa seperti yang ditemukan di kebun maupun lahan pertanian. Partikel yang dilepaskan saat erupsi terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang memiliki sifat sangat abrasif atau dapat mengiritasi jaringan tubuh.

Dengan bentuk abu vulkanik tajam dan kasar, bila terpapar ke mata atau saluran napas maka bisa mengiritasi seperti disampaikan dokter spesialis paru yang berdomisili di Lampung, Gigih Setiawan.

"Abu vulkanik itu di dalamnya ada fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat abrasif. Ada juga komponen seperti silika, aluminium, besi, mangan, dan magnesium,” ujar Gigih.

Gigih juga mengatakan ukuran partikel juga turut menentukan seberapa jauh abu dapat masuk ke saluran pernapasan. Semakin kecil partikelnya, semakin mudah partikel tersebut masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.

“Dosis dan durasi pajanan juga berpengaruh terhadap kondisi penyakit. Semakin kecil partikelnya, semakin mudah masuk ke saluran napas,” jelas Gigih dalam peringatan HUT Persatuan Dokter Paru Indonesia dipantau daring Selasa (8/9/2026).

Gigih mengatakan seseorang yang terpapar abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai keluhan akut diantaranya:

  • Hidung: hidung berair, iritasi, dan bersin.
  • Tenggorokan: rasa kering, nyeri tenggorokan, dan batuk kering.
  • Saluran pernapasan:  batuk berdahak, mengi, sesak napas, hingga dada terasa berat.
  • Sistemik:  pusing, sakit kepala, dan rasa lemas.

Tanda bahaya bila pasien mengalami sesak napas yang semakin berat, penurunan saturasi oksigen, mengi makin berat, batuk darah, nyeri dada, hingga pingsan.

 

Partikel abu vulkanik ketika di bawah mikroskop. (Foto: Tangkapan layar presentasi dokter Gigih Setiawan SpP(K) saat HUT PDPI 2026)
Partikel abu vulkanik ketika di bawah mikroskop. (Foto: Tangkapan layar presentasi dokter Gigih Setiawan SpP(K) saat HUT PDPI 2026)

Temuan di Ruang Praktik: Pasien Batuk Berdahak Hitam

Dokter spesialis paru yang berdomisili di Lampung, Gigih Setiawan tentang permasalah kesehatan warga usai terpapar abu vulkanik Anak Krakatau.
Dokter spesialis paru yang berdomisili di Lampung, Gigih Setiawan tentang permasalah kesehatan warga usai terpapar abu vulkanik Anak Krakatau.

Dari pengalaman di ruang praktik, Gigih mengungkapkan bahwa salah satu temuan yang didapatkan adalah pasien dengan batuk berdahak hitam atau berjelaga.

"Batuk seperti (dahak) warna kehitaman. Dan beberapa pasien yang mengeluhkan berasal dari (wilayah) Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, daerah yang pajanannya lumayan dekat (dengan Anak Krakatau)," tuturnya.

Pasien tersebut merasa tidak nyaman di dada, awalnya dahak berwarna bening lalu menghitam, kemudian ada tanda-tanda infeksi seperti demam.

Gigih pun menyarankan pada masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang muncul setelah terpapar abu vulkanik. Ia pun menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis paru untuk mendapatkan penanganan optimal.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.